oleh

Iswadi Syukur, Berawal dari Papalang, Berakhir di Semarang

“Iswadi, saya tau ini susah, tapi tidak mungkin saya turunkan kamu, kalau saya anggap kamu tidak bisa,” bisik Henk Wullems, Pelatih PSM, ketika hendak menurunkan Iswadi dalam sebuah laga.

Oleh: Yudi Sudirman (Pemerhati/Pengamat Sepak Bola)

Sama seperti pemain lain sebelumnya (pesepak bola dari Mandar), Iswadi Syukur juga mulai main bola sejak masih duduk di bangku SD.

“Di depan SD Papalang, ada lapangan mini. Saya dan kawan-kawan kerap main disitu,” tutur Iswadi mengawali perbincangan dengan penulis.

Masuk SMP, Iswadi sudah mulai main di lapangan Merdeka Mamuju, karena pendidikan SMP dan SMA nya dilanjutkan di Kota Mamuju, yang berjarak sekitar 60 kilometer dengan waktu tempuh sekira satu jam dari kampung halamannya.

Dari sini Iswadi sudah menunjukkan bakatnya dan bergabung dengan PS. Putra Manakarra, klub yang bermarkas di lingkungan Galung, Kelurahan Binanga, Mamuju. Ia merumput bersama pemain muda lainnya seperti Raslim A’ling, Saharuddin Nas, Ahmad Udin, dll.

Di PS. Putra Manakarra, Iswadi dipanggil untuk bergabung dengan Persimaju Mamuju mengikuti beberapa turnamen, seperti Liga Sulsel, Porwil dan beberapa kejuaraan lainnya.

Dari sejumlah rangkaian turnamen yang diikuti bersama Persimaju Mamuju, membuat Pelatih Gasman Majene, H. Gosse Halim, memanggilnya bersama tiga rekan lainnya dari Mamuju, yakni Masjaya, M. Yusuf dan Saharuddin Nas untuk mengikuti Liga Remaja PSSI Grup IX Sulawesi yang dihelat di Stadion Klabat Manado, Sulawesi Utara.

Semasa SMA, Iswadi sudah diminta untuk masuk Diklat PPLP Makassar. Namun orang tuanya belum mengizinkan, karena harus menyelesaikan dulu pendidikan SMA-nya di Mamuju.

Kuliah dan Main Bola di Makassar

Setelah tamat SMA, niatnya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tapi belum sempat mendaftar, ia kembali mendapat panggilan dari Bapak Mustari, Pelatih Diklat PPLP Makassar kala itu, untuk segera bergabung di Diklat PPLP Makassar.

Padahal menurutnya, untuk masuk Diklat PPLP umur harus masih tingkat SMA. Sehingga rencana untuk kuliah terbengkalai selama satu tahun karena fokus berlatih di Diklat PPLP Makassar.

Nanti pada penerimaan mahasiswa baru tahun berikutnya, baru terdaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar.

Bersama Diklat PPLP pula, Iswadi merasakan juara turnamen antar klub PSM di lapangan Karebosi.
Iswadi yang turun dengan penampilan cemerlang, memborong lima gol dalam laga final yang berkesudahan 5-0.

Selesai turnamen antar klub tersebut, Iswadi mendapat panggilan untuk bergabung dengan PSM Junior yang akan berlaga pada Habibie Cup XI tahun 2000 di Stadion Bau Massepe Kabupaten Pinrang.

Pulang dari Habibie Cup, Pelatih Persim Maros, M. Basri, mendaftarkan namanya di Persim Maros untuk diberangkatkan ke Soppeng mengikuti Devisi II PSSI Zona Sulawesi Selatan.

“Selama di Soppeng, ternyata undangan seleksi PSM Makassar, dua kali datang di indekost, tempat Iswadi menetap selama di Kota Daeng, nanti undangan terakhir seleksi baru saya dapat, setelah pulang dari Soppeng,” urainya.

Bergabung dengan PSM

Pada seleksi terakhir ini, Iswadi benar-benar memanfaatkan dengan baik, mengeluarkan segala kemampuan yang dimilikinya.

Dia ditempatkan di PSM B melawan PSM A. Seleksi ketat yang berlangsung di Lapangan Karebosi tersebut, Iswadi mengikutinya dengan penuh percaya diri. Alhasil, ia memborong tiga gol untuk PSM B.

Tanpa basa-basi Syamsuddin Umar, pelatih PSM, langsung mengajaknya untuk bergabung di Mess PSM Makassar.

Musim 2000/2001 adalah musim pertamanya bermain di kasta tertinggi, Liga Indonesia. Apalagi musim ini skuad Pasukan Ramang dituntut untuk mempertahankan gelar juara yang baru saja diraihnya.

Debutnya bersama Juku Eja, pada laga away berhadapan dengan Persijap di Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara.

Champions Asia dan Vietnam

Musim ini juga PSM Makassar mengikuti Piala Champions Asia sebagai wakil Indonesia setelah Juara Ligina. Kiprah Pasukan Ramang terbilang lumayan dengan menembus perempat final Liga Champions Asia 2000-2001.

Momen yang tidak dapat dilupakan Iswadi adalah ketika berhadapan dengan wakil dari China, Shandong Luneng, yang kebetulan penulis juga ikut menonton laga ini.

Pada saat itu PSM Makassar yang sudah tertinggal 0-3, Henk Wullems langsung mendekati dan menepuk keras bahu pemain bernomor punggung 5 ini setelah selesai melakukan gerakan pemanasan. Lalu Henk Wullems membisikkan sebuah pesan pada Iswadi.

“Iswadi, saya tau ini susah, tapi tidak mungkin saya turunkan kamu, kalau saya anggap kamu tidak bisa ” tutur Iswadi menirukan bisikan pelatih berkebangsaan Belanda tersebut.

