oleh

Marhaban Ya Ramadhan

TAHUN ini merupakan tahun kedua kita akan berpuasa Ramadan di tengah suasana kuatir pandemik virus corona.

Kendati masih dalam suasana pandemi Corona, persiapan memasuki bulan suci Ramadan tetap dilakukan. Dimulai dari persiapan hati.
Dalam sebuah hadis yang mengatakan ‘barang siapa yang bergembira dengan masuknya Ramadhan, Allah telah mengharamkan jasadnya disentuh api neraka’.

Marhaban Ya Ramadhan

Kendati hadis yang terdapat di kitab Durratun Nasihin, karya Usman bin Hasan Al-Khubawi ini dinggap daif sebagian ulama. Namun intinya, hadis-hadis tentang datangnya bulan Ramadan oleh ulama dimaknai perlunya menciptakan suasana sukacita dan hati yang gembira.

Gembira karena banyaknya keutamaan yang akan diraih di dalamnya. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang wahai Ramadan) begitulah jamak tulisan ungkapan sukacita yang bertebaran menyambut Ramadan.

Berikutnya adalah persiapan ibadah. Memperbanyak puasa sunat di bulan Sya’ban ini, segera mengganti puasa yang tertinggal tahun lalu, melatih diri bangun awal hari untuk tahajud, salat subuh, dan wirid dan lain sebagainya.

Yang tak kalah pentingnya persiapan ilmu. Yaitu membaca ulang fikih puasa antara lain syarat wajib puasa bulan Ramadan. Yakni (1) Islam, (2) baligh (dewasa), (3) berakal. Bagi orang gila, penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan.

Poin (4) mampu secara fisik. Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa Ramadan dikarenakan sakit atau dikarenakan memang benar-benar lemah fisik (dalam arti, apabila dipaksakan berpuasa bisa timbul risiko yang sangat besar seperti sakit parah atau menimbulkan kematian), maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan. Dan (5) suci dari haid dan nifas.

Rukun puasa yaitu (1) berniat, dan (2) menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Yaitu makan dan minum dengan sengaja atau muntah dengan sengaja, haid dan nifas, bersetubuh, hilang akal karena epilepsy, dan murtad (keluar dari Islam).

Persiapan silaturrahim. Mempererat jalinan silaturahim dan memohon maaf pada orang tua, suami/istri dan tetangga handai tolan. Berhubung kita tengah berada di era covid-19, tentu silaturahmi melalui sarana media sosial.

Suatu saat Malaikat Jibril berbisik kepada Rasulullah, “hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini, “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: 1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); 2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; dan 3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Persiapan dana. Hari-hari ini di tengah wabah virus covid-19 memang agak berat menyiapkan dana secukupnya untuk keperluan sedekah, infak, dan buka puasa bersama kaum duafa. Tetapi setidaknya ada yang bisa kita lakukan untuk kaum duafa.

Berderma di tengah kesulitan jauh lebih banyak pahalanya daripada berderma di masa senang. Semoga tahun ini kita bisa beranjak dari mustahik (penerima zakat) ke muzakki (yang mengeluarkan zakat). (***)

Komentar

News Feed