oleh

Novri Divonis 13 Tahun Penjara, Keluarga Korban Tak Terima

POLMAN – Terdakwa kasus pembunuhan mayat dalam karung dijatuhi hukuman penjara 13 tahun oleh majelis hakim Peradilan Militer (Dilmil) III-16 Makassar dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Polewali, Kamis (5/12). Putusan tersebut lebih berat dibanding tuntutan oleh auditor militer selama 12 tahun.

Selain hukuman penjara, Serda Novri juga dipecat dari keanggotaan TNI. Putusan tersebut dibacakan Ketua Majelis Hakim Peradilan Militer (Dilmil) III-16 Makassar Letkol CHK Fredy Ferdian. Meski terdakwa sudah mengabdi pada negara selama 24 tahun dan bertugas operasi militer tiga kali, terdakwa tetap divonis penjara 13 tahun sesuai vonis hakim.

Hasil pembacaan putusan vonis Serda Novri mendapat penolakan dari pihak keluarga korban pembunuhan Jayanti Mandasari. Mereka menganggap hukuman yang diberikan terdakwa terlalu ringan dibandingkan perbutaannya. Bahkan sejumlah keluarga korban berontak usai persidangan karena tidak terima dengan putusan hakim militer Makassar.

Sidang putusan berakhir ricuh, keluarga dan kerabat korban yang mengikuti persidangan tidak terima dengan hasil putusan yang dibacakan oleh ketua hakim militer Letkol CHK Fredy Ferdian. Padahal putusan yang ditetapkan oleh majlis sidang sudah lebih dari tuntutan auditor militer yang menuntut terdakwa 12 tahun penjara namun hakim ketua menjatuhkan hukuman 13 tahun penjara.

Kericuhan tersebut berlanjut hingga keluar sidang. Keluarga korban berteriak meminta agar pelaku diperhadapkan dengan mereka. “Ini tidak adil, harusnya pelaku dihukum mati karena perlakuannya pada korban sangat keji dan tidak manusia. Kami ingin pelaku juga mendapat hukuman mati,” teriak sejumlah anggota keluarga korban pembunuhan.

Usai persidangan, Hakim Ketua Letkol CHK Fredy Ferdian menyampaikan sidang ini terbuka secara umum dari awal hingga akhir dan masyarakat dari korban juga hadir dan sebagian jadi saksi. Pertimbangan majelis berdasarkan fakta persidangan tentunya dengan memperhatikan tuntutan auditor militer, pembelaan dari penasehat hukum dan fakta yang melingkupi diri terdakwa.

“Kami menilai putusan itu adil dan seimbang, auditur sebagai wakil dari negara mewakili dari pihak korban menuntut 12 tahun penjara. Sehingga kami pertimbangkan disitu namun ada cara terdakwa yang keji dan adapula yang memeringankan terdakwa,” terang Letkol CHK Fredy.

Terdakwa menyerahkan diri dan jujur mengakui perbuatannya dan tidak mempersulit dalam persidangan.  (arf/rs)

Komentar

News Feed