oleh

Literasi Covid-19, Cegah Daerah Kembali ke Zona Merah

Literasi Covid-19, Cegah Daerah Kembali ke Zona MerahSEKOLAH-SEKOLAH yang mulai melaksanakan PTM juga mall dan hotel yang beroperasi seperti biasa namun dengan Prokes yang ketat, oleh sebahagian masyarakat bisa saja dimaknasi sebagai berakhirnya pandemi Covid-19.

Laporan: Jasman Rantedoda, Mamuju

SEGALANYA masih berjalan abnormal. Orang-orang belum bercengkrama semesra dahulu, masih terus menjaga jarak satu sama lain, meminimalkan kontak fisik dan sebisa mungkin menghindari kerumunan.

Hanya pada cara bertutur yang terdengar tetap akrab dan ramah yang menjadi penanda bahwa mereka tidak saling membenci satu sama lain dan segalanya masih baik-baik saja.

Demikianlah kehidupan di masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), ia tak hanya berdampak pada kesehatan namun juga pada banyak hal dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Mulai dari dampak ekonomi, politik, sosial-budaya hingga pada gaya hidup. Orang satu sama lain, tak lagi canggung meminta seorang tamu untuk tidak perlu masuk ke dalam rumahnya. Aparat dan warga tak perlu basa basi untuk mengoreksi satu sama lain hanya soal masker atau soal cuci tangan saja. Semua dalam rangka meminimalkan resiko penularan virus korona.

Kondisi terkini adalah orang saling mendesak mempercepat vaksinasi dan dengan tetap menerapkan 4M -menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dan menghindari kerumunan-.

Sudah berjalan lebih kurang 17 bulan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) bergelut dengan Covid 19, belum ada tanda-tanda virus ini akan berakhir total, namun kesyukurannya adalah kasus disejumlah kabupaten dalam wilayah Sulbar mulai melandai. Sempteber 2021, seluruh kabupaten di Sulbar dinyatakan keluar dari zona merah. Dibeberapa kecamatan masih ada yang zona oranye tetapi umumnya sudah hijau.

Satuan Tugas (Satgas) percepatan penanganan Covid-19 juga telah menerbitkan rekomendasi untuk kabupaten zona hijau, bisa menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) namun dalam jumlah terbatas.

Kabupaten Mamuju sebagai Ibukota Sulbar yang mula-mula menerapkan PTM di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP). Disusul Kabupaten Polewali Mandar, Mejene, Mamuju Tengah, Pasangkayu dan Mamasa. Pelaksanaan PTM tersebut diawasi secara ketat dengan ketentuan-ketuan yang juga serba ketat. Sekolah mutlak menyediakan fasilitas Prokes, hand sanitazier harus selalu tersedia hingga masker cadangan.

Disamping itu, program vaksinasi juga terus digenjot. “Vaksin ini tidak membuat seseorang menjadi kebal dan terbebas dari Covid-19. Juga tidak serta merta menggantikan implementasi Prokes,” kata Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar, saat memantau pelaksanaan vaksinasi di Kecamatan Pamboang, Majene, Minggu 27 September.

Karena itu, Ali Baal menekankan agar masyarakat Sulbar tetap menerapkan Prokes, baik yang telah divaksin apatah lagi yang belum.

Pegiat literasi Rumah Baca Lentera Manakarra, Riadhi Syam mengatakan, pada kondisi seperti ini selain menggenjot vaksinasi dan menegakkan Prokes, pemerintah juga perlu mendorong literasi Covid-19 guna menyediakan informasi yang cepat dan tepat sebagai edukasi terhadap masyarakat agar tidak lengah.

Sekolah-sekolah yang mulai menerapkan PTM, mall dan hotel yang mulai beroperasi seperti biasa namun dengan Prokes yang ketat, oleh sebahagian masyarakat biasa saja dimaknasi sebagai berakhirnya Covid-19. Lalu mereka mengabaikan kedisiplinan menerapkan Prokes, berkegiatan dengan melibatkan orang banyak, hingga menggelar pesta penikahan besar-besaran.

Karena itu, masyarakat harus diberi pemahaman tentang bagaimana sebaiknya bersikap dan mempraktekkan kehidupan yang disiplin dalam kebiasaan baru, guna mencegah daerah kembali ke zona merah.

Kenapa harus literasi dan bukan razia aparat berseragam lengkap?, jawab Riadhi, karena masyarakat harus didekati dengan penuh empati dan humanis. Sebab kedisiplinan tak mempan gertak apa lagi paksaan. Razia yang kadang berlebihan bukannya berkonsekuensi kedisiplinan malah melahirkan dendam.

Lalu bagaimana menggelorakan budaya literasi di tengah pandemi?, hemat Riadhi, bisa memanfaatkan platform media sosial. Gubernur dan bupati bisa mengistruksikan pada sekolah-sekolah melalui dinas pendidikan agar mewajibkan siswa membaca dan menulis pengalaman mereka sehari-hari selama pandemi. Termasuk dinas perpustakaan bisa memasifkan lomba baca, tulis hingga konten kreatif yang berisi pesan edukatif tentang Covid-19.

Founder Nusa Pustaka, Muhammad Ridwan Alimuddin menuturkan, penanganan pandemi Covid-19 idealnya menerapkan konsep pentahelix atau melibatkan banyak pihak. Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat atau komunitas dan media. “Semuanya harus berkolaborasi, baik karena diajak atau berinisiatif.

Inisiatif itu salah satunya melalui literasi, sebab di situ tidak membutuhkan kompetensi ketat. Berbeda dengan vaksinasi yang harus dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan lain. Pun membutuhkan banyak biaya.

“Literasi Covid-19 amat penting”, sambung Ridwan. Misalnya, banyak yang anti vaksin atau takut divaksin. Itu karena literasi yang mereka terima masih rendah. Mereka juga tidak punya kemampuan membedakan hoaks dengan informasi yang benar. Informasi itu mereka komsumsi tanpa edukasi literasi digital dasar.

Kara Ridwan, diawal-awal pandemi, Nusa Pustaka melakukan literasi Covid-19 lewat Bincang Corona. Live di Youtube dan Facebook, melakukan talkshow dengan menghadirkan pihak-pihak berkompeten, juga disiarkan di jaringan tv kabel lokal.

“Saya belum melihat ada upaya progresif dan sistematis oleh pemerintah, khususnya di daerah, untuk menggalakkan literasi Covid-19. (Penanganan Covid-19, red) masih terjebak di penanganan konvensional, seperi prokes dan vaksin,” pungkas Nahkoda Perahu Pustaka Pattingalloang, itu.

Hal-hal yang bisa dielaborasi dalam Literasi Covid-19 antara lain memahami bahwa masa pandemi adalah moment meningkatkan kualitas diri sebagai manusia dengan berbagai tantangan, seperti belajar mengelola kesehatan, pikiran, emosi dan mental agar tetap positif, lebih produktif, dan kreatif, dalam berkarya, sebab banyak waktu mengasah ide dan keterampilan.

Dimasa pandemi, kita juga cendrung lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Lebih mengenal kekurangan dan kelebihan diri yang mungkin selama ini belum terungkap. Termasuk lebih menyayangi diri sendiri, keluarga, teman dan lingkungan.

Begitulah cara kerja literasi dalam membentuk generasi yang literat. Karena itulah mengapa literasi covid-19 dimasa pandemi ini sangat penting. (**)

Komentar

News Feed