oleh

Jangan Mati di Tengah Pandemi

PROVINSI ini, memiliki sejumlah destinasi wisata yang tak kalah menarik dibandingkan destinasi di provinsi lain. Namun harus diakui, kunjungan ke destinasi di Sulbar masih terbilang kecil.

Laporan: Sudirman Samual, Mamuju

Jangan Mati di Tengah Pandemi

Beragam jenis wisata yang dapat dikunjungi di Bumi Malaqbi ini. Mulai dari wisata alam, budaya, bahari, cagar alam, pertanian, religi, sejarah, pendidikan hingga wisata belanja.

Panjang pantai Sulbar yang membentang sepanjang jazirah Mandar ini, mencapai 700 kilometer. Namun, provinsi ke-33 Indonesia ini pun punya wilayah pegunungan yang menawarkan nuansa khas. Kondisi geografis tersebut membuat Sulbar bisa menawarkan beragam pilihan kunjungan pada wisatawan.

Namun di tengah upaya membenahi objek wisata demi mengundang para pelancong, bumi diliputi pandemi. Covid-19 tiba-tiba menyerang, menghentak dan mematikan hampir seluruh aktivitas. Tidak terkecuali, aktivitas wisata.

Selama beberapa bulan pada fase awal serangan virus yang muncul pertama kali di Wuhan China itu, kebijakan pemerintah di sejumlah negara di dunia adalah berdiam di rumah bagi seluruh warga. Untuk menghindari virus, warga diimbau tidak melakukan kontak fisik dan berbaur dengan orang lain.

Kebijakan itu pun berlaku di Indonesia. Sekolah diliburkan, kantor-kantor ditutup, pabrik tak beroperasi, hingga aktivitas wisata mati. Orang-orang tak bepergian, dan hanya berdiam di rumah saja.

Namun beberapa lama, pemerintah mengeluarkan kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK). Warga boleh kembali beraktifitas di luar rumah, namun dengan catatan wajib mematuhi protokol kesehatan. Yaitu jaga jarak fisik, menggunakan masker, dan sering mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.
Ini menjadi peluang membangkitkan kembali gairah pada sektor wisata. Hingga triwulan tiga tahun 2020, hampir tak ada kunjungan wisatawan di Sulbar.

Jangan Mati di Tengah Pandemi
TANAMAN ANGGREK. Salah satu jenis tanaman anggrek yang dibudidayakan di green house di Desa Tondok Bakaru Mamasa.

Olehnya, Dinas Pariwisata Sulbar bergerak. Menggandeng media dalam Forum Group Discussion (FGD) dan FAM Trip Tour Jelajah Wisata Sulbar Marasa 1, medio November kemarin.

“Kita mencoba meningkatkan kunjungan wisata dengan memaksimalkan promosi pariwisata. Dengan adaptasi kebiasaan baru, perlahan kunjungan wisata mulai terbuka, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan,” kata Farid, akhir pekan lalu.

Ia sengaja melibatkan media guna memaksimalkan promosi pariwisata itu. Ia sangat yakin, media akan mampu menarik wisatawan luar masuk ke Sulbar.

Ia berharap, seluruh destinasi wisata tidak lesu apalagi mati di tengah pandemi ini. Malah seharusnya objek-objek wisata berbenah, sebab dengan AKB maka orang-orang mulai kembali beraktifitas. “Banyak yang akan memanfaatkan waktu dengan wisata, setelah mereka jenuh pada aktivitas keseharian,” terangnya.

Spot wisata yang dinilai dapat sangat menjual, berada di Kabupaten Mamasa. Kabupaten tersebut, memang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Sulbar sebagai daerah destinasi wisata.

Kabupaten Mamasa terletak pada ketinggian 600-2.000 meter di atas permukaan laut. Daerah ini bergelar Bumi Kondosapa Uhai Sapalelean. Selain kondisi geografis khas pegunungan, ragam budaya peninggalan leluhur pun masih terjaga baik. Sehingga dengan kemasan paket wisata maka daerah ini dapat menarik lebih banyak pengunjung.

Villa Edelweis, hutan pinus dan wisata anggrek adalah satu paket wisata alam di Mamasa. Tepatnya di Desa Tondok Bakaru. Pulang dari desa itu, bisa menuju Air Terjun Liawan.

Pemandangan persawahan pada jalur ke area wisata Tondok Bakaru, menambah daya tarik. Di Tondok Bakaru, ratusan tanaman anggrek dikoleksi dalam sebuah kotak khusus (green house). Sementara,
Villa Edelweis menawarkan panorama embun pagi sebelum hilang terbawa angin.

Pengunjung dapat menikmati suasana pagi, mentari mengintip diantara pucuk pohon pinus membuat gumpalan awan memancarkan warna keindahan alam.
“Villa Edelweis ini sudah dua tahun terus kedatangan pengunjung. Kecuali saat Pandemi, agak kurang,” tutur Petrus.

Di Desa Tondok Bakaru yang sejuk, masih terasa hawa hutan pinus. Pengelola area itu, Benyamin, menamai hutan pinusnya dengan ‘Wisata Lenong.

“Masa pandemi kami kekurangan pengunjung. Biasanya, 700 pengunjung memadati area ini saat Natal tiba,” sebutnya.

Menuruni bukit, pengunjung dapat mampir di sebuah green house seluas 10×10 meter persegi. Green house itu sebagai tempat untuk budidaya anggrek.

“Budidaya anggrek ini insiatif pemuda di Mamasa. Dua tahun berjalan, terdapat beberapa endemik langka yang ditemukan. Budidaya anggrek pun terus berkembang dan mendatangkan keuntungan. Bisa mencapai puluhan juta per bulan,” terang
Pengelola Green House Orchid, Andrea.

Ada ratusan anggrek yang dilestarikan oleh sejumlah komunitas Orchid di Mamasa. Tanaman itu diambil dari beberapa titik di hutan pinus, lalu dilestarikan sekaligus menjadi edukasi bagi generasi agar mencintai alam.

Ada pula salah satu kain tenun tradisional di wilayah ini, dapat menjadi oleh-oleh khas. Namanya Tenun Sambu, yakni sebuah sarung hasil tenun tradisional khas Mamasa.

Kemudian, pengunjung dapat menikmati dinginnya Air Terjun Liawan. Menjangkau kawasan ini, pengunjung harus berjalan kaki selama 30 menit. Melewati setapak di tengah persawahan.

Hari yang panjang melewati titik wisata alam di Mamasa.

Khusus untuk pengembangan budidaya orchid, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulbar memberi perhatian khusus. Analis Fungsi Implementasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah KPw BI Sulbar, Rizky Satya Pradhana membeberkan, pihaknya mendukung pengembangan orchid di Mamasa. Termasuk membantu dalam melakukan Digital Talk Tourism.
“Kita mau kemas wisata anggrek dan agrowisata Anggrek,” tuturnya.

Terlibat dalam pengembangan pariwisata di provinsi ini, bagi KPw BI Sulbar, bukanlah hal baru. Beberapa program sudah dijalankan. Yakni, perbaikan kualitas dermaga Pulau Karampuang dengan anggaran yang mencapai Rp 600 juta. “Sekarang kami benahi dermaganya,” ungkapnya.

Program lain, peningkatan keragaman atraksi pada event Sandeq Run dengan melibatkan 550 runner. Event ini didominasi dari luar Sulbar. Juga ada keterlibtan dalam Sandeq Race dan Festival Maradika. Program rutin lainnya seperti Underwater Photography Competition. (*)

Komentar

News Feed