oleh

Mutasi Covid-19 N439K, Lebih Bahaya Mana dengan B117 dan Aslinya?

JAKARTA – SARS-CoV-2 dapat bermutasi menjadi berbagai versi. Semula, virus aslinya muncul di Wuhan, Tiongkok, lalu belakangan muncul menjadi mutasi D614G yang menyebar ke berbagai negara. Kemudian muncul lagi mutasi baru yakni mutasi dari Inggris B117 dan juga dari Afrika Selatan.

Kini ramai lagi muncul mutasi lain yakni N439K yang muncul dari Skotlandia. Apa bedanya? Mana yang lebih berbahaya?

Dalam penelitian MRC-University of Glasgow Centre for Virus Research, University of Glasgow, Glasgow G61 1QH, Inggris, Department of Clinical Research, London School of Hygiene and Tropical Medicine, London sudah meneliti varian virus ini. Dikhawatirkan setiap mutasi virus bisa mempengaruhi dan menghindari kekebalan untuk kemanjuran vaksin yang muncul dan terapi antibodi.

Peneliti menemukan mutasi N439K memberikan resistensi terhadap beberapa antibodi monoklonal, termasuk vaksin atau obat yang diizinkan untuk penggunaan darurat oleh Food and Drug Administration (FDA) AS.

N439K mempengaruhi ikatan terhadap reseptor ACE2 di sel manusia lebih kuat, dan tidak dikenali oleh polyclonal antibody yang terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi. Karena bersifat resisten, varian ini juga menunjukkan beberapa resistensi terhadap antibodi yang diambil dari pasien yang telah pulih dari virus.

“Mutasi ini mempengaruhi kekebalan sehingga kami menyoroti perlunya pengawasan molekuler untuk memandu pengembangan dan penggunaan vaksin dan terapi,” kata peneliti seperti dilansir dari laman Science Direct, Minggu 14 Maret 2021.

Awalnya perubahan asam amino SARS-CoV-2 mutasi D614G sempat dominan di sebagian besar tempat di seluruh dunia pada 2020. Meski begitu saat ini varian baru terus bermunculan, terakhir N439K.

Apa bedanya dengan Versi B117 dan Versi Wuhan?

Ahli Spesialis Penyakit Dalam yang juga Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban menjelaskan virus Korona memang seperti juga virus lain selalu bermutasi. Mutasi tersebut suatu saat akan mengalami mutasi yang domian.

“Jadi misalnya dulu virusnya virus Wuhan kemudian mutasi virus sekarang ini di sleuruh dunia mutasi dari virus lama. Akhir-akhir ini ada 2 lagi yakni dari Inggris dan Afrika Selatan,” katanya, baru-baru ini.

Bedanya dengan virus Covid-19 asli, kata dia, mutasi ini merupakan virus yang mutan di saluran napas. Sehingga menyebabkan produksi jumlah virus jauh lebih banyak lebih intens.

“Untungnya tak menyebabkan kegawatan berlebihan dibanding yang lama tak menyebabkan kematian yang tinggi,” tegasnya.

Lalu, apakah lebih berbahaya?

Dalam konteks penyebaran, kata Zubairi, versi ini memang lebih cepat menyebar. Artinya, tentu lebih berbahaya.

“Maka ada kemungkinan jumlah kasus harian kita akan segera bertambah bila virus varian Inggris ini menjadi dominan. Tapi apakah akan mengakibatkan kematian dan kegawatan lebih tinggi dari yang lama, tidak benar. Tidak menyebabkan kematian yang fatal,” tegasnya.

Zubairi menjelaskan soal kaitan mutasi Covid-19 dengan orang yang menjadi super spreader. Dia menjelaskan, mutasi itu tak terkait dengan seseorang menjadi super spreader. Namun virus yang muncul menjadi jauh lebih banyak.

“Bukan super spreader atau orang menular ke banyak orang. Namun dari saluran napas itu virus menumpang untuk produksi. Kan virus ini adalah makhluk Tuhan yang baru bisa berkembang biak banyak melalui sistem mekanisme yang ada di tubuh manusia. Jadi itu pada B117 ini, virus yang muncul akan jauh lebih banyak,” jelasnya.

“Karena itu menyebabkan penularan lebih cepat. Untungnya tak menyebabkan kegawatan berlebihan dibanding yang lama dan tak menyebabkan kematian yang tinggi,” kata Zubairi.

Shedding atau pelepasan virus mengacu pada pengusiran dan pelepasan keturunan virus setelah reproduksi yang sukses selama infeksi sel inang. Setelah replikasi telah selesai dan sel inang kehabisan semua sumber daya untuk membuat keturunan virus, virus dapat mulai meninggalkan sel dengan beberapa metode. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada pelepasan dari satu sel, keluar dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya, dan keluar dari tubuh ke lingkungan di mana virus dapat menginfeksi tubuh lain.

“Tapi apakah akan mengakibatkan kematian dan kegawatan lebih tinggi dari yang lama, tidak benar, tidak sebabkan kematian yang berat,” tegasnya. (jpg)

Komentar

News Feed