oleh

Menyoal Tahu dan Tempe

Awal tahun 2021, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kelangkaan kedelai yang mengakibatkan melonjaknya harga kedelai di pasar.

Oleh: Septika Dwi Haryati, S.ST, (Statistisi Pertama BPS Polewali Mandar)

Menyoal Tahu dan Tempe

Hal ini mengakibatkan produksi tahu dan tempe sebagai salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi penduduk Indonesia mengalami penurunan.

Meroketnya harga kedelai ini dikarenakan terjadi lonjakan permintaan kedelai global, utamanya oleh negara China yang menaikkan volume impornya untuk mengamankan stok kedelai menjelang Hari Raya Imlek.

Hal ini diperparah juga dengan anjloknya suplai kedelai dunia, dikarenakan fenomena La Nina di Brazil sebagai penghasil utama kedelai.

Selama bertahun-tahun, Indonesia menggantungkan kebutuhan kedelai nasional lewat keran impor. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), untuk periode Januari sampai Oktober tahun lalu saja Indonesia mengimpor 2,11 Juta ton kedelai. Dimana 90 persennya berasal dari Amerika Serikat.

Hal ini menunjukkan, cita-cita Indonesia untuk swasembada pangan kedelai masih jauh panggang dari api. Padahal Presiden Indonesia Joko Widodo pada saat terpilih kembali di tahun 2014 pernah berjanji akan mewujudkan swasembada kedelai Indonesia dalam tiga tahun sejak terpilih. Bahkan, mengancam akan mengganti menteri pertaniannya jika hal itu tidak tercapai. Namun nyatanya, hingga tahun 2020 selesai, Indonesia masih menjadi importir kedelai.

Data Organisasi Pangan Dunia (FAO) menunjukkan selama lima tahun terakhir, rata-rata konsumsi kedelai Indonesia berkisar di angka 3,2 juta ton per tahun. Dimana 2,67 ton diperoleh dari hasil impor dari negara lain.

Ketergantungan atas impor ini membuat Indonesia rentan terhadap gangguan pada stok kedelai global seperti yang terjadi baru-baru ini.

Menanggapi adanya krisis kedelai ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mencetuskan program 200 hari meningkatkan produksi kedelai lokal dengan bekerja sama investor kedelai lokal.

Penyebab utama rendahnya produksi kedelai lokal adalah masih sangat kecilnya proporsi lahan kedelai yang digarap, serta rendahnya produktivitas kedelai per hektar.

Hasil survei BPS menunjukkan, 60 persen dari tanaman kedelai ditanam di lahan sawah. Hal ini berarti tanaman kedelai tersebut harus berbagi jadwal dengan tanaman lainnya dalam satu tahun periode tanam.
Oleh karena itu, tentunya para pemilik lahan maupun petani tentunya akan lebih memprioritaskan tanaman yang hasilnya lebih menguntungkan.

Survei BPS pada tahun 2017 juga menunjukkan, penanaman kedelai relatif kurang menguntungkan dibanding tanaman lainnya.

Dari data hasil survei tersebut, terekspos bahwa keuntungan dari satu hektar tanaman kedelai hanya mencapai 14 persen. Jika dibandingkan dengan jagung sebesar 41 persen, bawang merah 29 persen dan cabai 51 persen.

Terlebih lagi, survei BPS menunjukkan sebagian besar petani kedelai bermigrasi ke tanaman lainnya. Dimana pada tahun 2013 terdapat 672.000 orang lalu turun 59 persen ke angka 275.000 orang pada tahun 2018.

Rendahnya produksi kedelai lokal ditengarai oleh rendahnya produktivitas tanaman per hektar. Yaitu hanya sekitar 1,5 ton per hektar, hanya setengah dibandingkan produktivitas tanaman kedelai di Amerika Serikat yang mencapai 3 ton per hektarnya.

Selain itu, rendahnya otomatisasi pada penanaman kedelai menyebabkan penanaman kedelai membutuhkan banyak pekerja. Sehingga terkadang memberatkan para petani membayar ongkos kerja. 89,73 persen dari total rumah tangga usaha kedelai tahun 2017 menggunakan tenaga manusia dalam pengelolaan lahan.

Selain itu, hasil Survei Struktur Ongkos Usaha Tanaman Palawija 2017 menunjukkan petani kedelai mengalami beberapa kendala dalam budidaya kedelai pada 2016. Diantaranya kesulitan dalam hal pembiayaan usaha, kenaikan ongkos produksi yang relatif tinggi, dampak serangan hama/OPT yang lebih berat, perubahan iklim dan atau bencana alam, serta kesulitan mengupah dan mendapatkan pekerja.
Berdasarkan struktur ongkos, diketahui memang pengeluaran terbesar petani kedelai adalah untuk upah pekerja dan jasa pertanian. Disusul sewa lahan dan bibit/benih.

Indonesia tidak harus memaksakan diri mencapai swasembada kedelai, mengingat ketergantungan impor kedelai yang besar dan sentra produksi kedelai yang terbatas karena bersaing dengan padi, jagung, bahkan kelapa sawit.

Namun, hal ini juga jangan menjadikan semangat mengusahakan kedelai kendur. Pemerintah lebih baik berfokus pada peningkatan produktivitas dan kualitas kedelai domestik serta pengembangan metode tanam yang memudahkan petani demi meningkatkan produksi kedelai lokal.

Pemberian bantuan seperti bibit/benih dan penyuluhan/bimbingan mengenai pengelolaan usaha tanaman kedelai juga penting untuk diberikan. (***)

Komentar

News Feed