oleh

Minyak Dunia Terus Naik, Pertamina Tertekan Harga BBM

JAKARTA – Harga minyak naik untuk hari kelima beruntun, Senin, dengan Brent berada di level tertinggi sejak Oktober 2018 dan menuju USD80 di tengah kekhawatiran seputar pasokan karena melonjaknya permintaan di beberapa belahan dunia seiring pelonggaran pembatasan pandemi.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melesat USD1,15 atau 1,5 persen menjadi USD79,24 per barel pada pukul 15.00 WIB, setelah membukukan kenaikan tiga minggu berturut-turut, demikian laporan Reuters, di London, Senin (27/9/2021).

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melejit USD1,07, atau 1,5 persen, menjadi USD75,05 per barel, mendekati level tertinggi sejak Juli, setelah meningkat untuk pekan kelima berturut-turut minggu lalu.

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Sebab, produsen BBM di Indonesia, yaitu PT Pertamina (Persero) tak kunjung menaikkan harga jual BBM mereka meski kompetitor Pertamina, yakni Shell, Vivo dan BP sudah sejak awal tahun merevisi harga jual BBM mereka.

“BBM Pertamax dan Pertalite Pertamina harusnya bisa direvisi (harganya) karena sudah cukup lama, sejak tahun 2020 tidak ada penyesuaian. Ternyata harga minyak kan sekarang sudah jauh diatas harga tahun 2020 ya. Untuk Pertamax itu kalau menurut perhitungan saya sudah mengalami kerugian hampir Rp3.000 per liter,” ungkap Mamit kepada Fajar Indonesia Network (FIN), saat dihubungi, Senin (27/9/2021).

Terlebih harga Pertalite sebagai BBM favorite masyarakat Indonesia saat ini, harganya terpaut sangat jauh dengan Pertamax. Padahal menurutnya jika dihitung dengan skala keekonomian, seharusnya harga Pertamax dengan Pertalite hanya terpaut maksimal Rp500 per liter.

“Jadi saya kira ya sudah saatnya. Maksudnya untuk BBM jenis ini kan harganya ditentukan oleh badan usaha. Jadi harusnya gak ada masalah kalau Pertamina mau menaikkan harga untuk jenis Pertamax dan Pertalite,” tuturnya.

Diakui Mamit, Pertamina menciptakan Pertalite dengan tujuan agar masyarakat berpaling dari penggunaan Premium ke Pertalite sebagai BBM yang kualitasnya lebih baik. Namun dengan kondisi saat ini, dimana harga Pertamax dengan Pertalite terpaut terlalu jauh, maka hal ini jelas membebani Pertamina, karena konsumsi Pertalite di Indonesia saat ini cukup tinggi.

“Kalau mau simple, bisa dibandingkan dengan harga BBM pada SPBU Swasta, dari situ terlihat jauh perbedaannya. Padahal SPBU Swasta itu menjual BBM dengan harga keekonomiannya,” pungkas Mamit.

Sebagaimana diketahui, harga minyak dunia saat ini berada di jalur kenaikan karena pasar menilai dampak gangguan pasokan yang berkepanjangan dan kemungkinan penarikan cadangan yang akan diperlukan untuk memenuhi permintaan kilang. Beberapa gangguan dapat berlangsung selama berbulan-bulan dan telah menyebabkan penarikan tajam persediaan minyak AS dan global. (git/fin)

Komentar

News Feed