oleh

Mengembalikan Mala’bi’ Kepada Aslinya

-Kolom-2.039 views

KATA mala’bi’ (biasa juga ditulis malaqbiq) mulanya dipopulerkan oleh Husni Djamaluddin pada momentum lahirnya Daerah Otonomi Baru (DOB) Sulawesi Barat, tahun 2014 silam.

Dicita-citakannya agar provinsi ini menjadi provinsi mala’bi’ dan diinginkan agar daerah ini dijuluki provinsi mala’bi’. Maka seiring dengan itu kata mala’bi’ menjadi lebih populer (lahul fatihah buat beliau).

Defenisi baku dari kata mala’bi’ ini belum sampai pada kesepakatan pemaknaan, meskipun lebih dipahami berdasarkan batasan-batasannya. Itu bila diikuti kata-kata penyerta sehingga membentuk makna lewat kalimatnya. Seperti mala’bi’ gau’ (berprilaku yang baik), mala’bi’ pau (tutur kata yang sopan) dan seterusnya.

Sebagaimana makna kata, maka ini tidak seperti kata pada umumnya. Kata ini tidak netral atau masuk kategori kata terikat (dependent clause). Kata ini baru lebih bermakna bilamana diikuti kata-kata penyertanya.

Dapat dipahami kata ini terambil dari saripati budaya, dimana ia sebagai kata-kata luhur. Mungkin pada mulanya atau dalam perkembangannya kata ini oleh pengalaman budaya pernah berhasil merasuk ke dalam jiwa kebudayaan masyarakatnya. Sehingga dari sini dipilih sebagai kendali, sebagai patron, sebagai horison, sebagai tujuan.

Karena itu, dengan nilai mala’bi’ ini diharapkan bisa berjalan seiring dengan kemajuan masyarakat. Sehingga setidak-tidaknya akan tumbuh dan tidak tenggelam dalam kehidupan sosialnya. Bersama dengan itu nilai inilah yang diharap memijari langkah kehidupan masyarakatnya.

Komentar

News Feed