oleh

Nanas Pamboang Jadi Perhatian Pengunjung Expo

MAJENE–Nenas Pamboang, Majene, yang dipamerkan pada even tahunan Apkasi Otonomi Expo 2019 (AOE) 2019, banyak menyita perhatian pengunjung. Ukuran nanas Pamboang ini lebih besar dari nanas biasanya itu, hingga tak heran, jika banyak dilirik para pengunjung expo.

Kepala Dinas Pertanian Majene, Burhan Usman, usai mengikuti penutupan AOE di gedung Convention Centre, Jumat 5 Juli, mengatakan dari sembilan unggulan komoditi pertanian yang dipamerkan, Nanas Pamboang yang paling dilirik pengunjung. “Umumnya mereka mengaku tertarik dengan ukuran nanas yang lebih besar,” jelasnya Burhan, via telepon.

Pameran produk unggulan daerah yang kali kedua diikuti Majene, kata Burhan, juga menampilkan Sarung Sutra, dan beberapa kerajinan lain. Tak terkecuali ikan terbang (Tuingtuing), dan hasil olahan laut dan pertanian. “Termasuk varietas unggulan Loka Pere (Pisang,red) juga kita pamerkan disana,” ungkapnya.

Menurut Burhan, Nanas Pamboang selama ini dikembangkan di Desa Betteng. Karena buahnya manis dan berukuran jumbo, sehingga banyak dicari orang. “Tanaman ini sudah mendapatkan hak paten dari pusat. Sama seperti ‘Loka Pere’ sudah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian,” terang Burhan.

Mantan Camat Ulumanda ini, menjelaskan pula, dari hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropik Kementerian Pertanian, Nanas Pamboang dinyatakan terbaik kedua di Indonesia. “Kita kedua setelah Kabupaten Subang, Jawa Barat,” katanya.

Selama mengikuti pameran, menurut Burhan, Majene mendapatkan tawaran kerjasama dengan beberapa perusahaan. Salah satunya, perusahaan selai yang memproduksi bahan campuran roti. Ada juga pengusaha yang akan membantu meningkatkan SDM di Majene. “Yang ini akan fokus pada peningkatan produk hasil kerajinan turunan dari bahan kelapa. Sebab ternyata turunan kelapa ada 1.600 macam. Tapi hanya kopra dan minyak yang dikelola di Sulbar,” paparnya.

Bupati Majene Fahmi Massiara mengapresiasi para OPD yang turut menyukseskan AOE 2019. Kata dia, even yang dibuka pada 3 Juli itu, sangat baik diikuti karena bisa merepresentasikan potensi yang dimiliki. Kesempatan kali ini, Majene memamerkan berbagai produk khas daerah. Seperti sarung sutera, gula merah, souvenir ‘sandeq’ perahu khas suku Mandar, kerajinan tangan, kue-kue hingga berbagai hasil pertanian. “Ini adalah kolaborasi yang baik dari semua OPD,” katanya.

Dijelaskan, keikutsertaan Majene yang pertama, di BSD Tanggerang tahun 2018, produk yang ditampilkan dibawa ke Kamboja untuk mengikuti pameran lanjutan disana. Tahun ini, Fahmi menginginkan agar Majene menonjolkan produk khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

Salah satu potensi yang cukup menjanjikan adalah bawang putih. Boleh dikata pengembangan bawang putih terbesar di Sulawesi Barat. Karena kondisi alam Majene yang berbukit memenuhi syarat untuk tanaman tersebut. “Bisa tumbuh dengan baik karena harus ditanam pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut,” jelasnya.

Staf Kominfo Majene Samad, menambahkan, pameran bertaraf nasional itu dihadiri beberapa pejabat negara. Diantaranya kedutaan Belarusia Denis Ledyan dan Kedutaan Maroko. Sedang, jumlah kepala daerah yang ikut sebanyak 377 kepala daerah, termasuk Bupati Majene dan Polewali Mandar. (kdr)

Komentar

News Feed