oleh

Ombak Tinggi, Nelayan Paksa Melaut

MAKASSAR – Gelombang tinggi sedang melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Tidak terkecuali perairan sekitar Makassar.

Data yang dilansir di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, sebagian besar perairan Makassar dilanda gelombang tinggi. Rinciannya moderate sea (ketinggian gelombang 1,25 hingga 2,5 meter) terjadi di Selat Makassar bagian selatan.

Ombak Tinggi, Nelayan Paksa Melaut

Lalu Perairan barat Kepulauan Selayar, Perairan Sabalana, Teluk Bone bagian utara, Teluk Bone bagian selatan, Perairan timur Kepulaan Selayar, Laut Flores bagian utara, dan Laut Flores bagian barat. Rough Sea (ketinggian gelombang 2,5-4 meter) terjadi di Laut Flores bagian timur.

Prakirawan BBMKG Wilayah IV Makassar, Re’kun Matandung mengatakan, gelombang tinggi tersebut diprediksi akan terjadi hingga tiga hari ke depan. Bahkan berpotensi hingga sepekan.

Hal tersebut akibat Februari masih masuk musim hujan untuk wilayah Sulsel. Curah hujan diperkirakan mulai dari ringan hingga sedang. Namun khusus untuk di laut bisa sering berubah-ubah dengan cepat.

Tidak sampai di situ saja, kecepatan angin juga terbilang cukup kuat. Angkanya berkisar 10 hingga 40 km/jam, sehingga cukup berbahaya untuk kapal berukuran kecil.

“Sebelum melaut sebaiknya perhatikan informasi cuaca. Pasalnya kini sudah masuk musim hujan sehingga kondisi cuaca bisa berubah dengan cepat,” kata Re’kun, Minggu 21 Februari.

Re’kun menuturkan nelayan harus meningkatkan kewaspadaan jika ingin melaut. Cek semua perlengkapan keselamatan sebelum berangkat.

“Kami himbau untuk nelayan lebih waspada terhadap tinggi gelombang khususnya bagi nelayan dengan kapal konvensional,” ujarnya sepert dikutip dari Harian Fajar (Fajar Indonesia Network Grup).

Kabid Keselamatan Berlayar Kesyabandara Utama Makassar, Triono mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran untuk kapal tradisional dan perikanan agar berhati-hati. Pasalnya ada peningkatan gelombang yang cukup tinggi hingga 24 Februari mendatang.

Himbauan tersebut telah dikelurkan sejak pertengahan Februari lalu. Tingginya curah hujan tidak hanya berpengaruh pada gelombang semata namun juga jarak pandang saat berada di laut. Meski demikian pihaknya belum mengeluarkan adanya larangan berlayar.

“Ini baru himbauan saja. Namun jika membahayakan akan ada larangan yang dikeluarkan,” akunya.

Salah seorang Nelayan, Umar membenarkan terjadinya gelombang tinggi beberapa hari terakhir ini. Namun dia tetap memaksakan untuk melaut.

“Mau diapa, saya tetap harus melaut. Tetapi tidak jahu ki ini melaut, takut ki juga, karena cuaca di laut gampang berubah,” kata pria asal Galesong saat ditemui di Pelabuhan Rakyat Paotere kemarin.

Hal serupa juga disampaikan oleh Hamsah. Nelayan yang bertugas sebagai nahkoda tersebut mengatakan gelombang tinggi sudah terjadi sejak tiga hari terakhir ini. Kebanyakan gelombang terjadi pada malam hari.

“Kalau tidak melautki tidak ada yang bisa dikerja. Jadi kita hati-hati saja dan jangan paksa jika cuaca lagi jelek (hujan deras),” tambahnya. (edo/iad/fin)

Komentar

News Feed