oleh

Jufri Samad, Jangkar PSM Meraih Trofi Liga

SEJAK era Perserikatan sampai Ligina dimulai, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) tak pernah lepas mengorbit pemain ke beberapa klub kasta tertinggi di Indonesia.

Oleh: Yudi Sudirman (Pemerhati/Pengamat Sepak Bola)

Kalau sebelumnya saya mengetik perjalanan Ridwansyah, bek kanan PKT Bontang. Ia berdarah Mamuju/Onang. Kali ini saya merangkum catatan tentang Jufri Samad, eks bek kanan PSM Makassar kelahiran Polman.

Menarik, karena kedua pemain itu pernah berduel dalam laga final Liga Indonesia musim 1999/2000.

Mantan defender PSM Makassar ini mulai menunjukkan bakatnya saat bermain di klub lokal, PS. Cahaya Polewali. Kemudian lanjut mewujudkan mimpinya melalui Pusat Pendidikan Latihan P…. (PPLP) Sulawesi Selatan (Sulsel). Dari situ ia kedmudian bergabung PS. PT IKI Makassar.

Suatu ketika, PS. PT IKI menjadi lawan tanding PSM Makassar, yang mana pada saat itu laskar Ayam Jantan dari Timur sudah berstatus peserta Ligina lll. Dan bukan klub papan bawah.

Dalam laga beda kasta yang berlangsung tahun 1997 itu, beberapa pemain depan PSM Makassar tak bisa berbuat banyak. Pergerakannya dimatikan si bek tangguh PS. PT.IKI, Jufri Samad.

Tim yang bermarkas di Jl. Galangan Kapal, Makassar, tersebut memenangkan laga eksebisi ini dengan skor 1-0. Saya saksi pada saat laga ini. Sungguh, sebagai suporter PSM, saya terkejut.

Dari laga itu, cerita tentang Jufri Samad dimulai. Ta salah jika Pelatih PSM Makassar, M. Basri, langsung kepincut dan meminang defender kelahiran Lantora, Polman, 5 Juli 1976 ini untuk berseragam PSM Makassar pada musim Ligina IV 1997/1998.

Namun, di tengah perjalanan, Ligina terhenti akibat pergolakan politik dan krisis moneter melanda bangsa ini 1997-1998.

Dan setelah liga kembali bergulir pasca reformasi, Jufri Samad langsung menunjukkan tajinya bersama PSM Makassar. Ia dan kawan-kawan mengukir prestasi dengan merengkuh trofi kampiun Ligina musim 1999/2000. Sebuah capaian prestisius. Karena hingga kini, “Pasukan Ramang” tak pernah lagi merasakan manisnya juara liga.

Setahun kemudian, pemilik nomor punggung 26 itu mendapat tawaran dari pulau seberang, PKT Bontang. Ia mengisi skuad “Laskar Bukit Tursina”. Semusim di Bontang, ia kembali lagi ke kandang “Ayam Jantan dari Timur”.

Bersama tim yang juga bergelar “Juku Eja” itu, pada musim 2003, hanya mampu finish sebagai Runner Up Liga setelah terpaut lima poin dari Persik Kediri.

Musim berikutnya, 2004, nyaris kembali menjadi kampiun. Meski poin PSM Makassar sama dengan rivalnya Persebaya Surabaya, sama-sama mengantongi 61, namun PSM kalah dalam selisih gol.

Satu kali Juara dan dua kali Runner Up bersama PSM Makassar, Jufri Samad melanjutkan kembali petualangannya ke daratan Kalimantan. Beberapa klub sempat diperkuat Jufri. Seperti Persiba Balikpapan selama lima musim, satu musim bersama Mitra Kukar Tenggarong, dan terakhir membela “Laskar Antasari” Barito Putera 2011.

Tujuh musim disana, Jufri sampai dijuluki “Si Kaki Ulin” oleh Persiba Fans Club, sekumpulan suporter militan Persiba Balikpapan. Disinilah Jufri, mengakhiri karirnya. Ia pun memilih gantung sepatu.

Kini beliau aktif membina salah satu SSB di Kota Makassar. “Buat adik-adik yang ingin menjadi pemain profesional, teruslah berlatih, jangan cepat merasa puas, karena untuk menjadi pemain hebat tidaklah mudah. Butuh kerja keras, fokus dan disiplin,” tulisnya via WhatsApp. (*)

Komentar

News Feed