oleh

Karakter Qaulan Sebagai Penutur Kebaikan

-Opini-1.176 views

HIDUP dan kehidupan adalah kata yang berkonotasi dengan keberadaan manusia ditinjau dari kebaikan ataupun keburukannya.

Oleh: Arman, S.Pd, M.Pd. (Guru BK SMAN 3 Majene)

Sifat tersebut akan selalu menjadi bagian terdekat dari sisi kehidupan manusia. Tinggal manusia tersebutlah yang menentukan arah hidupnya, apakah ditujukan pada kebaikan atau keburukan. Sejatnya, tidak ada seorang pun didunia ini yang ingin menjadi manusia yang tidak baik.

Ditinjau dari sudut keagamaan, tentunya akan berpijak pada pendidikan yang berlandaskan kaidah, prinsip dan etika berkomunikasi dalam setiap agama. Semua sudah diatur dan termaktub dalam kitab setiap agama di dunia. Tentunya akan ada perbedaan ajaran atau akidah setiap agama di Indonesia, tetapi inti dari akidah tersebut tentunya akan selalu mengedepankan etika dan prinsip-prinsip kebaikan dalam kehidupan.

Kalau kita telisik lebih jauh, tentang asal muasal kebaikan hubungannnya dengan keberadaan manusia, maka dapat kita lihat firman Allah SWT dalam surah Al-Araf 7:172 yang artinya: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Maka manusia menjawab, “betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. Artinya bahwa potensi kebaikan sudah ada dalam diri manusia sejak pertama kali dilahirkan ke dunia.

Kebaikan dan keburukan manusia akan selalu berkaitan dengan komunikasi. Dalam Islam ada istilah “Qaulan”. Qaulan artinya perkataan. Salah satu aspek yang terkandung didalamnya adalah masalah komunikasi. Komunikasi merupakan salah satu bentuk interaksi verbal antar sesama manusia. Dalam komunikasi tersebut diharapkan lahir konsep komunikasi yang mengandung kebaikan. Tindak tutur qurani adalah suatu ucapan yang memiliki nilai kebaikan, kejujuran, keadilan, sopan, pantas, optimis, indah, menyenangkan, logis, menyentuh hati, lemah lembut, dan rendah hati.

Penanaman konsep qaulan hendaknya dimasukkan kedalam aspek kehidupan manusia. Ada 6 jenis qaulan yang mestinya dimasukkan dalam konsep mencipta kebaikan pada diri manusia. (1) Qaulan Karima; dilihat dari segi bahasa, karima berasal dari kata karuma, yang bermakna mulia.

AlQuran mengingatkan kita untuk menggunakan bahasa yang mulia, yakni perkataan yang memuliakan, enak didengar, lemah lembut dan memberi penghormatan kepada sesama. Hal tersebut terkandung dalam AlQuran Surah Al-Isra:23 yang artinya “Janganlah kamu mengatakan “ah” kepada mereka (orangtua), jangan pula kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

Kemudian, (2) Qaulan Ma’rufa; ma’rufa identik dengan kata urf atau budaya. Menurut M. Quraish Shihab, ma’ruf secara bahasa artinya baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Qaulan ma’rufa berarti perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar) dan tidak menyakitkan serta sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

Dalam firman Allah SWT surah An-Nisa:5 yang artinya, “Dan janganlah kamu menyerahkan harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (anak yatim) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan, berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”.

(3) Qaulan Sadida; sadida berarti jelas, jernih, terang. Berdasarkan firman Allah SWT dalam surah An-Nisa:9, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. Dari pengertian di atas yang dilandasi oleh firman Allah tersebut, maka konteks qaulan sadida dapat dimaknai dengan perkataan yang jelas, tidak meninggalkan keraguan, meyakinkan pendengar dan tidak mengada-ada.

(4) Qaulan Baligha; baligha dapat diartikan dengan sampai. Dalam firman Allah surah An-Nisa:63, yang artinya, “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.

(5) Qaulan Maysura; maysura artinya mudah. Qaulan masyura adalah perkataan yang mudah. Dalam firman Allah SWT surah Al-Isra: 28, yang artinya, “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh Rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”.

Kemudian yang (6) Qaulan Layyina; secara bahasa layyina artinya lemah lembut. Qaulan layyina dapat diartikan dengan perkataan yang lemah lembut. Konsep ini dapat dijadikan sebagai strategi dakwah, artinya semua perkataan hendaknya disampaikan dengan lemah lembut. Dalam firman Allah SWT surah Thaha:44, yang artinya “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari konsep tersebut adalah bagaimana menciptakan kebaikan melalui komunikasi yang baik, lemah lembut, santun, tidak kasar, yang semuanya itu dapat diterima di dalam kehidupan masyarakat. Karena ketika tutur kebaikan sudah tercipta dengan baik, maka kebaikan akan selalu hadir dalam kehidupan manusia. (***)

Komentar

News Feed