oleh

Mesa Kanneq

PASIUPPIQMI cinnata (Tautkanlah rasa cinta kita), Pasituyuq pulimi (Ikat simpul gandakanlah), Tattaq sikolliq (Tetap saling mengikat), Tattaq matettes (Tetap dalam ikatan yang makin kuat)

Untaian kata di atas, saya kutip dari bait lagu berjudul Ganda Dewata, di buku Mesa Kanneq yang merupakan buku kumpulan lagu-lagu daerah Mandar, karya Suparman Sopu. Dua minggu lalu Beliau mengirimkannya ke saya.
Bagi saya, bukunya tidak hanya sekedar berkaitan dengan musik, namun juga erat kaitannya dengan bahasa daerah sebagai simbol jatidiri.

Mesa Kanneq

Apalagi, sejak pertama menginjakkan kaki di Majene, saya sering mendengar teman-teman staf UT Majene yang menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi. Rasanya tak asing di telinga. Karena ada beberapa kosa kata yang mirip dengan bahasa Wolio (Buton), daerah asal saya.

Contohnya: tujuh (pitu), sayap (pani), ayam (manu), muda (mangura), ikan pogot (Mandar: poge; Wolio: pogo), kelomang (Mandar: kalaumang; Wolio: kolouma), tiga (Mandar: tallu; Wolio: talu), makan (Mandar: ummande; Wolio: kande), laki-laki (Mandar: tomuane; Wolio: umane), perempuan (Mandar: towaine; Wolio: bawine).

Saat saya ceritakan ke orang tua tentang kemiripan beberapa kosa kata tersebut, mereka justru tak heran. Karena menurut mereka (sebagaimana diceritakan secara turun temurun), bahwa pada awalnya suku Mandar, Buton, Bugis, Makassar dan Banggai, memang merupakan satu rumpun, satu nenek moyang, yakni berasal dari Luwu. Benar tidaknya saya tidak tau. Mungkin akan menarik jika ada ahli sejarah di daerah masing-masing mau menelitinya lebih jauh. Atau boleh jadi sudah ada yang meneliti, namun belum sempat saya baca.

Sayangnya di sekolah anak saya, tidak ada pelajaran muatan lokalnya yang mempelajari tentang bahasa Mandar. Semoga kelak, bisa menjadi perhatian Pemda Majene. Karena mempelajari bahasa daerah, maka generasi kita dengan sendirinya akan mampu melestarikannya.

Hasil penelitian Prof. Gufran Ali Ibrahim, Guru Besar Universitas Khairun Ternate, pada tahun 2009 di kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, menunjukkan bahwa di kecamatan tersebut yang masih bisa menggunakan bahasa daerah hanya 6 orang. Itupun sudah berusia sepuh. Lainnya (terutama anak-anak dan remaja), sudah menggunakan bahasa melayu Ternate sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Bahkan hasil penelitian terakhir yang dilakukan oleh Imelda (2017), pengguna bahasa daerah di kecamatan Ibu hanya berjumlah 3 orang, sehingga jika tak dilestarikan kembali, maka tak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan akan punah.

Fenomena anak yang sudah kurang pandai bertutur bahasa daerahnya juga saya rasakan saat ke Buton. Banyak saudara dan anak-anak kerabat yang sudah tidak fasih lagi berbahasa Wolio.

Mereka lebih sering berbahasa Melayu Buton yang digunakan sehari-hari dalam berkomunikasi, baik di dalam rumah maupun di pergaulan sesama teman. Apakah ini hanya terjadi di keluarga saya atau juga terjadi di kalangan lainnya, saya tidak bisa memastikannya.

Namun beberapa waktu lalu, salah seorang kerabat menyampaikan bahwa kini Walikota Bau-Bau sudah mengeluarkan Surat Edaran tentang penggunaan bahasa Wolio dalam aktifitas pelayanan publik. Dimana, setiap Rabu, pegawai wajib menggunakan bahasa Wolio di kantor, baik dalam berkomunikasi sesama pegawai maupun dalam melayani masyarakat.

Suatu waktu, saya pernah komplen ke dosen karena saya tidak paham apa yang dikatakannya. Namun sang dosen justru menasehati saya, bahwa belum sah tinggal di Surabaya jika belum bisa berbahasa Jawa. Akhirnya saya pun mencoba menyesuaikan. Walaupun sulit berbahasa Jawa, namun satu dua kata dapat saya pahami artinya, sehingga dapat menyesuaikan diri dalam setiap perkuliahan.

Dari pengalaman di Surabaya itulah, saya mendapat satu pelajaran penting, yakni banggalah dengan bahasa daerahmu. Karena itu adalah identitasmu. Karena itulah kekayaan bangsamu yang harus dilestarikan. Karena tanpa adanya bahasa daerah tak akan ada Bhineka Tunggal Ika.

Terimakasih Pak Suparman Sopu, atas hadiah spesialnya. Dari buku yang engkau kirimkan, saya tidak hanya sekedar belajar lagu daerah Mandar, namun lebih luas lagi yakni semakin paham akan identitas diri.

Di pitu Baqbana binanga (Pada tujuh kerajaan yang ada di muara), Di pitu ulunna salu (Pada tujuh kerajaan yang ada di hulu), Siama-amaq (Bersatu padu), Mesa kanneqi tau (Kita berasal dari satu nenek/turunan). (***)

Komentar

News Feed