oleh

Meniti Belajar di Atas Pandemi

DI TENGAH mewabahnya covid-19 di Indonesia, memberi dampak sangat buruk pada setiap jenjang kehidupan manusia.

Oleh: Hj. SURYANI, S.Pd.SD. (Guru SDN 060 Inp. Manumanukang, Luyo, Polman)

Meniti Belajar di Atas Pandemi

Dan itu telah terjadi sudah setahun lamanya. Bukan hanya di Indonesia, tetapi hampir di seluruh belahan dunia. Sendi-sendi kehidupan semakin terganggu karena virus ini, dengan jumlah peningkatan korban yang masuk daftar positif, sembuh, hingga meninggal dunia. Sungguh memilukan.

Setiap hari kita mendengar dan melihat penayangan data peningkatan Virus yang menyebar ke seluruh pelosok, justru menimbulkan persepsi berbeda. Penebaran yang signifikan, berakibat lumpuhnya perekonomian masyarakat. Juga sangat dirasakan di sektor pendidikan.

Bagaimana tidak. Anak-anak bangsa ini butuh pendidikan dan harus diselamatkan dari kemiskinan ilmu. Namun terbelenggu virus yang berkepanjangan. Itu bukan hal sepele. Lalu, kapankah pandemi ini berakhir dan solusi apa yang dapat ditempuh?

Pandemi membelenggu kita untuk bernafas dan berbuat setiap saat, serta memberi dampak hidup buruk khususnya bagi para guru, dosen, mahasiswa, siswa, kanak-kanak dan masyarakat sebagai lingkaran konsumen pendidikan.

Dalam situasi semacam itu, pemerintah telah mengambil langkah dan sikap dramatis dan pragmatis. Kebijakan yang awalnya kisruh lahirnya kesepakatan, dalam hal ini Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) bagi institusi pendidikan.

Artinya, pembelajaran dimungkinkan untuk tak bertatap muka di depan kelas dalam waktu tertentu. Namun Pendidikan tetap harus berjalan.

Sekolah pun diliburkan dalam beberapa pekan. Bahkan kemudian pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, memutuskan bahwa ujian nasional dan sekolah tidak lagi menjadi beban bagi mahasiswa dan siswa pada setiap jenjang. Serta memberikan pengelolaan nilai pada satuan pendidikannya.

Meski pemerintah menelontorkan triliunan dana, masyarakat belum merasa terbebas dari rasa ketakutan dan trauma. Pro dan kontra pun timbul diantara kalangan institusi bersangkutan.

Adanya PJJ tidaklah menganggap kemungkinan akan menyusutkan dan menurunkan indeks dan prestasi di bidang pendidikan. Tentu hal tersebut sangat berat bagi para guru, dosen, dan tenaga kependidikan untuk melaksanakan tugas dalam waktu panjang.

Sistem pembelajaran yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai jembatan pelaksanaan PJJ tetap dilaksanakan secara bertahap. Walaupun ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Namun dengan pemilihan metode daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan) menjadi solusi efektif dan efisien dari masalah tersebut. Model pembelajaran menjadi pilihan yang terbagi. Para pendidik merasa gelisah untuk memacu kreatifitas yang selama ini tersalurkan di sekolah, harus berbanding terbalik. Hasil penilaian menjadi kebijakan tersendiri dihampir setiap penyelenggaraan pendidikan.

Pembelajaran lewat virtual dan aplikasi zoom dalam jaringan tentu sangat berbeda dengan tatap muka di ruang kelas. Bahkan banyak masyarakat menganggap hal itu hanya membuang waktu. Bukan jaminan bagi anak-anak yang justru memanfaatkan waktu hanya untuk bermain game saja.

Penyebaran virus yang tak jelas dimana titik komanya membuat kepanikan dan kecemasan dimana-mana, dan menjadi prospek utama untuk tetap menjaga kontrol kesehatan di hampir elemen masyarakat. Mulai dari pencanangan jaga jarak, pakai masker dan mencuci tangan pakai sabun sebagai protokol kesehatan di hampir jenjang pendidikan.

Masyarakat sebenarnya menyadari, virus itu sangat membahayakan nyawa. Namun keadaan tidak memungkinkan terjadinya keselarasan pembelajaran secara efektif dan efisien dan kondisi daerah-daerah yang jauh dari jangkauan internet. Artinya para siswa, mahasiswa, ataupun pendidik tak akan maksimal menerima proses pembelajaran ini secara melembaga dengan baik.

Kendala pertama yang paling berpengaruh adalah jaringan komunikasi. Sebab penyelenggaraan pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah tidaklah semudah yang diharapkan. Berbagai problem dan spekulasi yang terjadi, membuat orang tua merasa terganggu dan harus membagi waktu. Bahkan begitu sulitnya jangkauan sinyal atau jaringan sampai ke tempat yang bisa terakses.

Kendala kedua adalah keterbatasan alat komunikasi peserta didik. Walau sebagian ada yang memiliki, faktor ekonomi adalah masalah berikutnya. Dan ini terjadi di wilayah desa atau pun daerah terpencil yang jauh dari jangkauan jaringan komunikasi dan elektronik yang menjadi beban berat di mata mereka. Sementara mereka sudah sangat merindukan sekolah tempat mereka menimba ilmu. (***)

Komentar

News Feed