oleh

Kopi Mambi yang Bersahaja

-Kolom-1.043 views

TIGA hari lalu saya dan tim sosprom UT Majene berkunjung ke Kabupaten Mamasa. Tepatnya di Kecamatan Mambi. Berbatasan dengan Mamuju.

Ini yang kedua kalinya saya ke Mamasa. Sebelumnya di awal Maret yang lalu sudah pernah juga ke sana. Bertemu bupati dan jajarannya. Saat itu saya diperkenalkan oleh bupati dengan Kopi Mamasa.

Rasanya Enak. Meminjam istilah para penikmat kopi, rasa kopi Mamasa sangat membumi, nikmat bersahaja. Dalam bahasa Prancis diistilahkan gout de terroir. Artinya rasa bumi/rasa tanah. Ungkapan ekpresi kesukaan mereka terhadap minuman lokal pedesaan yang terasa bersahaja. Sehingga saat meminum kopi Mamasa, kita langsung membayangkan keindahan bukit dan lembah Mamasa, tempat dimana kopi itu tumbuh.
Karena penasaran sayapun banyak bertanya seputaran kopi Mamasa. Katanya kopi Mamasa sebenarnya sudah terkenal sejak dulu. Hanya saja karena sebagian besar di jual ke Toraja, maka orang lebih banyak mengenalnya sebagai kopi Toraja. Padahal sebagian besar dipasok oleh petani dari Kabupaten Mamasa.

Untuk itu bupati bertekad, ingin mengenalkan “Kopi Mamasa sebagai Kopi Mamasa”, bukan lagi sebagai Kopi Toraja. Sejak itu saya sudah jatuh hati dengan kopi Mamasa.

Maka ketika ke Mambi, sayapun langsung mencari warung yang menjual kopi Mamasa.
Sayangnya tidak ada yang sediakan. Kata pemilik warung, mereka lebih senang menyajikan kopi saset. Alasannya lebih praktis. Tinggal diseduh langsung jadi.

Padahal jika kita ke kota-kota besar, kini di kafe-kafe kopi justru lebih banyak yang menyajikan kopi asli. Bahkan ada yang masih berupa biji kopi. Setelah dipesan oleh pelanggan, baru kemudian pemiliknya menyangrai dan menggilingnya. Setelah itu disajikan dengan berbagai citarasa, sesuai keinginan pelanggan. Kata teman saya, Dr. Iqbal Miftakhul Mujtahid, Direktur UT Pekanbaru, bahwa disitulah seninya minum kopi.

Dia adalah penikmat kopi. Maka tak heran tiap bertemu dengannya di UT Pusat, di Pondok Cabe Tangerang, kami sering diajaknya keliling di berbagai kedai kopi. Mencicipi berbagai citra rasa kopi asli Indonesia maupun mancanegara.

Karena tidak mendapatkan kopi Mamasa di warung Mambi, tentu saya merasa sedih. Ekspektasi saya kali ini belum terpenuhi. Apalagi setelah mendengarkan penuturan pemilik penginapan tempat kami nginap, bahwa sebenarnya di Mambilah kopi Mamasa banyak ditanam. Jadi seharusnya namanya Kopi Mambi. Bukan Kopi Mamasa.
Untungnya setelah magrib kami diundang oleh Pak Muhammad Munawir. Beliau Kabag Kesra di Pemkab Mamasa yang kebetulan tinggal di Mambi. Beliau menyuguhkan kami kopi Mamasa. Tepatnya kopi Mambi.

Kamipun menikmatinya. Ketika kopi membasahi bibir, rasa kecewapun hilang seketika. Yang ada hanya rasa nikmatnya kopi Mambi.

Dari penuturan Pak Munawir, saya juga tahu bahwa bukan hanya ke Toraja kopi Mambi dipasarkan, namun juga ke Mamuju. Karena jaraknya dekat dengan Mambi.

Memang wajar. Karena Mamuju kini sudah berubah menjadi kota. Masyarakatnya sudah heterogen. Kini banyak masyarakat yang sudah terbiasa nongkrong di kafe. Bertemu teman atau rekan bisnis.

