oleh

Jatuh Bangun Mengelola Bank Sampah

Laporan: Rezki Amaliah, Mamuju

Herlina, perempuan asal Polewali Mandar, pencetus gerakan bank sampah di Mamuju. September 2015, usai menyelesaikan pendidikan S2 Teknologi Informasi di Universitas Hasanuddin Makassar, perempuan yang akrab dipanggil Lin ini memilih membentuk bank sampah.

BERAWAL dari prihatin kehidupan para pemulung yang ada di ibu kota Sulbar. Lin, sempat mengunjungi salah satu rumah pemulung di Karema Mamuju. Saat itu Lin menanyakan soal penghasilan dan mekanisme penjualan barang bekas. Setelah melakukan penelusuran ke beberapa pemulung dan pembeli barang bekas, Lin mendapati kecurangan yang dilakukan beberapa oknum pembeli barang bekas. “Mereka bermain di timbangan. Saya sudah uji coba,” kata Lin saat ditemui di Cafe Eat and Joy Mamuju, Minggu 7 Juli.

Sejak saat itu, Lin bertekad ingin membantu para pemulung tersebut dengan membentuk gerakan bank sampah. Pertama kali, Lin mengaku menggunakan modal pribadi untuk memulai gerakan tersebut. Ia menyewa sebuah tempat di Simbuang dan dijadikan tempat penampungan sampah. Lin membeli sampah dari para pemulung yang ada di kota Mamuju. ”Saya memulai gerakan ini dengan bantuan lima orang teman. Kami jalan dari satu rumah ke rumah lain untuk membeli barang bekas,. Kami beli seharga seribu per kilogram,” tambahnya.

Proses hidup memang tak mudah, kata Lin. Ia seringkali mendapat cemohan dari kerabatnya. Bahkan ada beberapa teman yang memilih memalingkan wajah saat berpapasan dengannya. Namun Lin tak menghiraukan hal tersebut. Meski di cecar dengan cemoohan. Lin tetap yakin, apa yang ia jalani adalah kebaikan untuk orang banyak. “Saya dulu sering diejek S2 sampah. Kerjaannya mungutin sampah. Tapi saya santai saja. Karena ini pilihan saya,” ungkap Lin.

Beberapa bulan gerakan bank sampah berjalan. Sampah berupa kardus bekas, kertas dan plastik pun terkumpul. Ada tujuh ton, dan saat itu Lin memilih untuk menjualnya langsung ke Makassar. Namun sayangnya, Lin tertipu. Sampah yang awalnya ia timbang bernilai tujuh ton, ternyata hanya tersisa tiga ton saat ditimbang di Makassar. “Waktu itu yang membawa barang tersebut ke Makassar teman saya. Tapi dia juga tidak mengerti kenapa bisa turun sampai empat ton,” jelas Lin.

Karena kejadian tersebut, aktifitas bank sampah mulai berkurang. Lin mengaku, saat itu ia kesulitan mengatur keuangan. Lin dan kawan-kawannya sudah tidak sanggup menutupi biaya sewa dan upah operasional. Beruntung, tak lama Lin bertemu dengan seorang teman. Ia ditawari sebuah ruko dengan biaya sewa yang lebih murah. Akhirnya Lin pindah dan mulai aktif kembali. “Disitu saya keluarkan semua sisa tabungan saya. Semangat saya terbakar saat melihat senyum dari anak-anak para pemulung itu. Kebahagiaan mereka jauh lebih berharga,” ujar Lin.

Akhirnya, gerakan bank sampah terus berlanjut. Lin menceritakan, saat itu ia begitu semangat mengembangkan gerakan tersebut. Sampai ia tak memperdulikan kesehatannya. Lin bekerja mengumpulkan sampah dari pukul 08.00 Wita hingga 03.00 Wita. Ia tak merasa lelah.

