oleh

Obrolan Imajiner dengan Rosihan Anwar

-Kolom-1.378 views

MALAM semakin larut di Topoyo, saya masih mencoba mencari akses agar dapat berkunjung ke dunia literasi.

Ingin menemui salah satu tokoh pers nasional ternama, Rosihan H. Anwar. Tokoh pers empat zaman: penjajahan Jepang, orde lama, orde baru hingga era reformasi.

Mumpung beberapa hari lalu Radar Sulbar, surat kabar kecintaan masyarakat Sulbar berulang tahun. Momen tepat untuk mengulas dunia jurnalistik. Siapa tahu dari obrolan imajiner saya dengan Pak Ros (panggilan akrab Rosihan H. Anwar), ada manfaatnya bagi teman-teman wartawan.

Di teras referensi Pak Ros dan saya berjumpa. Saling memberi salam, lalu memulai obrolan. Jujur saya agak gugup kali ini, karena yang saya ajak obrol bukan orang biasa, tapi mahagurunya para jurnalis.

Maka saya pun siapkan daftar pertanyaan yang sudah duluan saya catat di notes saya, sebagai pengingat kalau-kalau saya lupa apa yang ingin saya tanyakan.

Saya: sebelum jauh membahas dunia pers, bolehkah pak Ros menceritakan pengalamannya ketika masih aktif sebagai jurnalis?

Pak Ros: saya memulai karir sebagai wartawan di masa penjajahan Jepang. Waktu itu saya menjadi reporter Asia Raya (1943-1945). Saya juga menjadi Redaktur harian Merdeka (1945-1946).

Kemudian bersama teman-teman, kami merintis majalah Siasat (1947-1957), dimana saya ditunjuk menjadi pimpinan redaksinya (pemred). Setahun kemudian saya mendirikan Harian Pedoman yang eksis hingga 1974.

Sejak 1976, saya juga menjadi koresponden di berbagai media asing. Dari tahun 1983, saya menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat hingga 14 April 2011.

Komentar

News Feed