oleh

Kesejahteraan Petani Harus jadi Pertimbangan Sebelum Naikkan Tarif CHT

JAKARTA – Pemerintah diharapkan tidak mengabaikan kesejahteraan petani tembakau dan industri hasil tembakau (IHT) dalam menetapkan kebijakan cukai hasil tembakau (CHT). Apalagi selama ini kontribusi IHT begitu besar bagi penerimaan negara.

Pengamat ekonomi Muhammad Hasan Hidayat mengatakan rencana kenaikan cukai 2022 akan menjadi kekhawatiran dan tekanan bagi petani tembakau. “Betapa tertekannya petani tembakau. Untuk ini, (pemerintah) harus diajak meninjau langsung bagaimana kondisi petani. Langkah yang harus dilakukan harus ada win-win solution dengan cara menggandeng pihak industri, petani, dan masyarakat,” katanya dalam diskusi virtual UIN Jakarta baru-baru ini.

Ketua Senat Mahasiswa UIN Jakarta Muhammad Sahrul mengatakan nasib buruh IHT harus diperhatikan dalam kebijakan cukai. Dia menuntut keadilan terhadap para petani dan buruh rokok yang padat karya.

“Ketika cukai rokok dinaikkan dan berdampak pada buruh IHT, maka kesejahteraan kelompok ini tidak terpenuhi. Jadi dapat disimpulkan, apa yang menjadi tujuan pemerintah dalam menerapkan kebijakan, secara jelas mengesampingkan masyarakat,” katanya.

Dia mengatakan unsur kesejahteraan masyarakat ini seharusnya menjadi bagian evaluasi dan pertimbangan pemerintah dalam menentukan kebijakan cukai. Sebelumnya, berbagai pihak perwakilan buruh rokok telah menyuarakan penolakan kenaikan CHT karena khawatir hal ini akan makin menyengsarakan kehidupan pekerja.

“Suara hati ribuan anggota kami di Jawa Barat adalah agar tarif CHT tidak naik 2022,” ujar Ateng Ruchiat Ketua Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau, Makanan dan Minuman (FSP RTMM) Jawa Barat, dalam keterangannya, Senin (20/9/2021).

Menurutnya, kenaikan tarif CHT memberikan ancaman PHK bagi buruh pabrikan rokok terutama bagi pekerja linting, yang mengalami pengurangan jam kerja. “Jangan sampai lapangan kerja hilang akibat kenaikan tarif cukai. Apalagi zaman sedang sulit akibat pandemi,” ujar Ateng. (jpg)

Komentar

News Feed