Menurutnya, itu adalah pengalaman paling berharga dalam hidupnya. “Dari aktivitas itu, saya hafal seluk beluk kota Mamuju, saya bisa bertemu orang banyak. Bertemu dengan gubernur, bupati, bahkan ada turis dari Amerika yang sempat mampir di tempat kami waktu itu,” kenang Lin.

Lambat laun, pemerintah mulai melirik gerakan yang sudah dibangun Lin dan kawan-kawannya. Akhirnya ia mendapat bantuan dari Pemkab Mamuju, berupa alat untuk mengolah sampah dan diberikan tempat untuk mengelola sampah tersebut. “Kami dikasih tempat untuk mengelola sampah di belakang kantor bupati Mamuju,” paparnya.

Dalam gerakan tersebut, Lin bukan hanya membeli sampah milik para pemulung, beberapa kali Lin mengadakan pertemuan dengan para istri pemulung untuk memberikan motivasi hidup. Menurutnya, banyak istri dari para pemulung yang kekurangan kepercayaan diri. Mereka cenderung menghindar dari interaksi sosial.

Saat itu Lin mempekerjakan 35 orang untuk mengelola bank sampah. Lin mengaku, yang ia pekerjakan adalah preman, mantan narapidana dan anak-anak putus sekolah. Ia melatih anak-anak tersebut untuk membuat berbagai macam kerajinan tangan, kemudian hasilnya ia pasarkan ditoko oleh-oleh miliknya.

Tahun 2017 Lin jatuh sakit. Tubuhnya sudah tidak mampu lagi mengikuti aktivitasnya yang sangat aktif. Akhirnya dokter memperingati Lin untuk beristirahat. Selama empat bulan Lin terbaring. Pekerjaannya diambil alih oleh teman-temannya. Saat terbaring pun ia tetap mengawasi kegiatan di bank sampah.

Akhirnya, operasional di bank sampah perlahan mulai terhambat. Produktivitas menurun. Belum lagi ada beberapa pemulung yang meminjam modal melalui bank sampah. Lin mengakui, ia paling tidak bisa berhadapan dengan orang yang meminta bantuan. ” Banyak pemulung yang meminjam modal. Mental mereka lemah. Menurut saya ini salah satu penghambat seseorang untuk sukses. Tidak ada seseorang yang kaya kalau mentalnya memang miskin,” ungkapnya.

Masih dalam kondisi sakit. Lin memilih kembali melakukan aktivitasnya. Ia prihatin dengan keadaan bank sampah yang semakin hari semakin menurun. Hingga pada bulan November 2017, ia kembali tumbang. Dokter memberinya peringatan tegas. Ia disuruh istirahat. Lin tak bisa membantah, kali ini ia kalah dengan kondisi tubuhnya. “Awal 2018, bank sampah tutup,” aku Lin sambil menunduk.

Setelah fakum, beberapa bulan lalu, Lin mendapat tawaran dari PKK Mamuju. Lin diajak menghidupkan kembali bank sampah. Namun kali ini tidak hanya terfokus pada kota Mamuju saja. Nantinya akan ada unit-unit bank sampah yang dibentuk di masing-masing desa.

Setelah melakukan pertimbangan, Lin menyetujui. Ia kembali dengan gerakan bank sampah. Dan saat ini ia mulai dari desa terpencil di Mamuju, yakni Desa Batupannu. Lin sudah beberapa kali berkunjung untuk memberikan materi kepada ibu-ibu PKK di Batupannu. “Saya berharap, kali ini bank sampah bisa berjalan dengan lebih baik lagi,” tambahnya.

Sebelum berpamitan, Lin menitipkan pesan padaku. “Setiap orang memiliki takdir yang baik jika ingin menikmati proses kehidupan. Nikmati meski harus gagal. Semua yang terjadi dalam hidup adalah pelajaran, dan terkadang itu datang dari hal sepele, seperti sampah,” ujar Lin sebelum kami saling berpamitan. ****

Komentar

News Feed