Di hadapan belasan ribu penonton yang memadati Stadion Mattoanging malam itu, beberapa media asing juga meliput jalannya pertandingan.

Iswadi masuk di pertengahan babak kedua menggantikan Miro Baldo Bento. Baru sepuluh menit masuk menjadi pemain pengganti, ia langsung mendapat umpan lambung dari sisi kanan. Dengan cekatan, Iswadi menyambut bola dengan sundulan, bola masuk dan menggetarkan gawang Shandong Luneng, hingga memperkecil kekalahan menjadi 1-3.

“Itu gol semata wayang saya di level Internasional,” ujar Iswadi mengenang golnya ke gawang Shandong Luneng.

Terhenti di perempat final Piala Champions Asia, terbayarkan dengan raihan juara pada laga Internasional Ho Chi Minh City Cup 2001 di Vietnam.

Pada turnamen Ho Chi Minh City Cup ini, PSM Makassar mewakili Indonesia dengan kapasitas sebagai tim juara pada musim 2000/2001. Diturnamen ini ada lima pemain pinjaman (luar PSM) yang dipanggil berangkat ke Vietnam. Selebihnya skuad asli Juku Eja.

Iswadi sebenarnya tidak masuk dalam daftar yang mau diberangkatkan ke Vietnam. Namun dua hari menjelang keberangkatan, PSM Makassar masih menjalani laga kandang melawan Arema Malang di Stadion Mattoanging.

Laga tersebut menjadi penentu buat Pasukan Ramang. Apabila menang akan menempati puncak klasemen untuk wilayah timur di paruh musim.

Dan pada pertandingan ini PSM Makassar menang 2-0. Dua gol kemenangan itu lagi-lagi diborong oleh Iswadi. Berkat dua gol tersebut tak ada pilihan lain bagi manajemen dan pelatih PSM Makassar selain memberangkatkan Iswadi ke Vietnam.

Prestasi Bersama Juku Eja

Di akhir musim 2000/2001, PSM Makassar nyaris saja mempertahankan gelar juara, andai di final mampu menaklukkan Persija ‘Macan Kemayoran’ Jakarta, yang menang dengan skor 3-2.

Musim 2001/2002, PSM Makassar hanya sampai di semifinal. Musim berikutnya, 2002/2003 finish sebagai Runner Up, setelah terpaut 5 poin dari Persik Kediri.

Musim 2003/2004 kembali menjadi Runner Up, meski sama poin dengan Persebaya “Green Force” Surabaya, namun PSM kalah dalam selisih gol.

Atas capaian itu, Iswadi Syukur mendapat panggilan dari PSSI untuk mengisi skuad Timnas Indonesia di SEA Games 2003, bersama Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono.

Namun, belum sempat bergabung, Iswadi mengalami cidera serius setelah mendapat tekel keras dari pemain Persik Kediri. Kondisi itu memaksanya istirahat sampai akhir musim 2003/2004 yang merupakan musim terakhir membela ‘Ayam Jantan dari Timur’.

Cidera dan Mengembara

Lama berkutat dengan cidera dan perpanjangan kontrak yang tidak jelas dengan Manajemen PSM Makassar, membuatnya pulang ke kampung halamannya di Papalang untuk menjalani pengobatan alternatif.

“Hanya tiga kali disentuh oleh dukun yang masih terbilang keluarga, cidera berangsur membaik. Langsung bisa joging dan latihan ringan,” ucap Iswadi.

Mulai pulih dari cidera, tiba-tiba mendapat panggilan dari Manajemen Barito Putera yang berjuang di Devisi I Liga Indonesia.

Bersama ‘Laskar Antasari’, Iswadi didapuk jadi kapten kesebelasan, sampai jadi top skorer untuk klub yang bermarkas di Banjarmasin itu.

Saat memperkuat Barito Putera, dia sempat berhadapan dengan adik kandungnya, Lubis Syukur, yang membela Persim Maros.

Penulis masih ingat sampul depan salah satu koran tentang laga Barito Putera vs Persim Maros ini dengan judul “Pertemuan dua Bersaudara” .

Satu musim bersama Barito Putera, pindah ke Persekabpas Pasuruan, selama semusim dan berhasil mengangkat ‘Laskar Sakera’ finish di urutan kelima Divisi Utama.

Musim berikutnya, bersama Lubis Syukur, dua bersaudara ini menjadi punggawa ‘Pendekar Cisadane’ Persita Tangerang.

Kemudian berhasil meloloskan Persitara Jakarta Utara ke Liga Super. Sempat juga semusim di Pulau Sumatera memperkuat Persih Tembilahan Kepulauan Riau di Devisi Utama.

Kembali satu tim dengan adiknya Lubis Syukur di Tangerang bersama ‘Tim Bayi Ajaib’ Persikota Tangerang. Selesai di Persikota, melanjutkan petualangannya ke ‘Bukit Tursina’ PKT Bontang.

Hingga saatnya, mengakhiri karirnya sebagai pesepak bola bersama ‘Laskar Mahesa Jenar’ PSIS Semarang.

Sekarang Iswadi Syukur, memulai karirnya sebagai pelatih berlisensi C, di PS Mamuju Tengah.

“Buat adik-adik, khususnya di Sulbar yang ingin jadi pesepakbola, berlatihlah dengan baik, karena sekarang sudah terbuka semua akses untuk menjadi pemain profesional. Ada banyak SSB tempat kita berlatih. Beda dengan kami dulu, murni bakat alam yang tidak dilatih. Jangan cepat puas dan jangan mudah menyerah,” ucap Iswadi mengakhiri perbincangan. (*)

Komentar

News Feed