oleh

Lirik Briket Batok Kelapa, Potensi Ekspor Sulbar

MAMUJU – Pengusaha asal Campalagian Polman menyulap limbah batok kelapa menjadi nilai ekonomis bahkan berpotensi menjadi komoditas ekspor.

Hampir di setiap kabupaten banyak petani menjemur kelapa untuk diolah menjadi kopra. Namun jarang petani kelapa memanfaatkan limbah dari olahan kopra tersebut.

Sebaliknya Sudirman melirik limbah itu, yakni berupa batok kelapa. Ia mengubahnya menjadi briket.

Berawal dari inisiatif itu, dalam sebulan briket ia produksi mencapai 75 ton dengan frekuensi pengiriman sebanyak tiga kali.

Produk briket juga telah dikemas dalam berbagai macam ukuran. Keunggulan dari briket batok kelapa adalah tidak memiliki asap serta panas yang bertahan hingga dua jam.

Begitu disampaikan Kepala Karantina Pertanian Mamuju, Agus Karyono, kemarin.

Agus mengaku telah mengunjungi tempat usaha Sudirman di Campalagian, Polman pada 24 Februari lalu.

Dia menjelaskan, Briket Batok Kelapa (coconut shell briquette) merupakan energi alternatif yang ramah lingkungan. Jika dikelola lebih baik dan optimal, bisa menjadi sumber pendapatan yang tidak sedikit di Sulbar.

“Limbah batok kelapa dapat disulap menjadi bahan bakar yang memiliki nilai ekonomis. Ciri khas briket ini abu berwarna putih dan panas yang bertahan lama,” paparnya.

Dia pun berkomitmen bakal membantu Sudirman, memfasilitasi ekspor briket dengan melakukan pendampingan dalam hal kelengkapan dokumen persyaratan negara tujuan.

Rencanaya, kata Agus, Briket itu akan dipasarkan ke Yordania dan Turki. Kedua negara itu dikenal sebagai pelanggan setia briket asal Indonesia. (imr/rul)

Komentar

News Feed