oleh

Kesetaraan Upah Perempuan, Solusi atau Jebakan?

-Opini-1.619 views

Oleh: Ummu Aulia (Pengurus MT Mutmainnah)

TEPAT pada 18 September 2020, untuk pertama kali dunia memperingati International Equal Pay Day atau Hari Kesetaraan Upah Internasional.

Peringatan ini bertujuan agar kesetaraan upah menjadi bagian dari upaya respon dan pemulihan pandemi covid-19. Persoalan kesenjangan upah ini terjadi secara global, tidak hanya di negara luar tapi juga di Indonesia.

Di Indonesia sendiri kesenjangan mencapai 23 persen. Bahkan menurut nternational Labour Organisation (ILO), perempuan terkondisi untuk mendapatkan pekerjaan bernilai rendah dan tidak memiliki kesempatan untuk menutup kesenjangan upah berdasarkan gender.

Misalnya, jumlah perempuan yang bekerja sebagai pekerja profesional kurang 50 persen. Hanya 30 persen yang menduduki posisi manajerial, itupun dibayar lebih rendah dari laki-laki, meskipun pendidikan lebih tinggi dari laki-laki. Kesenjangan seperti ini dinilai berdampak negatif bagi perempuan dan keluarganya, karena mereka dianggap rentan oleh kemiskinan apalagi dalam kondisi sulit seperti masa pandemi saat ini.

Terlebih faktanya perempuan lebih banyak terlibat dalam sektor ekonomi yang paling terdampak krisis, seperti akomodasi, makanan, penjualan dan manufaktur serta dalam sektor informal yang tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan dan perlindungan sosial.

Solusi atau Jebakan?

Selama ini PBB dengan berbagai cara mengatasnamakan kesetaraan gender dan hak asasi manusia berusaha menghapus segala bentuk diskriminasi dan kemiskinan perempuan. Namun faktanya sampai pada hari ini kondisi itu tetaplah sama. Karena persoalan yang terjadi diberbagai belahan dunia saat ini, terutama kaum perempuan, adalah buah busuk dari penerapan sistem kapitalisme.

Dengan adanya kesetaraan upah ini tidak akan bisa menjadi solusi bagi perempuan untuk mendapatkan kesejahteraan. Justru sebaliknya ide kesetaraan upah ini adalah jebakan bagi para perempuan, karena dengan ide ini para penjaga kapitalis berusaha mendorong perempuan untuk terjun kedalam pasar tenaga kerja. Tidak hanya sebagai pemasok buruh murah tapi juga perempuan sebagai penggenjot daya beli dan menjadi pasar bagi produk mereka.

Dengan berbagai narasi pemberdayaan ekonomi dan politik perempuan, para penganut kapitalis berusaha menutupi wajah busuk mereka. Bahkan racun kebebasan dan konsumerisme yang telah berbaur dengan kemiskinan telah menjadikan perempuan rela menempuh bahaya dibelantara dunia kerja.

Para perempuan dieksploitasi tenaga dan kehormatannya. Bahkan mirisnya saat ini gagasan itu dalam bentuk kesetaraan upah diadopsi oleh para penguasa bukan untuk menuntaskan persoalan kesenjangan upah melainkan untuk menutupi kegagalan rezim dalam mengurus rakyatnya.

Situasi pandemi dan krisis ekonomi yang berlarut dimanfaatkan untuk menancapkan doktrin pentingnya gagasan tersebut. Mereka terus berusaha mendorong kaum perempuan untuk menjadi ‘bumper ekonomi’ sembari mengiming-imingi mereka, seolah hak hak mereka tengah diperjuangkan.

Padahal sejatinya mereka justru terjebak kedalam jurang yang akan semakin mengekploitasi dan mendiskriminasi mereka. Mereka terus diberi harapan seolah olah dengan terjun kedunia kerja pintu kesejahteraan akan terbuka lebar bagi mereka, padahal sejatinya pintu itu telah lama tertutup rapat sejak mereka mengadopsi sistem rusak yang hakikatnya merupakan penjajahan.

Bagaimana Islam Memandang?

Islam memberikan kesetaraan yang hakiki yang dibutuhkan oleh tiap manusia baik laki-laki maupun perempuan. Kesetaraan itu berupa kedudukan yang sama dihadapan Allah Swt sekalipun diberi peran yang berbeda.

Islam sangat memuliakan perempuan sebagaimana halnya laki-laki. Kemuliaan itu tampak dari pemberian kedudukan yang politis dan strategis bagi perempuan sebagai ummu waa rabbatul bait, yang tidak hanya sebagai pengurus rumah suaminya akan tetapi juga sebagai pencetak generasi terbaik yang akan menjadi tumpuan peradaban Islam.

Dalam Islam perempuan tidak dipandang dari segi seberapa banyaknya penghasilan mereka dan seberapa tinggi sekolah mereka, akan tetapi seberapa sukses mereka dalam menjalankan perannya sebagai ummu waa rabbatul bait. Ketika mereka sukses diluar dari peran tersebut, itu dinilai sebagai tambahan keshalehannya yang menambah kemuliaan mereka di hadapan Sang Khalik.

Islam membolehkan perempuan untuk bekerja di luar rumah dan mengaktualisasikan diri mereka sesuai dengan bakat dan kemampuan yang mereka miliki. Selama pekerjaan yang mereka lakukan barada dalam koridor Islam. Dan mereka akan dikenakan akad ijarah serta digaji sesuai dengan kapabilitasnya, bukan berdasarkan gender.
Tidak hanya itu, Islam pun akan melindungi hak-hak dan kehormatannya. Meliputi hak ekonomi, kesehatan, pendidikan, keamanan, politik dan finansial.

Oleh sebab itu, tak butuh kesetaraan untuk mendapatkan kesejahteraan dalam Islam, karena negara sudah menjamin kebetuhan pokok mereka yang akan dipenuhi secara langsung dan gratis. Pembiayaan seluruh kebutuhan ini diambil dari hasil pengelolaan harta milik umum seperti migas, tambang, laut, hutan dan sebagainya.
Dengan diterapkannya Islam kaffah dalam kehidupan, tidak akan dijumpai lagi persoalan sebagaimana yang terjadi pada hari ini khususnya masalah kemiskinan dan kesenjangan upah bagi perempuan. Wallahu a’lam. (***)

Komentar

News Feed