oleh

Kriminalitas, Penjara, dan Tanggung Jawab Negara

-Opini-2.209 views

Kriminalitas, Penjara, dan Tanggung Jawab NegaraPEMBICARAAN atau pun pembahasan tentang penjara dan kehidupan para napi di dalamnya, mungkin bukanlah suatu topik menarik bagi sebagian besar masyarakat.

Oleh: Tolawati Ummu Athiyah
– Pemerhati Masalah Sosial, Makassar

Mungkin karena penjara identik dengan sisi kejahatan, bagian hidup yang kelam, dan cap negatif yang dilekatkan pada penghuninya. Sehingga tidak banyak yang menaruh perhatian pada kehidupan di balik Hotel Prodeo tersebut.

Namun, kebakaran Lapas Klas 1 Tangerang beberapa waktu lalu yang menewaskan lebih 40 warga binaan lapas tersebut, cukup menyita perhatian publik. Dugaan sementara penyebab kebakaran karena hubungan pendek arus listrik. Memang kondisi penjara sudah tua dan tidak memadai lagi. Sejak dibangun tahun 1977 dan diresmikan pada 1982 hingga kini, instalasi listrik di lapas tersebut sama sekali belum pernah diperbaiki.

Menkumham Yasonna Laoly menyebut Lapas Klas 1 Tangerang over kapasitas hingga 400 persen. Seharusnya menampung 600 orang, namun dihuni oleh 2.072 orang. Menkopolhukam Mahfud MD juga menuturkan, fenomena kelebihan kapasitas ini sudah kerap ia temui sejak menjadi Anggota DPR pada 2004 silam. Dirinya sudah berkeliling ke beberapa tempat dan menemukan problematika serupa. Artinya apa?

Sumber Kriminalitas Dipelihara

Kalau over kapasitas lapas sudah terjadi sejak dulu, berarti kejahatan itu lumrah terjadi hingga penjara pun kelebihan beban. Hal ini mengindikasikan angka kriminalitas yang tinggi. Uniknya, tidak sedikit pelaku kejahatan yang sama, bolak-balik keluar-masuk lapas. Penjara tidak membuat mereka jera, justru skill kriminalnya berkembang selama dalam penjara. Alhasil, para tahanan “bebal” yang dibebaskan lebih lihai lagi beraksi.

Sayangnya, pemerintah hanya fokus pada masalah daya tampung lapas. Bukan menyelesaikan masalah yang menjadi penyebab seseorang dipenjara. Sehingga solusi yang diwacanakan juga tidak menyentuh akar masalah, misal membangun penjara baru.

Menambah bangunan penjara tidak menjamin ke depannya tidak over lagi. Jika kejahatan terus terjadi, cepat atau lambat penjara-penjara baru juga akan penuh lagi. Apalagi hukuman penjara di negeri ini merupakan sanksi andalan untuk penegakan hukum.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa tindak kejahatan terus terjadi hingga penjara penuh sesak? Penyebab tersebut harus ditelusuri hingga ke akarnya untuk menuntaskan problem kriminal ini. Dan pada akhirnya, kita akan menemukan benang merah persoalan kriminalitas dengan sistem kehidupan yang digunakan mengatur kehidupan masyarakat.

Perlu dipahami, Indonesia dan mayoritas negara di dunia masih menggunakan sistem kapitalisme sekuler. Sistem hidup yang mengabaikan aspek spiritual dan mengagungkan kebebasan, serta berorientasi materi semata. Sistem inilah yang membuat rakyat berada dalam “lingkaran setan” masalah yang tidak berujung.

Rakyat kesulitan ekonomi akibat penguasa mengabaikan kewajibannya memenuhi kebutuhan dasar mereka. Karena kapitalisme memang memformat negara meminimalisasi tanggung jawabnya kepada rakyat. Layanan publik dikomersilkan karena dikelola korporasi. Demokrasi yang dianggap sistem politik pro-rakyat rupanya hanya menyuburkan simbiosis mutualisme penguasa dan pengusaha, sedang rakyat harus berjuang sendiri mengurus kepentingannya.

Komentar

News Feed