oleh

Mahasiswa Sulbar Tertahan di Cina

POLEWALI – Sejumlah mahasiswa asal Sulbar yang menuntut ilmu di Cina masih tertahan. Stok makanan menipis. Masker langka.

Dua diantaranya, adalah mahasiswa asal Polewali Mandar. Warga Desa Tamanggalle, Kecamatan Balanipa dan warga Desa Rea Kecamatan Binuang.

Masing-masing menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran pada dua universitas berbeda di negeri tirai bambu.

Nur Khafifah Luthfiah (sebelumnya tertulis Nurul Hafifiah Luthfiah) kuliah di Zunyi Medical University Provinsi Guizhou.

Baca Juga:
Cerita Mahasiswa Asal Polman di Cina, Informasi Dari KBRI Sangat Membantu

 

Sementara Andi Tenri Putria, merupakan mahasiswa jurusan kedokteran di Jinzhou Medical University Provinsi Liaoning.

Rabu 29 Januari, Khafifah mengaku sedang berada di Bejing, Cina. Selama virus corona mewabah harga masker melambung. Nilainya mencapai 25 Yuan per lembar. Jika dirupiahkan sekira Rp 50 ribu.

“Harga masker sangat mahal, bahkan sampai Rp50 ribu satu masker. Stok masker pun sudah habis di apotik,” jelasnya via sambungan WhatsApp (WA).

Saat dihubungi, ia mengaku sudah tak kebagian. Sementara cadangan menipis. “Saya masih ada stok satu masker yang dibeli di Beijing waktu liburan kemarin. Saya beli tujuh masker,” jelasnya.

Saat ini Khafifah menetap di Golden Hotel Lingui Guilin bersama tiga orang temannya, juga asal Sulbar.

Yaitu Mieldy asal Majene, Michelle asal Mamasa dan Anggi dari Topoyo Mamuju Tengah. “Kami berempat mengambil jurusan Kedokteran di Zunyi Medical University,” beber Khafifah.

“Ditempat saat ini situasinya alhamdulillah masih aman. Tetapi masyarakat mulai mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak terlalu penting. Banyak toko yang sudah tutup dan himbauan dari pemerintah jika bepergian ke luar rumah sebisa mungkin kita membatasi berbicara dengan seseorang dan selalu menggunkan masker dan setiap saat mencuci tangan,” sambungnya.

Khafifah menceritakan bahwa sebelum ada berita tentang virus corona, ia bersama temannya melakukan perjalanan ke Beijing untuk liburan musim dingin.

“Beberapa hari kami di Beijing, ada berita menyebarnya virus corona. Awalnya kami biasa saja dan tetap mengunjungi tempat wisata,” jelas dia.

Namun semakin lama, ia melihat semua orang mengenakan masker. Dirinya pun ikut memakai masker sebagai pencegahan.

Nah, saat ia mengunjungi masjid yang pertama didirikan di Beijing, rupanya sudah ditutup karena kekhawatiran wabah virus tersebut. Demikian pun ketika ke kebun binatang, juga ditutup.

Akhirnya Khafifah dan rombongan kembali ke apartemen, lalu berdiskusi dan memutuskan kembali ke universitas.

“Ini di hotel selama tiga hari, dan alhamdulliah kondisi kami sehat wal afiat. Rencana 30 Januari akan kembali ke Indonesia,” pungkasnya.

Berharap Respon Cepat Pemerintah

Dari Jinzhou Provinsi Liaoning Cina, Andi Tenri Putria mengabarkan bahwa masker juga sangat sulit didapatkan. Selain itu persediaan makanan makin menipis. Sejumlah toko tutup, termasuk pasar.

“Kami mulai kekurangan kebutuhan pokok jika ini tidak mendapatkan pasokan makanan bisa membunuh kami secara perlahan,” tutur alumni SMAN 1 Polewali ini, via WA.

Fasilitas yang buka 24 jam hanya rumah sakit. Tapi RS pun sudah rawan. “Kondisi ini membuat mental kami terganggu apalagi jauh dari keluarga. Harapan kami ada bantuan pemerintah untuk secepatnya melakukan sesuatu karena kami yang masih terisolasi disini (Cina),” tuturnya.

Ia mengatakan dirinya bersama sejumlah mahasiswa Indonesia dari berbagai provinsi sulit untuk menemukan jalan pulang. Virus Corona sudah dimana-mana.

“Kami meminta tolong kepada pemerintah Indonesia bantu kirimkan pesawat atau apapun itu khusus WNI agar kami tidak terkontaminasi. Teman-teman kami sesama mahasiswa di sini (Cina) dari negara lain sudah mendapatkan bantuan dari pemerintahnya,” kata Tenri.

“Kami berharap Indonesia juga membantu warga negaranya yang saat ini ada di Cina. Kami mahasiswa tersebar di penjuru Cina bagian utara, selatan dan timur tentunya butuh bantuan terutama yang ada di Kota Wuhan saat ini,” jelas Tenri, menambahkan.

