oleh

Kebudayaan Itu Berbeda Tapi Bersatu

Kebudayaan Itu Berbeda Tapi Bersatu“Jika bergandengan tangan itu indah, lantas mengapa memilih berselisih. Untuk itu, mari saling memapah meneguhkan budaya daerah,”.

Laporan: Jasman Rantedoda, Mamuju-Sulawesi Barat

APAPUN yang terjadi kebudayaan tak boleh lesap apalagi karam. Kendati didekap beban yang berkali-kali lebih berat daripada berat tubuhnya yang ringkih lantaran tak mendapat perhatian lebih.

Menghadapi gejolak yang demikian, ragam upaya menjadi mutlak agar kebudayaan di Mamuju yang terbuka terhadap perbedaan tetap lestari. Bukan tidakmungkin akan pupus bahkan terhapus ditelan aliran kebudayaan asing, jika kita tidak cermat menghadapinya.

Olehnya, demi masa depan kebudayaan kita, semua pihak harus bergandengan tangan untuk menempatkan kebudayaan sebagai panglima.

Menurut Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Mamuju (DKKM), Irwan Satya Putra Pababari, terbuka kebudayaan Mamuju terhadap dunia luar, boleh jadi menggerus orisinalitasnya.

Namun demikian, kebudayaan akan terus meramu, bercampur dan mengawinkan beragam unsur hingga membentuk budaya hibrida dan pada gilirannya budaya hibrida tersebut tumbuh dan berkembang membangun identitas nasional.

“Tidak ada kebudayaan dan peradaban yang memulai dirinya dari nol. Peradaban saling memengaruhi, sambung-menyambung dan saling meninggalkan jejak,” kata Irwan, dalam wawancara, usai konser mini DKKM, memperingati Hari Jadi Mamuju ke 481 tahun dan Ulang Tahun DKKM ke-3, di Nal Cafe, kawasan Rumah Adat Mamuju, Selasa malam 13 Juli.

Hanya saja, di Mamuju, kebudayaan belum mendapat sentuhan yang memadai. Belum menjadi pendoman dalam merumuskan pembangunan dan menyelesaikan permasalahan.

Padahal jika itu didorong, sebagaimana daerah-daerah lain seperti Bali dan Yogyakarta atau negara-negara lain yang sudah mempraktekkan dan menunjukkan hasil yang positif, seperi Korea Selatan, Jepang dan China, maka daerah lain akan mempelajari budaya kita.

“Kebudayaan juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi pada bidang industri kreatif dan pariwisata,” jelas Irwan.

Menurut Irwan, strategi kebudayaan yang bisa mendorong perbaikan karakter daerah bisa dimulai dengan menggali berbagai kearifan daerah. Seperti adat istiadat, teknologi tradisional, cagar budaya baik artefak maupun ekofak, manuskrip bahkan tradisi lisan seperti pesan-pesan leluhur. “Itu semua adalah objek pemajuan kebudayaan di daerah,” tambah Irwan.

Bahwa usia Mamuju yang menginjak angka 481 tahun adalah matarantai yang begitu panjang, dengan puspa ragam cerita. Dari jejak perjalanan tersebut banyak produk-produk kebudayaan yang dihasilkan salah satunya adalah kain tenun.

Dari produk tersebut kita memahami keahlian leluhur memintal tetumbuhan menjadi benang kemudian ditenun menjadi kain.

“Hasilnya, ada semomandi, lipa’ saqbe dan anyaman-anyaman lainnya baik dari dari rotan, bambu dan kulit gaba-gaba,” jelasnya.

Kekayaan produk-produk kebudayaan tersebut akan tergerus jika tak serius melestarikannya. Karena itu, Irwan, mengaku sependapat dengan tema hari jadi Mamuju tahun ini, yakni Meningkatkan Kebudayaan dan Menumbuhkan Kearifan Lokal Menuju Mamuju yang Lebih Keren.

Tetapi, lanjut Irwan, lebih keren lagi kalau kita bisa mengenal produk kebudayaan dimasa lampau yang penuh dengan makna kehidupan dan menjadikan itu sebagai landmassan menelorkan kebijakan.

“Kebudayaan tidak membuat kita terbelakang, melainkan itu adalah khasanah pengayaan bagi diri kita untuk menghadapi masa-masa yang akan datang,” bebernya.

Mini Konser

Mengenai persembahan untuk Mamuju yang dihelat dalam mini konser DKKM bertema “Manakarra Pembolonganta”, kata Irwan, mulanya hanya keinginan kecil untuk tetap mengemas sesuatu pada Mamuju yang kini berusia 481 tahun.

Seiring bergulirnya waktu, komite-komite dalam DKKM kemudian merumuskan kegiatan yang lalu menjadi mini konser. Komiste Musik, Fashion, Sastra, Simetografi dan Seni Rupa, kemudian mengemasnya dengan mempersembahkan lagu-lagu daerah berbahasa Tampalang, Kalumpang dan Mamuju dengan aransemen musik kolaborasi tradisional dan modern.

“Karena pandemi, kami batasi undangan. Agar tetap bisa dinikmati secara luas, solusinya kami live streaming atau siaran langsung di akun sosial media DKKM. Jadi ini juga bisa disebut virtual konser,” pungkas lelaki yang kini berusaha mengembalikan kejayaan arsitektur Mamuju di masa lampau, melalui rumah tradisional, rumah bambu. (**)

Kebudayaan Itu Berbeda Tapi Bersatu

Komentar

News Feed