oleh

Kurikulum Prototipe Jadi Solusi di Masa Pandemi

MAJENE – Pemangku kepentingan pendidikan di Sulbar menyambut baik opsi penerapan kurikulum prototipe oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Hal itu sebagai upaya pemulihan pendidikan akibat pandemi Covid-19. Kurikulum prototipe diyakini mampu membantu sekolah mengatasi dampak kehilangan pembelajaran (learning loss) akibat tidak optimalnya pembelajaran selama dua tahun terakhir.

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ratih Megasari Singkarru menyambut baik adanya opsi kurikulum prototipe. Karena dinilai dapat mengurangi beban siswa dan guru karena materinya yang lebih sederhana dan fleksibel.

Selain itu, kurikulum ini dinilai dapat menghadirkan guru yang mengutamakan anak didiknya dalam proses pembelajaran. “Saya sangat suka dengan kurikulum prototipe ini. Semoga kita bisa melahirkan guru-guru yang bisa memberikan pengajaran terbaik untuk anak kita ke depannya. Semoga ini juga bisa mengatasi learning loss yang sedang kita hadapi akibat pandemi ini,” ujar Ratih Megasari Singkarru saat menghadiri kegiatan sosialisasi kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sulbar, Jumat 7 Januari 2022.

Ratih juga mengingatkan agar Kemendikbudristek serius menyiapkan guru yang akan menerapkan kurikulum prototipe ini. Para guru yang terkendala akses informasi diharapkan dapat diberikan bimbingan lebih agar lebih memahami dan menerapkan kurikulum prototipe dengan baik.

“Dengan penyederhanaan itu, bapak dan ibu guru dituntut untuk memiliki kreativitas untuk menjalankan kurikulum prototipe itu. Saya yakin semuanya memiliki daya kreativitas, yang penting paham dan percaya diri,” jelas legislator Nasdem ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Zulkifri menyampaikan melalui kurikulum prototipe, Kemendikbudristek mendorong pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar.

Penerapan kurikulum prototipe tidak akan diwajibkan oleh pemerintah kepada sekolah, melainkan ditawarkan sebagai opsi atau pilihan.

“Bukan sekadar menjadi kebijakan yang wajib dilaksanakan. Yang terpenting adalah menjadi sebuah gerakan perubahan, paradigma baru pendidikan, di mana kita lebih berfokus pada kebutuhan anak dalam pembelajaran,” ungkapnya.

Kata dia, kurikulum prototipe akan mulai ditawarkan secara lebih masif pada tahun 2022 hingga 2024. Kemendikbudristek akan memberikan bimbingan intensif mengenai kurikulum prototipe kepada sekolah dan dinas pendidikan melalui unit di pusat dan di daerah.

“Bapak dan ibu guru diberikan kesempatan untuk terlibat aktif di dalam memberikan masukan kepada kita terkait penerapan kurikulum prototipe selama dua tahun ke depan,” tuturnya.

Penerapan kurikulum prototipe, jelas Zulfikri menjadi strategi percepatan pemulihan pendidikan dan memitigasi kehilangan pembelajaran (learning loss) akibat pandemi. Hal tersebut tercermin dalam karakteristik kurikulum prototipe. Yaitu yang pertama adalah fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didik (teach at the right level).

“Kita menyadari bahwa dunia pendidikan belum sepenuhnya memberikan layanan kepada anak. Anak belum mendapatkan cukup ruang untuk mengeksplorasi kemampuan mereka, minat mereka, dan pilihan gaya belajar misalnya,” terangnya.

Kemudian yang kedua adalah fokus pada materi esensial sehingga guru punya cukup waktu untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar, seperti literasi dan numerasi.

“Materi yang padat itu cenderung membuat guru menceramahi anak tentang materi yang ada, dari awal sampai akhir, kemudian mengejar target kompentensi, sehingga tidak sempat mengecek apakah anak sudah paham atau tidak,” ungkap Zulfikar.

Yang ketiga, kurikulum prototipe akan mendorong pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan keterampilan nonteknis (soft skills) dan karakter Profil Pelajar Pancasila yaitu: keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, gotong royong, kebinekaan global, kemandirian, nalar kritis, dan kreativitas.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat, Gufran Darma Dirawan mengungkapkan apresiasi atas kurikulum prototipe yang dinilai adaptif dan dapat mendorong peningkatan kemampuan berfikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Dengan demikian, Ia optimistis penerapan Kurikulum Prototipe ini dapat mendorong peningkatan kapasitas SDM di Provinsi Sulawesi Barat.

“Yang paling penting bagi kami saat ini adalah untuk memberikan sosialisasi sebanyak-banyaknya dalam rangka memberikan penguatan terhadap kurikulum ini sehingga diadopsi dengan cepat,” kata Prof Gufran. (mab/mkb)

Komentar

News Feed