oleh

Menikmati Konro Bakar

SAAT libur Jumat kemarin di Makassar, istri mengajak makan konro bakar di salah satu rumah makan di Jalan Gunung Lompobattang.

Katanya, konro bakarnya enak. Ia sudah mencicipi, saat dua tahun lalu berlibur ke Makassar bersama anak-anak. Kebetulan waktu itu saya tidak ikut, sehingga kali ini istri ingin sekali saya juga merasakan enaknya menu tersebut.

Menikmati Konro Bakar

Karena belum menguasai Kota Makassar, maka di hari pertama kami kerepotan mencari alamatnya. Istri pun sudah lupa nama rumah makannya, sehingga walaupun sudah menggunakan aplikasi google maps, kami tetap saja tersesat.

Banyak rumah makan lainnya yang menyediakan menu sama, namun istri tetap ngotot mengajak makan di rumah makan tersebut, karena rasa konro bakarnya beda dengan yang lain.

Setelah hari kedua, barulah kami menemukan lokasinya karena ditunjukkan salah satu kolega kami yang tinggal di Makassar.

Rumah makannya dua lantai dan terlihat sangat nyaman juga bersih. Setelah menu disajikan dan mencicipinya, baru saya pastikan kebenaran kata istri. Memang enak, dagingnya empuk dan rasa bumbu kacangnya juga mantap.

Istripun berkata, jika beberapa artis Indonesia dan youtuber asal Korea juga pernah makan di rumah makan tersebut dan sempat diviralkan di chanel-nya. Artinya, menunya (product) sudah terjamin kualitasnya dan nama rumah makannya pun sudah terkenal, karena proses promosi (promotion) dari mulut ke mulut (word of mouth/WoM) sudah terjadi. Dan itulah puncak dari kesuksesan dalam pemasaran. Perusahaan tak perlu lagi jor-joran melakukan promosi, cukup pelanggan menyampaikan dari mulut ke mulut.

Maka tak heran jika pelanggan sebagaimana istri saya, jadi pelanggan loyal. Padahal baru sekali merasakannya, tanpa sadar mendatangkan pelanggan baru yakni saya.

Dari segi harga (price), juga terjangkau. Sehingga kami benar-benar merasa tak sia-sia mencari alamatnya hanya untuk sekedar mencicipi konro bakarnya. Apalagi pelayananya (people) sangat sigap dan (process) cepat dalam memberikan layanan. Tak lama kami pesan, makanannya pun sudah diantarkan ke meja kami.

Saat mencicipi konro bakar yang disajikan, saya melirik ke arah dapur. Letaknya di samping meja kami dan hanya diberi kaca sebagai dinding dapur, sehingga pengunjung pun dapat melihat langsung bagaimana dagingnya dibakar dan diolah menjadi menu yang enak disajikan.

Dari situ saya menjadi yakin bahwa bukti fisik (physical evidence) yang ditawarkan pemilik rumah makan, mampu menyakinkan pelanggan membeli. Pada akhirnya, proses pembelian itu dapat terjadi berulang-ulang.

Dari pengalaman tersebut, saya menjadi banyak belajar tentang pemasaran rumah makan. Semoga melalui tulisan ini, dapat pula dipelajari para pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Majene. Terutama yang mempunyai bisnis rumah makan atau restoran.

Sebab potensi bisnis rumah makan masih terbuka luas di Majene. Selain masih jarang, yang sudah adapun masih menyajikan menu yang hampir sama. Belum ada diferensiasi nyata untuk membedakan antara rumah makan yang satu dengan lainnya. (***)

Komentar

News Feed