oleh

Mahasiswa Tolak Wacana Pemotongan UKT

MAJENE – Siang kemarin Gedung Rektorat Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) dipenuhi spanduk bertuliskan beberapa tuntutan mahasiswa.

Penanggungjawab aksi M Asrul Mawardi mengatakan, pemasangan spanduk bertujuan memprlihatkan birokrasi bahwa mahasiswa sedang menghadapi permasalahan saat ini. Terutama wacana pemotongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) semester ganjil, sebesar Rp200.000, ditolak mahasiswa. Alasan sebagai pengganti kuota kuliah daring dimasa pandemi, justru dianggap tidak rasional. “Pemotongan UKT bukanlah solusi,” kata Asrul, Senin 15 Juni.

Tak hanya itu, beberapa tuntutan juga dituangkan dalam spanduk tersebut. Diantaranya, UKT semester lalu minta dikembalikan, dan UKT semester depan diturunkan. Pihak kampus juga diminta membuat SOP pembayaran UKT, sebelum waktu pembayaran semester depan. Tapi saat pengambilan keputusan mahasiswa harus dilibatkan. Kemudian meminta kejelasan dari regulasi atas pengalokasian dana praktek, serta kejelasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2020.

Selain itu mahasiswa meminta kebijakan perpanjangan perbaikan nilai. “Kami tidak menarget sampai kapan spanduk itu dipasang, karena ini sebenarnya aksi awal kami. Selain pemasangan baliho juga disertai Surat Permohonan Audiensi kepada Rektor Universitas Sulawesi Barat,” ungkapnya.

Ia menegaskan, jika saja permohonan audiensi tidak diindahkan, maka akan ditindaklanjuti aksi demonstrasi. Mengingat sejumlah tuntutan mahasiwa membutuhkan tanggapan serius.

Ia berharap tuntutan tersebut mendapat tanggapan positif oleh pihak kampus, layaknya orang tua mendengar tuntutan anaknya. “Ini adalah bentuk keluh kesah kami, mudah-mudahan dapat diterima dan didengarkan,” harapnya. (r2/kdr)

Komentar

News Feed