oleh

Nahi Munkar

-Kolom-1.113 views

NAHI MUNKAR bukan hanya tanggungjawab pendakwah, tetapi juga tanggungjawab setiap orang untuk melarang dan mencegah terjadinya kemunkaran dan kerusakan dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai lawan dari frasa amar makruf, Nahi Munkar mesti selalu ada dalam kehidupan manusia. Kemunkaran yang terjadi dan masih marak terlihat boleh jadi belum atau mungkin sama sekali tidak ada orang yang menyampaikan dan mencegahnya.

Mencegah kemunkaran itu terjadi jauh lebih diutamakan dilakukan sebelum kemunkaran itu merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Nabi Muhammad saw bersabda “Bila Engkau melihat (atau mendeteksi akan ada potensi kemunkaran terjadi) maka rubahlah (kepada kebaikan dan cegahlah agar tidak lebih banyak merusak) dengan kekuasaan yang Engkau miliki.

Bila engkau tidak memiliki kuasa dan kekuasaan untuk mencegahnya lebih merusak, maka cegahlah dengan lisan (atau tulisanmu) kemunkaran itu. Kalaupun engkau masih belum mampu juga untuk mencegahnya dengan lisanmu, maka cegahlah dalam hati (setidaknya engkau sangat tidak setuju dengan kemunkaran itu)”, namun sikap yang terakhir ini dinilai Rasulullah saw sebagai sikap yang dimiliki oleh orang yang paling lemah imannya.

Nahi Munkar mesti selalu dilakukan sebagai upaya mencapai kedamaian hakiki di dalam kehidupan. Kedamaian hanya akan terwujud dalam kehidupan masyarakat bila kemunkaran sudah tidak ada lagi. Kendatipun meniadakan kemunkaran itu sama sekali mustahil dapat dilakukan, namun setidaknya mengurangi dan menekan jumlahnya.

Sudah menjadi informasi umum bahwa dimana kemunkaran itu marak terjadi, maka kedamaian susah terwujud. Sebaliknya, dimana kemunkaran itu melandai bahkan hampir tidak ada maka mudah mewujudkan kedamaian. Nahi Munkar merupakan tugas dakwah yang cukup berat karena melawan musuh nyata yaitu manusia itu sendiri yang memperturutkan nafsu ammarah bissui (nafsu jahatnya) dan melawan musuh tak nyata yaitu setan yang merasuk di dalam diri manusia.

Di dalam diri manusia ada kekuatan yang secara terus menerus saling menjatuhkan dan mengalahkan yaitu kekuatan bahimiyyah (kekuatan negatif) yang selalu menyeret manusia untuk melakukan kemunkaran.

Berikutnya, kekuatan malakiyyah (kekuatan positif) yaitu kekuatan yang ada dalam diri manusia yang selalu menggiring manusia untuk berbuat baik dan menciptakan kedamaian dalam kehidupan masyarakat.

Nahi Munkar mesti lebih agresif dilakukan untuk tidak memberi kesempatan kekuatan negatif merusak manusia dan kehidupannya.

Nahi Munkar adalah syarat untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur. Ibarat membangun sebuah gedung dengan susah payah yang membutuhkan waktu, dana dan energi manusia, maka untuk menjaga dan melestarikannya dibutuhkan dakwah nahi munkar sebagai upaya mencegah agar kemunkaran (merusak bangunan itu) tidak terjadi.

Dapat dikatakan bahwa Nahi Munkar adalah tugas abadi sampai akhir hayat manusia. Selama hayat di kandung badan, nahi munkar pun tetap dilakukan hingga jasmani berkalang tanah. (***)

Komentar

News Feed