oleh

Mestikah Masjid Ditutup Rapat ?

“Apakah setelah keluarnya imbauan MUI Pusat, provinsi dan kabupaten tentang penutupan masjid dari kegiatan ibadah untuk sementara dalam masa penanganan Covid-19, lalu masjid benar-benar ditutup rapat tanpa aktivitas sedikitpun ?”

Tentu, tidak. Lalu bagaimana menjelaskannya bahwa masjid tidak ditutup rapat dari aktivitas ?

Begini, kita coba melakukan riset sederhana, mengapa kemudian MUI pada semua level sependapat untuk menutup sementara masjid dari semua kegiatan ibadah salat berjamaah.

Menurut Jusuf Kalla sebagai ketua DMI (Dewan Masjid Indonesia) bahwa jumlah masjid terbanyak di dunia ada di Indonesia yaitu sekira 800.000 sedikit lebih banyak daripada data Kementerian Agama yang hanya 500.000-an.

Bahkan masih menurut Jusuf Kalla, ada juga yang mengatakan 1 jutaan. Karena belum validnya data masjid yang memang pendiriannya sangat dinamis hingga Jusuf Kalla berseloroh “untuk pastinya berapa jumlah masjid di Indonesia hanya Tuhan yang tahu”.

Jumlah itu belum termasuk mushallah-mushallah kantor, lembaga Pendidikan, pasar, sekolah, pelabuhan, terminal, dan tempat-tempat publik lainnya. Nah data mana yang kita pakai untuk meriset ?

Kita pakai data yang tengah-tengah saja antara 800 ribu dan hanya Tuhan yang tahu yaitu 1 juta masjid. Jumlah penduduk muslim di Indonesia sekira 180 juta.

Jumlah 180 juta penduduk muslim dibagi 1 juta masjid maka diperoleh data bahwa pada setiap 180 muslim terdapat 1 masjid. Jumlah 180 orang ini termasuk bayi, remaja hingga dewasa. Katakanlah yang ikut salat jamaah hanya sekira 50 orang.

Jika salah satu saja di antara mereka yang terinfeksi Covid-19 maka bisa menyebar ke 49 lainnya dan seterusnya seperti yang terjadi di salah satu asrama pendidikan polisi.
Di asrama tersebut setelah dilakukan rapid test ditemukan sekira 300 orang yang terindikasi positif.

Kendatipun itu masih indikasi belum positif, tapi ada pelajaran penting yang bisa dipetik bahwa mereka saja yang diasramakan tidak kemana-mana masih bisa saja tertular apalagi jamaah masjid yang keluar masuk entah darimana.

Inilah salah satu alasannya kenapa lembaga-lembaga pendidikan dan tempat publik lainnya termasuk masjid ditutup.

Yang jadi ditutup pada masjid itu adalah fungsi individunya bukan fungsi sosialnya.
Masjid justru harus tampil memerankan fungsi sosialnya yaitu menjadi tempat penampungan sembako dari para jamaahnya yang berada yang dipersiapkan untuk mereka yang terdampak langsung penanganan covid-19.

Masjid sudah punya data valid sebagaimana data mustahiq zakat masyarakat mana yang layak dapat bantuan selama kebijakan pembatasan sosial di era Korona ini.

Jadi masjid harus tetap buka untuk memerankan fungsi-fungsi sosialnya yaitu memastikan jamaahnya yang terdampak langsung akibat kebijakan penanganan covid-19 ini.

Artinya, masjid jangan ditutup rapat. (***)

*catatan: Husain Alfulmasi

Komentar

News Feed