oleh

Madjene, Tempat Yang Berair (a)

MEJENE adalah salah satu dari lima kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat. Sebelumnya bersama Kabupaten Polewali Mamasa dan Mamuju menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan, kadang disingkat Polemaju.

Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin (pemerhati sejarah Mandar)

Pada 1916, wilayah persekutuan Pitu Ulunna Salu dan Pitu Baqbana Binanga, yang mana Majene (atau Banggae) ada di situ, dijadikan sebagai salah satu dari sebelas afdeling di Pulau Sulawesi, yaitu Afdeling Mandar. Ibukotanya berada di Onderafdeling Majene. Adapun onderafdeling lain ialah Onderafdeling Polewali, Onderaafdeling Mamasa, dan Onderafdeling Mamuju.

Belakangan, saat sistem afdeling atau onderafdeling dihapus, onderafdeling-onderafdeling di atas ada yang digabung, ada tetap berdiri sendiri tapi dengan istilah yang berbeda.

Onderafdeling Polewali dan Onderafdeling Mamasa menjadi Kabupaten Polewali Mamasa, Onderafdeling Majene menjadi Kabupaten Majene, dan Onderafdeling Mamuju menjadi Kabupaten Mamuju. Afdeling Mandar pun dihapus, dilebur bersama afdeling lain di bagian selatan yang kemudian menjadi Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2004, yang dulunya tergabung dalam Afdeling Mandar menjadi daerah yang disebut Provinsi Sulawesi Barat. Pun dibentuk daerah otonami baru yakni Kabupaten Polewali Mamasa dibagi menjadi dua, yaitu Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa. Demikian juga Kabupaten Mamuju, dibagi menjadi Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Mamuju Utara.

Dengan latar belakang historisnya di atas, sampai saat ini Kabupaten Majene dikenal sebagai ibukota Mandar (tua). Untuk selanjutnya disebut “Majene Kota Tua” atau “Kota Tua Majene”.

Dibanding kota-kota lain di Provinsi Sulawesi Barat, Majene lah yang paling banyak memiliki situs atau tinggalan kaitannya sebagai kota tua. Yang dimaksud di sini adalah bangunan atau jejak peninggalan oleh pihak yang menjadikan Majene sebagai ibukota pemerintahan modern di kawasan ini, dalam hal ini adalah Belanda.

Belanda mulai menerapkan tata pemerintahan di Majene pada 1905 (mulai stabil 1907 usai meredam perlawanan Ammana I Wewang), kala Belanda berusaha menanamkan pengaruhnya secara luas dan permanen ke beberapa kerajaan di Nusantara, termasuk beberapa kerajaan di Mandar.

Selain sebagai posisinya ibukota Afdeling Mandar, juga jauh sebelumnya, di masa kerajaan-kerajaan, salah satu kerajaan yang ada di (Kabupaten) Majene dianggap sebagai “Indoq” (ibu) dalam persekutuan tujuh kerajaan di pesisir pantai, Pitu Baqbana Binanga. Yaitu Kerajaan Sendana. Posisinya sederajat dengan Kerajaan Balanipa (saat ini masuk Kabupaten Polewali Mandar) yang disebut “Kamaq” (ayah).

Selain sebagai ibukotanya Mandar, Kabupaten Majene juga disebut Kota Pendidikan sebab dulunya pusat pendidikan di Afdeling Mandar adalah Majene. Itulah sebab dalam kebijakan pembangunan Provinsi Sulawesi Barat, diputuskan bahwa perguruan tinggi negeri akan ditempatkan di Kabupaten Majene. Dengan kata lain, aktivitas pendidikan atau lembaga-lembaga pendidikan akan ditempatkan di Kabupaten Majene. Untuk itu, pembangunan non-pendidikan pun harus berkaitan atau mendukung kebijakan tersebut.

Ada beberapa pendapat mengenai asal mula penamaan Majene (Ahmad 1990 dalam Hafid dkk 2000; Sila 2006). Pendapat pertama mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari kata “manjeqneq” (akar katanya “jeqneq” yang berarti air) yang bisa berarti berwudhu. Konon, pada tahun 1875 di saat penjajah Belanda pertama kali mendarat di pesisir Majene, mereka bertemu dengan seseorang yang kebetulan sedang “manjeqneq”.

Orang Belanda bertanya kepada orang yang berwudhu tersebut tentang nama negeri yang didaratinya. Sebab tidak saling mengerti bahasa, orang yang berwudhu mengira orang asing tersebut bertanya apa yang sedang dia lakukan. Maka dijawablah “Manjeqneq”. Pikir itulah jawaban atar pertanyaan yang diajukannya, orang Belanda akhirnya menganggap daerah yang didatanginya bernama Majene(q).

Pendapat lain mengutarakan bahwa kata Majene pertama kali digunakan di saat banyak pelayar Gowa – Tallo (Suku Makassar) singgah atau berlabuh untuk berdagang di pesisir Totoli. Orang-orang Makassar menyaksikan upacara penurunan perahu oleh orang Totoli. Yang mana ada kebiasaan saling siram-menyiram saat perahu berhasil di dorong ke laut (telah terapung). Oleh orang Makassar, prilaku itu disebut “manjeqneq-jeqneq”. Belakangan, orang Gowa tersebut menyebut kawasan itu sebagai Manjeqneq-jeqneq yang berubah menjadi Majene.

Istilah “manjeqneq” yang merujuk sebagai nama tempat ditemukan dalam Lontar Tallo yang mengutip ucapan Raja Gowa Karaeng Tomapaqrisiq Kallonna, yang memerintahkan Raja Tallo agar datang ke Majene guna mengusir Suku Tidung (bajak laut) yang mengganggu keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Kalimatnya, “Naungki mai ri Manjeqne” (Pergilah engkau ke Majene). Pasukan Makassar yang diutus ke Majene oleh Raja Gowa guna mengusir bajak laut dipimpin oleh I Mappatangkang Tana Karaeng Pattingalloang (Raja Tallo) bersama dengan laskar Kerajaan Banggae yang dipimpin oleh Puatta I Salabose Daeng di Poralle Maraqdia Bangga.

Dari dua pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa istilah Majene berasal dari istilah atau berakar kata “jeqneq” atau istilah Mandar yang berarti air. Istilah Mandar yang lain juga merujuk air ialah “wai” (air), “binanga” atau “minanga” (sungai), dan “salu” atau “salo” (sungai). Untuk menentukan mana pendapat yang paling kuat agak sulit, sebab masing-masing memiliki kelemahan.

(Bersambung)

Komentar

News Feed