Terakhir saya ke Mamuju dua minggu lalu. Saat itu saya sempat menghadiri undangan Bung Mustafa Kufung, Direktur Radar Sulbar. Kami nongrong di salah satu Kafe dekat Hotel Maleo. Sambil ngobrol santai, kami menikmati kopi. Rasanya enak. Boleh jadi itu kopi Mambi.

Seandainya ada kerjasama antara Pemda Mamuju dengan Mamasa, tentu akan semakin menguntungkan. Mamuju sebagai ibukota Provinsi Sulbar, secara otomatis banyak dikunjungi orang luar. Ini kesempatan bagi Pemda Mamasa untuk memasarkan Kopi Mambi beserta produk turunannya.
Keban (2009) mengemukakan, dengan adanya kerjasama antara daerah, maka tentu akan mengatasi masalah lintas wilayah admnistrasi dan potensi sumber daya yang dimiliki. Dalam kasus ini, potensi sumber daya Mamasa adalah Kopi, sedangkan Mamuju adalah pariwisatanya. Dimana sudah banyak berdiri hotel, kafe dan tempat wisata lainnya.

Namun saya berharap kerjasama tersebut, tidak hanya terjadi antar aktor pemerintahan kedua kabupaten. Namun ada kolaborasi, melibatkan para petani Mambi dan pengusaha Mamuju. Terutama pelaku pariwisata, yakni para pemilik hotel, kafe dan tempat wisata lainnya.

Sebab, jika merujuk hasil penelitian Dosen UT Ternate, Dr. Muhlis Hafel dkk (2020), selama ini di Indonesia kecenderungan kerjasama antar pemerintah daerah masih bersifat antar pemerintahan (government to government). Belum sampai pada tahapan antar pemerintah, pemerintah dengan masyarakat dan pemerintah dengan pelaku usaha secara simultan. Makanya banyak hasil kebijakan dari kerjasama tersebut tidak sampai ke lapisan masyarakat. Padahal merekalah eksekutor di lapangan. Maka tak heran banyak kerjasama yang hanya menghasilkan catatan di atas kertas. Tidak berdampak bagi pertumbuhan ekonomi masyakatnya.

Menurut Warsono (2009) kegagalan kolaborasi salah satunya disebabkan adanya kesalahan pemahaman konsep. Bahkan Di Indonesia sering kali memberikan padanan kata ‘kerjasama’ dan ‘kolaborasi’ dan digunakan secara bergantian padahal keduanya memiliki makna yang berbeda. Secara eksplisit kerjasama dilaksanakan dalam bentuk perjanjian antar pemerintah (government to government) atau pemerintah dengan pelaku bisnis (government to business) secara parsial. Sedangkan collaboration governance dapat dilakukan melalui government to government, government to citizen dan government to business secara simultan.

Saya jadi membayangkan kopi Mambi kelak mendunia. Seperti kopi luwak dari Sumatera yang kini banyak dinikmati oleh para pencinta kopi. Bahkan hingga ke mancanegara.

Masih ingat film Hollywood berjudul The Bucket List? Di salah satu adegan film itu, Jack Nicholson dan Morgan Freeman sempat membahas cita rasa kopi Sumatera, yaitu kopi luwak. Jack Nicholson berperan sebagai Carter Chambers yang kagum akan rasa dan kenikmatan dari kopi luwak.
Sampai-sampai dalam film itu, dia menyebutkan bahwa kopi luwak adalah kopi terenak dan termahal. Bahkan untuk penyajiannya ia mempunyai cara khusus.

Tak pelak, film bergenre komedi-drama itu mendapatkan nilai 7.4 versi imdb.com dan masuk dalam beberapa nominasi penghargaan internasional. Salah satunya dalam ajang penghargaan National Board of Review, Amerika pada 2007 dan AARP Movies for Grownups Awards 2008.
Ya, tak hanya bintang Hollywood itu saja yang mengagumi kopi dari Indonesia. Hampir seluruh warga dunia pecinta kopi luwak. Maka dari itu, tak percuma kopi luwak dinobatkan sebagai kopi termahal di dunia.
Semoga kelak kita pun bisa menyaksikan kopi Mambi setenar kopi luwak. (***)

Komentar

News Feed