oleh

Mahasiswa IAI DDI Polman Protes Kebijakan Kampus

POLEWALI – Mahasiswa Institut Agama Islam Darud Dakwah Wal Irsyad (IAI DDI) Polewali Mandar protes kebijakan pihak kampus terkait pembayaran uang ijazah. Puluhan mahasiswa melakukan aksi demo di halaman Kampus IAI DDI Polman diwanai aksi bakar ban, Senin 22 Juni.

Aksi ini selain diikuti mahasiswa juga sejumlah alumni IAI DDI Polman. Mereka menuntut kebijakan kampus terkait dugaan pungutan sebesar Rp300 ribu untuk pembayaran pengambilan ijazah.

Salah seorang alumni IAI DDI Polman, Hirmawati mengungkapkan prihatin dengan kebijakan kampus yang akan berimbas ke juniornya yang masih kuliah. Jangan sampai mengalami nasib yang sama dengan alumni dimana pembayaran ujian akhir yang terus naik.

“Kami seperti dijadikan lahan untuk mendapatkan uang, pembayaran ujian akhir terus naik. Sebelumnya pembayaran ujian akhir Rp2,7 juta. Sementara angkatan saya naik menjadi Rp3,05 juta ditambah lagi kami harus membayar Rp300 ribu untuk pengambilan ijazah,” ungkap Hirmawati.

Pihaknya meminta kampus memberikan penjelasan dasar hukum dari kebijakan penambahan biaya Rp300 ribu untuk biaya tanda tangan ijazah.

Salah seorang mahasiswa semester akhir Alwi juga mempertanyakan pembayaran ujian akhir yang setiap tahunnya naik. “Inilah yang membuat calon mahasiswa tidak mau masuk kesini karena pembayaran terus naik. Sementara fasilitas tidak diperbaiki. Pembayaran ujian tahun ini naik lagi Rp500 ribu dari tahun sebelumnya Rp3,05 juta,” terang Alwi.

Sementara mahasiswa lain, Mirwahyu menyampaikan dua poin tuntutan berkaitan dengan adanya pandemi Covid-19. Ia meminta agar kampus memberikan kebijakan pengurangan SPP bagi mahasiswa yang terdampak Covid-19. Kedua mempertanyakan kesiapan kampus dalam menghadapi new normal.

Wakil Rektor IAI DDI Polman Rivai Maduani menaggapi aspirasi mahasiswa dan alumni menyampaikan terkait dengan kesiapan menghadapi new normal kampus akan menyiapkan sarana cuci tangan. Sementara terkait dengan kebijakan pembayaran Rp300 ribu untuk pengambilan ijazah itu adalah kebijakan dari rektor.

“Apa yang disuarakan mahasiswa akan kami sampaikan kepada rektor secara langsung,” terang Rivai.

Selain itu, Ia juga mengatakan pihak kampus sudah mulai berbenah untuk persiapan new normal.
“Kuliah daring tidak semua mahasiswa dapat mengikuti proses tersebut karena banyak yang di pelosok,” terang Rivai Makduani.

Sementara terkait dengan uang ijazah Ia menjelaskan jika setiap tahunnya ada. Tetapi pembayaran inklud dengan pembayaran ujian akhir tetapi terkadang juga tidak.

“Pembayaran Rp3,05 juta itu memang belum masuk untuk pembayaran ijazah. Namun tahun ini akan kita bicarakan apakah bisa inklud dengan pembayaran Rp300 ribu untuk uang tanda tangan,” terang Rivai Makduangi.(arf/mkb)

Komentar

News Feed