Orangtua Tenri, Abdullah saat ditemui di rumahnya di Desa Rea Kecamatan Binuang mengaku setiap saat berhubungan dengan anaknya di Cina melalui WhastApp. Ia berharap pemerintah segera memulangkan anak ketiganya ini.

“Kami berharap pemerintah bisa menjemput mahasiswa Indonesia yang kuliah di Cina. Karena kalau pulang sendiri sangat sulit, apalagi biaya tiket sangat mahal mencapai Rp 10 juta per orang. Bukan itu saja jadwal penerbangan juga terbatas,” terang mantan Kades Rea Binuang ini.

Sejak 2018, Tenri menempuh kuliah di Jinzhou Medical University Provinsi Liaoning, Cina.
Menurut Abdullah, di Jinzhou Medical University Provinsi Liaoning, juga ada warga Polman lainnya, Sita.

Beralamat di Jalan Bahari Kelurahan Polewali. Tetapi saat rumah orangtua Sita disambangi, Rabu kemarin dalam keadaan tertutup.

Sekkab Polman, Andi Bebas Manggazali mengaku akan berkoordinasi dengan Bupati Polman yang saat ini melakukan tugas luar daerah.

“Tentunya pemerintah daerah akan berupaya berkoordinasi dengan Pemprov untuk menghubungi Kementerian Luar Negeri terkait adanya mahasiswa asal Polman di Cina agar bisa dipulangkan dulu,” tandasnya.

Jalur Internasional

Korban akibat wabah korona kian bertambah. Seluruh negara waspada melakukan penjagaan ketat di pintu masuk akses internasional.

Pemerintah pusat pun sudah mengkoordinasikan agar dilakukan pengawasan ketat, mengantisipasi adanya manusia dari Cina membawa penyakit ganas, masuk ke Indonesia.

Salah satu akses Internasional adalah Selat Makassar atau Alki II merupakan lintasan kapal-kapal besar rute internasional. Dan Sepanjang lintasan itu, Sulbar termasuk daerah yang harus waspada sebagai tempat persinggahan kapal-kapal tersebut.

Apalagi sepanjang 600 kilometer lebih garis pantai Sulbar banyak pelabuhan-pelabuhan kecil berpotensi menjadi pintu masuknya penyusup.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sulbar, Khaeruddin Anas mengatakan, untuk di Sulbar memang tak ada pintu internasional, namun ada beberapa hal yang perlu diwaspadai, terkait jalur distribusi barang dari negara luar.

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Bea Cukai, Imigrasi serta Karantina Pertanian mengantisipasi masuknya barang impor di Sulbar.

“Kita melakukan pemantauan bersama. Memang kita perlu antisipasi jalur ekspor seperti Pelabuhan belang-belang, dan pelabuhan disteibusi barang lainnya. Pelabuhan itu bukan pelabuhan internasional, tetapi sering menjadi distribusi masuk-keluarnya barang, tetapi kan disitu (pelabuhan) sudah ada ditetapkan standar operasional, dan kita harapkan itu berjalan dengan baik,” papar Khaeruddin, Rabu 29 Januari.

Khaeruddin mengaku belum ada perintah dari pusat mengenai penutupan akses tersebut. Hanya saja dilakukan pembatasan.

“Kebijakan penerimaan kapal asing dibatasi. Tidak ditutup yah. Misalnya ada dari Kamboja dan Vietnam dan Cina,” sebut Khaeruddin.

Sejak merebaknya wabah virus korona, Khaeruddin menyebut belum ada kapal dari negara luar yang masuk.

RS Sudah Siap

Terpisah, Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulbar, Indahwati Nursyamsi mengaku seluruh jajaran Dinas Kesehatan, termasuk RSUD disetiap daerah sudah mendapat arahan agar memperkuat pengawasan.

Khususnya kepada warga yang baru saja datang dari negara-negara yang terjangkit.
“Ketika ada gejala batuk dan demam dan ada indikasi, kita berikan Healt Alerf Card (Kartu kontrol), itu terus diawasi dan dipantau untuk.memastikan tidak tinfeksi korona virus,” jelas dia.

Pihaknya pun menyiapkan ruang khusus isolasi ketika mendapatkan warga yang terindikasi virus korona.

Dia mengaku, ruang isolasi di RSUD Sulbar adalah ruang isolasi umum, bukan khusus menangani wabah tersebut.

Namun ruang itu disiapkan untuk penanganan sementara kemudian merujuk pasien ke Rumah Sakit yang sudah mendapat SK khusus penanganan virus korona.

“Ada seratus RS di seluruh Indonesia yang sudah di SK-kan untuk menangani gejala koronavirus. Sepertinya salah satunya RS Wahidin di Makassar,” sebut Indah. (r2/imr/mkb/rul)

 

(Lanjutan berita terkait Mahasiswa Sulbar Tertahan di Cina dapat dibaca di koran Harian Radar Sulbar)

Komentar

News Feed