oleh

Jafar Abdullah, dari Mandar ke Mahakam

MENJADI pesepakbola yang hebat tak semudah yang kita bayangkan. Perlu kerja keras, ketekunan dan sabar agar bisa mencapai kesuksesan.

Oleh: Yudi Sudirman 
(Pengamat/Pemerhati Sepakbola)

Hal itulah yang dirasakan oleh Jafar Abdullah, pesepakbola kelahiran Tinambung, Kabupaten Polmas (sekarang Polman), 20 Agustus 1975.

Jafar Abdullah, dari Mandar ke Mahakam

Jafar Abdullah mulai mengenal bola sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia dan teman-temannya memanfaatkan hamparan pasir di pinggiran Sungai Mandar sebagai lapangan dan potongan bambu sebagai tiang gawangnya.

“Kebetulan rumah dekat sungai, jadi mainnya disitu,” kata Jafar kepada penulis.

Ia sering ikut pertandingan antar anak-anak, yang disponsori oleh orang dewasa dengan pemain lima sampai enam orang satu tim. Menggunakan bola plastik tanpa sepatu.

Masa SMA dan PS Polmas

Melanjutkan pendidikan SMA, Jafar semakin intens dalam latihan sepakbola. Apalagi sekolahnya, SMA 2 Majene, merupakan sekolah tempat menyatunya pemain berbakat dari Majene dan Tinambung.

Tak heran kalau sekolah ini menorehkan segudang prestasi khususnya cabang olahraga sepakbola di Kabupaten Majene kala itu.

Masih duduk di bangku SMA, Jafar Abdullah juga sudah tercatat sebagai pemain PS. Polmas. Ia kerap mengikuti turnamen bersama tim yang diarsiteki oleh Ahmad Sukri tersebut.

Juara Porwil, hingga mewakili Wilayah 1 pada Porda yang dihelat di Makassar.

Usai laga Porda, Jafar terpilih menjadi pemain yang mengisi skuad Sulsel pada Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) II 1993 yang berlangsung di Stadion Siliwangi Bandung, Jabar.

Dan pada tahun 1994, Jafar berhasil mempersembahkan juara untuk PS Polmas pada turnamen Habibie Cup V, setelah dipartai puncak menundukkan PSM Makassar dengan skor 1-0.

Tahun 1996 nyaris meloloskan PS. Polmas ke perempat final divisi II andai saja tidak kalah selisih gol dari PSPS Pekanbaru. Dan itu merupakan prestasi tertinggi PS. Polmas yang sudah tidak pernah terulang hingga saat ini.

Bergabung di PSM-B dan PON Sulsel

Usai berlaga di divisi II bersama PS. Polmas, Jafar Abdullah kembali ke Makassar, mengikuti jejak Arief Kamaruddin yang tak lain adalah kakak sepupunya.

Sebagai langkah awal, ia mengikuti seleksi dan langsung diterima di PSM-B.

“Saat itu PSM-B dilatih oleh Johannes Deong dan Assegaf Razak, latihannya di Lapangan Karebosi,” urai Jafar Abdullah.

Jelang ligina II, barulah ia bergabung dalam seleksi di tim senior PSM, namanya dinyatakan lolos dalam daftar 25 pemain bersama talenta muda lainnya, seperti Yuniarto Budi dan Rivai Jufri.

Baru dua bulan bergabung di mess PSM di Jl. Mapala, Kota Makassar, waktu itu, kabar duka pun menerpanya dengan meninggalnya ibu yang sangat dicintainya.

Atas musibah itu, Jafar Abdullah minta izin untuk pulang ke Mandar mengantar jenazah orang tuanya yang meninggal di salah satu rumah sakit di Makassar.

“Sangat terpukul dengan musibah ini, setiap hari saya pikirkan membuat semangatku berkurang, sehingga lama di kampung dan tidak kembali ke mess lagi,” kenangnya.

Nanti setelah ada panggilan untuk memperkuat Pra PON Sulsel baru kembali ke Makassar.

Bersama Adam Roy, rekannya dari PS Polmas ,ia berhasil mengantarkan Tim Pra PON Sulsel lolos di Zona Sulawesi, sehingga berhak mendapatkan tiket untuk berlaga pada PON XIV/1996 yang berlangsung di Jakarta.

Usai gelaran PON, Jafar Abdullah kembali ke Tanah Mandar dan istirahat selama satu tahun.

Komentar

News Feed