oleh

Media Sebagai Pilar Perlindungan Anak

MAMUJU – Undang-Undang (UU) 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan empat pilar pelindungan anak, salah satunya adalah media massa.

Tiga lainnya yakni pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Olehnya, media massa sebagai pilar perlindungan anak harus diperkuat untuk melindungi anak-anak Indonesia.

UU Nomor 40 tahun 1999 tentang pers juga menyebutkan, salah satu fungsi pers selain informasi dan hiburan juga kontrol sosial dan pendidikan.

Menyadari hal tersebut, organisasi nirlaba Save The Children bersama Mcinema.id menggelar worshop bertajuk peran media dalam mendorong dan menyuarakan hak-hak anak pasca bencana di Sulbar. Worshop berlangsung di Nall Cafe Mamuju, Rabu 9 Juni.

Bahwa gempa bumi di Mamuju dan Majene pertengahan Januari lalu, mengharuskan sejumlah warga di dua kabupaten itu mengungsi, termasuk anak-anak.

Ruang anak pun menjadi catatan kritis sebab sangat berpotensi mengalami kekerasan dan tidak bisa mengenyam pendidikan.

Hak bermain, akses kesehatan, hak perlindungan dan hak gizi juga menjadi sangat terbatas, membuat anak anak rentan mengalami gangguan psikologi.
Dengan menggandeng para jurnalis, mitigasi dan penanganan bencana diharap lebih terpadu dan mengakomodasi kebutuhan perempuan dan anak.

Sekretaris Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Ika Ningtyas mengatakan, sepanjang tahun 2020 terjadi 2.952 bencana di Indonesia. Setiap bencana menimbulkan dampak besar terutama bagi anak.

“Setiap bencana pasti akan menyebabkan kerugian. Tapi dari setiap bencana ada kelompok rentan seperti, anak, penyandang disabilitas dan lansia. Kelompok rentan itu luas spektrumnya,” kata Ika.

Ika menganggap, kelompok anak kerap menjadi sasaran kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Hal itu terjadi lantaran anak tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Paling menonjol, anak-anak tidak bisa bergembira lagi.
Ada sisi traumatik yang mereka rasakan. Olehnya, peran media dianggap sangat membantu anak-anak agar lebih diperhatikan dan dilindungi.

“Peran media menyuarakan mereka yang tak bisa bersuara. Salah satunya kelompok anak-anak. Selain itu bagaimana mengedukasi warga terkait mitigasi bencana agar mereka tidak lagi gagap atau kelabakan menghadapi bencana,” bebernya.

Ika mencontohkan, mitigasi bencana bisa dimulai dari cara-cara sederhana di dalam keluarga sendiri. Termasuk bagaimana membangun fasilitas publik tidak di jalur sesar.

“Banyak sekolah dan rumah sakit serta fasilitas publik lainnya dibangun di atas sesar. Sisi lain kita belum punya peta jalur sesar yang bisa dilihat,” terangnya.

Media and Manager Save The Children, Dewi Sri Sumana mengatakan, penting menciptakan dunia tanpa kekerasan sebab masa depan ada di anak-anak.
“Ada beberapa hak anak yang mesti dipenuhi aeperti hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan dan hak berpartisipasi,” terang Dewi.

Dewi membeberkan, bahwa hasil riset menunjukkan ada 6 juta anak di Indonesia tidak belajar selama pandemi.
“Pembelajaran daring tidak maksimal. Sangat riskan anak kita tidak memiliki keterampilan,” cemasnya.

Branch Manager Mcinema.id, Bathola Syamsuddin menganggap, peran media sangat penting dalam advokasi dan informasi yang mengedukasi. Memberikan pengetahuan bagi orang tua dalam mengambil sikap dan tindakan bagi anak-anaknya.

Media lokal, kata Bathola, berada pada posisi paling strategis untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Dengan publikasi yang baik akan menjadi ruang kampanye hak-hak anak. Bisa mendorong kebijakan pemerintah berkenaan dengan anak,” pungkasnya. (ajs/jsm)

Komentar

News Feed