oleh

Jajanan Sehat, Generasi Cerdas

MAMUJU–Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Mamuju, terus mendorong Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) bebas dari bahan berbahaya. Jajanan sehat dan bergizi yang dikonsumsi anak di sekolah, bisa mendorong kecerdasan anak. Sebaliknya, jajanan yang tidak sehat bisa memunculkan berbagai masalah bagi anak, termasuk keracunan.

Melalui program intervensi keamanan PJAS, BPOM mengundang para kepala sekolah, petugas pengelola kantin dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dalam bimbingan teknis (Bimtek) pengenalan bahan makanan berbahaya, di Aula Kantor Gubernur Sulbar, Selasa 6 Agustus.

Sebanyak 172 peserta perwakilah terdiri dari 86 kepala sekolah dan 86 pengelola kantin dan UKS, hadir dalam kegiatan tersebut. Hal itu dianggap sangat penting, mengingat laporan tahunan BPOM RI tahun 2017, lembaga pendidikan menempati posisi kedua tempat Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan dengan presentase 28,30 persen. Pangan jajanan menyumbang hingga 24,53 persen.

Kepala BPOM di Mamuju, Netty Nurmuliawati mengatakan, keamanan dan mutu pangan di lingkungan sekolah ditentukan kebijakan sekolah. Pengetahuan dan kepedulian pengelola kantin menjadi ukuran terciptanya pangan aman dan bermutu.

“Para perwakilan sekolah diberikan pemahaman tentang pangan sehat dan bergizi. Juga tentang bahan-bahan yang berbahaya bagi makanan. Nantinya kami akan mengawasi jajanan anak sekolah,” kata Netty, saat ditemui di Kantor Gubernur Sulbar, Selasa 6 Agustus.

Sekolah, lanjut Netty, diharapkan menerapkan praktik keamanan pangan, antara lain menyiapkan hygiene sanitasi, menjual pangan olahan yang terdafatar di BPOM dan menyiapkan tempat cuci tangan.
“Pekan depan mulai dilakukan pengawasan. Pada akhir program bakal diberikan piagam bintang bagi sekolah yang benar-benar menerapkan praktik keamanan pangan,” sebut Netty.

Netty berharap, program PJAS bersinergi dengan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) untuk menangani stuting.

Kegiatan Bimtek juga dirangkaikan dengan penandatanganan kesepakatan antara BPOM di Mamuju dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulbar, tentang pengawasan isi siaran terhadap iklan, publikasi, promosi obat dan makanan di Sulbar.

“Melalui kesepakatan ini, diharapkan masyarakat memperoleh informasi yang layak tentang obat dan makanan melalui media televisi,” harap Netty.

Ketua KPID Sulbar, April Ashari Hardi, mengatakan semua iklan di televisi dan radio yang berkaitan dengan obat dan makanan bakal diawasi. “Kami punya bidang siaran, mereka yang mengawasi isi konten iklan nantinya. Kalau melanggar bakal ditegur,” tandas April. (m2)

Komentar

News Feed