oleh

PA Mamuju Putus 429 Kasus, Medsos Dominasi Biang Perceraian

MAMUJU — Angka perceraian di Kabupaten Mamuju sepanjang tahun 2020, cukup tinggi. Pengadilan Agama (PA) Mamuju telah memutus 429 kasus dari 684 permohonan yang masuk. Mayoritas pemicunya adalah media sosial (medsos).

Rinciannya cerai talak atau suami mengajukan cerai sebanyak 114 kasus dan cerai gugat alias istri yang mengajukan cerai sebanyal 315 kasus. Jumlah tersebut juga termasuk 35 kasus perceraian pasangan suami istri (pasutri) dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), diantaranya 25 kasus cerai gugat dan 10 kasus cerai talak.

Jika dirinci per bulan, perceraian pada Januari 77 kasus, Februari 40 kasus, Maret 23 kasus, April 20 kasus, Mei 14 kasus, Juni 54 kasus, Juli 50 kasus, Agustus 25 kasus, September 44 kasus, Oktober 38 kasus, November 33 dan Desember 19 kasus.

“Jumlah tersebut sudah termasuk kasus yang dicabut, ditolak dan digugurkan. Pasutri yang paling banyak mengajukan permohonan berasal dari Mateng (Mamuju Tengah, red),” kata Panitera PA Mamuju, Sudarno Senin 4 Januari 2020.

“Faktornya adanya kecemburuan di media sosial, faktor ekonomi, ditinggal beberapa lama untuk mencari nafkah namun tak kembali lagi. Kalau kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga, red) ada, tapi tidak terlalu,” tuturnya.

Sudarno menjelaskan, bagi ASN harus memiliki izin dari bupati atau gubernur serta sekretaris daerah. Lalu diproses di instansi kepegawaian dan inspektorat jika ingin mengajukan cerai di PA Mamuju.

“Kalau tidak ada surat izin atau bukti berita acaranya dari Inspektorat, kami tidak mau menerima atau kami pending untuk selesaikan dulu surat izinnya,” pungkasnya. (ade/ham)

Komentar

News Feed