oleh

Karya Pelukis Mandar Dipamerkan di Yogyakarta

YOGYAKARTA – Bencana alam yang banyak terjadi di Indonesia belakangan ini, termasuk gempa di Sulbar pada Januari 2021 lalu, melahirkan empati dari banyak seniman.

Sejak 5 sampai 18 Maret 2021 besok, di Kopi Macan Yusman Tirtonirmolo, Kasihan Bantul, Yogyakarta, berlangsung Pameran dan Bazaar Art Seniman Peduli Bencana.

Karya Pelukis Mandar Dipamerkan di Yogyakarta

Pameran ini menampilkan karya seniman Godod Sutedjo, Maria FP, Kak Aris, Afit Ruseno, Dgam Haryo, Mada Linggau, Nasirun, Sukoco, Tulus Warsito, Anugrah Fadly Kreatoseniman, Otok Bima Sidarta, dan Budi Utomo.

Kemudian karya Igrar De, Achmad Masih, AmboroLiring, Nugroho Hoho, Komroden Haro, N Dyaz, Arlan Kamil, Yulhendri, Batara Legenda, Slamet Jumiarto, Yamik, dan salah satu lusikan yang dipamerkan juga karya Aad Mandar.

Seniman-seniman ini menawarkan karya yang tidak sekedar dilihat, namun perlu pencermatan dan pemahaman. Apa yang diatampilkan dalam subjek sebenarnya tentang apa yang dia pikirkan. Peristiwa dibalik subjek yang hadir semestinya menggambarkan kondisi lingkungan fisik maupun sosial.

Karya-karya tersebut menjadi sebuah gambaran dirinya ketika melihat dan mengobjektifikasi. Pikiran seniman yang eksentrik inilah yang kadang menghadirkan ‘bukan apa yang dia amati, melainkan apa yang dia pikirkan. Ranah ‘iba’, ‘sayang’, ‘cinta sesama umat manusia’ adalah pikiran dan perasaan yang digerakkan untuk melihat objek yang ditangkap oleh mata.

Seniman mampu membaca peristiwa dengan persepsinya, karena seni itu letaknya pada persepsi juga; maka mengapresiasi sebuah karya seni rupa yang hadir sebenarnya menghargai persepsi seniman terhadap apa saja yang dijadikan objeknya dalam karya seni.

Karya yang dibuat oleh Aad Mandar bermediakan acrylic di atas kanvas berukuran 66 x 85 cm berjudul Save Sulbar. Dari peristiwa gempa bumi yang mengguncang Sulbar beberapa waktu lalu, sebuah potret lukisan spontan terlahir oleh sosok pelukis muda dari Mandar.

Karyanya menampilkan sapuan kebiruan sebagai fase sebelum kehancuran atau tepatnya pra bencana. Cakrawala atau langit yang begitu cerah disapu dengan teknik basah yang memberi aliran keceriaan dan sukacita yang memayungi gedung vital Pemprov Sulbar yang juga terlukis dengan utuh dan gagah.

Sedangkan tepat di sebelahnya, reruntuhan bebatuan gedung dan langit kelam tergambar begitu kontras dari sebelumnya. Sementara itu, tiang Sang Saka Merah Putih berkibar-kibar dengan tegasnya, sementara pada selasar gedung, ada kontraktor yang melambangkan kekuatan untuk berbenah dan semangat anak-anak generasi penerus yang menggantungkan harapannya di pilar kebangsaan kita.

Sebuah potret peristiwa yg menampar kita, untuk bangun bergotong-royong, yang dalam konsep Mandar diistilahkan ‘sikalulu-sibaliparriq’ bangkit kembali dari keterpurukan, dan tentunya semangat persatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Sebuah peristiwa yang terlukis dengan monokrom, namun tidak melupakan nilai-nilai keceriaan. Aad ingin bercerita, jika belajar dari kehancuran Hirosima, yang dicari adalah guru, maka tak jauh berbeda dari peristiwa yang melanda Sulbar beberapa waktu lalu, relawan adalah pahlawan dan gambaran kepedulian yg dapat menyelamatkan trauma para korban, khususnya dari generasi-generasi penerus Sulbar ke depannya. Demikian deskripsi tentang karya Aad Mandar.

Aad berharap karyanya itu dikoleksi atau tersimpan di Sulbar. “Saya jadi berfikir alangkah baiknya jika yang mengoleksi orang Sulbar sendiri. Kemarin beberapa yang nanya-nanya, dan hari ini ada kolektor Bugis dan Jepang mau main ke pameran,” kata Aad Mandar.

Menurut informasi dari Galeri Seni Rupa Online https://psroo.com/, karya Aad Mandar bernilai Rp 7.000.000. Sebagian dari karya seni yang terjual akan didonasikan ke korban gempa di Sulbar.

Siapa Aad Mandar? Ia lahir 15 Februari 1997 di Pakkammisang, Desa Padang Timur, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman. Aad merupakan alumni Ponpes S. Hasan Yamani, Mas Al-Munawwarah Mamuju, dan S1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ia aktif melukis di berbagai media (kaos, tas, sepatu, jaket, mural dinding, kanvas, dll). Karya-karyanya banyak mengangkat tentang kebudayaan suku Mandar-Sulbar. Ia juga tergabung dalam Komunitas Pelukis Indonesia dan Ikatan Pelukis Indonesia-Yogyakarta. Aktif melukis dan berpameran sejak tahun 2017 di Yogyakarta. (*/ham)

Komentar

News Feed