oleh

Menakar Literasi Pendidikan Dalam Membentuk Karakter Generasi

-Opini-1.678 views

Oleh: Endang Kurniati, S.KM (Pemerhati Sosial dan Member AMK)

BUKU Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Y Siauw tiba-tiba menuai sorotan.

Ini terjadi setelah Dinas Pendidikan (Disdik) Pemprov Kepulauan Bangka Belitung mewajibkan setiap siswa SMA/SMK membaca buku tersebut agar minat literasi siswa meningkat. Padahal buku ini dianggap sarat dengan keteladanan dan motivasi ruhiah yang luar biasa.

Sorotan itu datang dari salah satu anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Ahmad Basarah. Menurutnya, masih banyak tokoh pada masa lalu yang juga bisa diteladani para siswa, misalnya pahlawan nasional.

“Apa kurangnya ketokohan Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, K.H. Hasyim Asy’ari, Bung Karno, Bung Tomo, atau ketokohan Jenderal Soedirman? Kisah-kisah keteladanan mereka lebih punya alasan untuk siswa dan siswi diwajibkan membacanya,” kata Basarah. (Portal Islam, 04/10/2020)
Protes senada datang dari Ketua PWNU Babel, KH Jaafar Siddiq. Akibat adanya protes atas surat yang ditujukan kepada seluruh Kepala Sekolah SMA/SMK se-provinsi Bangka Belitung, maka hanya berselang satu jam setelah surat edaran itu dikirim, Disdik Babel menganulir surat edaran tersebut.

Padahal sejatinya, sebuah buku untuk meningkatkan minat literasi di dunia pendidikan ikut membentuk karakter dan keilmuan generasi muda. Masa depan generasi muda ditentukan sejauh mana menjaga literasi dalam khazanah pendidikan untuk mewujudkan generasi gemilang menuju bangsa unggul.

Jika ditelisik lebih dalam, penolakan terhadap buku Muhammad Al Fatih 1453 ini tidak bisa diterima. Mengapa? Buku ini sudah beredar dan telah dibaca jutaan penduduk negeri ini dari berbagai latar belakang pendidikan.

Tidak ada satupun fakta menunjukkan bahwa ada orang yang melakukan kekerasan, pemberontakan dan tindakan anarkis lainnya yang dapat mengancam keamanan negara setelah mereka membaca buku ini. Justru isinya memberi inspirasi kepada pembacanya, bagaimana hidup itu bermakna, memiliki tujuan jelas serta harapan yang besar. Selain itu juga digambarkan sikap pantang menyerah dan bersungguh-sungguh meraih impian dan cita-cita.

Dalam buku itu menceritakan tentang sosok Sultan Muhammad Al-Fatih. Sejak kecil ia telah dididik dengan tsaqofah (pemahaman) Islam oleh ulama-ulama besar pada zamannya. Sehingga tak heran pada usia muda, ia telah menghafal Al-Qur’an 30 juz. Ketika berumur 16 tahun, Al-Fatih telah menguasai 8 bahasa.

Dalam buku itu juga diceritakan bagaimana kisah heroik Muhammad Al-Fatih dalam usia belia (23 tahun) mampu menaklukkan kota Konstantinopel. Penaklukkan itu karena adanya dorongan ruhiah yang begitu kuat, ia ingin mewujudkan bisyarah (kabar gembira) yang telah dijanjikan Rasulullah saw. Sebagaiman sabdanya.

“Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya.” (HR. Ahmad)
Dari gambaran singkat ini, patutkah buku yang menceritakan sejarah Islam, yang sangat menginspirasi banyak orang dilarang untuk dibaca? Padahal di satu sisi, generasi muda bangsa ini butuh sosok teladan yang menginspirasi. Dan tak salah jika buku ini menjadi salah satu referensi tanpa meninggalkan referensi lain tentang kisah kepahlawanan, seperti kisah para pahlawan nasional bangsa Indonesia.

Muhammad Al-Fatih adalah satu-satunya panglima yang tidak pernah masbuq dalam salatnya, bahkan menunaikannya dalam keadaan berjemaah, selalu puasa sunah, tidak pernah meninggalkan salat rawatib dan tahajud semasa baligh hingga ia meninggal. Kita berharap watak dan karakter generasi muda bangsa saat ini bisa seperti sosok Muhammad Al-Fatih. Memiliki kepribadian Islam yang sama.

Kecerdasan Muhammad Al-Fatih yang luar biasa juga diceritakan dalam buku itu. Ia menguasai ilmu strategi perang. Ia dan pasukannya mencoba suatu cara yang tidak terbayangkan kecuali oleh orang yang beriman. Dalam waktu semalam, 72 kapal laut dipindahkan dari Selat Bosphorus ke Selat Tanduk melewati daratan dan perbukitan dengan menggunakan tenaga manusia.

Buku ini tentunya bisa membawa pencerahan kepada generasi muda. Bisa mengangkat mentalitas generasi agar menjadi bangsa yang unggul. Generasi yang mampu menguasai banyak bahasa, mempelajari banyak ilmu, inovatif, penuh kejutan, giat beribadah, pekerja keras, berani, cerdas, memiliki keteguhan hati dan keyakinan, bersikap tawakkal, bisa menjadi pemimpin yang adil.

Kita berharap profil generasi bangsa ini bisa lebih baik lagi. Jauh dari narkoba, minuman keras, tawuran, tindakan kriminal, dan asusila agar bisa menjadi bangsa yang unggul. Dan ini hanya bisa terjadi ketika generasi muda dicerahkan dengan membaca sejarah, mengenal gambaran sosok teladan seperti Muhammad Al-Fatih.

Terbentuknya sosok hebat seperti Muhammad Al-Fatih ini berawal dari kedua orang tuanya yang memahami dan mengajarkan islam kepada anak-anaknya. Sosok sepertinya di bentuk dalam sebuah sistem kehidupan yang menjadikan Islam sebagai landasan dan pandangan hidup. Yang menjadikan Al-Qur’an dan alhadis sebagai sumber hukum perbuatan dalam menata kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Wallahu a’lam bishshawab. (***)

Komentar

News Feed