oleh

Musibah yang tak Disadari

MUSIBAH yang sangat ringan yang tampak di depan mata. Tapi, musibah yang sangat besar adalah yang tidak tampak di depan mata.

Begitulah wejangan Sang Sufi Hasan al-Bashri terhadap seseorang yang mengaku selama ini tak pernah mendapat musibah dalam hidupnya.

Musibah yang tak Disadari

Boleh jadi ada orang yang seperti di atas yang merasa selama ini dalam hidupnya adem-adem saja tanpa merasa pernah mendapat musibah.

Dia merasa bahwa segala musibah; semisal gempa, banjir bandang, kebakaran, kerampokan, kegagalan dan lainnya selalu menjauh darinya sehingga tak pernah tersentuh berbagai musibah itu.

Padahal musibah itu bukan hanya yang tampak di depan dan terdengar di telinga, tetapi justru sejumlah musibah nyaris menimpanya setiap hari bahkan setiap saat tanpa dia sadari.

Hari-harinya dalam sepekan lewat begitu saja tanpa baca quran sedikitpun sementara waktu terus bergulir tanpa pernah mau kompromi dengan umur kita. Setiap kali dia munajat salat tanpa pernah merasakan nikmat dan manisnya salat khusyuk sembari berkomunikasi dengan Allah swt.

Malam-malamnya berlalu percuma tanpa serakaatpun tahajud. Lidahnya amat berat untuk melafalkan zikir seolah lidah dan bibirnya tersumbat. Hasrat dan cintanya pada harta dan keinginan duniawi lainnya begitu menggebu tak terkendali.

Nyaris seluruh waktunya 24 jam sehari-semalam habis hanya untuk memenuhi hasratnya pada harta dan urusan duniawi yang meninakbobokkan.

Salat magrib dikerjakan jelang masuk waktu Isya, salat Ashar ditunaikan di awal waktu Magrib dan salat Zuhur dilaksanakan di akhir waktu. Selain itu untuk menjadi orang taat terasa amat berat apalagi konsisten pada ketaatan.

Baca Alquran kapan waktu saja, bangun salat subuh terasa amat berat laksana tidur di sebuah istana nan indah dan sejuk sehingga mata tak mau terbuka menikmati tidur. Namun demikian, lisannya begitu mudah mengumpat dan menggibah orang. Lisannya amat fasih mengurai kalimat dusta dan langkahnya memprokosi jahat orang teramat ringan.

Begitu tiba musim-musim kebaikan semisal Ramadhan, Syawal, 10 Muharram, Hari Asyura dan lainnya berlalu bak angin tanpa diisi dan dimanfaatkan sedikitpun untuk beramal sebanyak mungkin. Itulah musibah yang sesungguhnya yang tak pernah kita sadari. Musibah yang tak tampak di mata tapi ternyata menimpa kita saban hari.

Tak terasa musibah-musibah itu datang pada hidup kita dan menghabiskan umur dalam ketiadaan arti. Umur terus bertambah dari hari kehari seiring musibah-musibah itu juga bertandang dalam hidup.

Pantas seorang Sufi saat memasuki umur 70 tahun pernah berkata bahwa umur saya baru 10 tahun. Karena baru kurang lebih 10 tahun dia merasakan nikmatnya salat, mudahnya lidah berzikir dan ringannya tangan bersedakah serta ringannya kaki melangkah salat berjamaah.
Waspadalah dari musibah yang tak tampak itu ! (***)

Komentar

News Feed