oleh

Isra’ Mi’raj dan Kesadaran Spritualitas

AKTIVITAS kemanusiaan yang tidak diterangi cahaya Ilahi, bagaikan orang berjalan di atas lorong setan yang gelap. Dan orang yang hanya sekedar percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menumbuhkan sifat-sifat atau nilai spiritual-religius di dalam dirinya, maka ia bagaikan iblis yang bergentayangan.

Oleh: Nuryadi, S.H (Kader Gerakan Pemuda Ansor Cabang Polman)

Isra’ Mi’raj menyimpan banyak hikmah dan ibrah bagi orang-orang yang berakal sehat. Umat Islam berbondong-bondong memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tampaknya, peringatan kali ini menuntut kita untuk benar-benar melakukan Mi’raj menuju kesempurnaan spiritual.

Artinya, bagaimana menjadikan salat ‘buah tangan’ Nabi SAW ketika melakukan Mi’raj langsung dengan Allah SWT sebagai wahana menuju kesempurnaan spiritual. Dalam arti, mampu berimplikasi positif sekaligus reformatif bagi perilaku kita sehari-hari.

Meski umat Islam di negeri ini mayoritas, tetapi ada sebuah fakta bahwa di era reformasi ini terdapat kecenderungan pada lapisan atau kelompok sosial tertentu ke arah situasi keterasingan yang tampil dengan ciri masyarakat serba boleh.

Secara historis, kecenderungan alienatif semacam itu pernah terjadi dalam masyarakat Arab pra-Islam, sebelum Nabi Muhammad SAW menjalankan misi profetiknya sebagai nabiyullah Ironisnya, kini hadir kembali dalam sejarah masyarakat modern yang menganut paham permisivisme, liberal, dan semacamnya. Tak terkecuali bangsa Indonesia yang notabene mayoritas mengklaim diri sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Meski kita telah masuk orbit reformasi selama kurang lebih 20 tahun, tapi nyatanya kita malah berada dalam kekuasaan para elit politik. Bahkan ulama dan intelektual dari negeri seribu etnis ini hanya sibuk berebut kekayaan dan kue-kue kekuasaan dengan cara-cara tribal.

Peringatan Isra’ Mi’raj kali ini, dalam perspektif Islam, kesadaran spiritualitas berhimpit erat dengan kesadaran manusia. Artinya, semakin tinggi kesadaran keberagamaan seseorang, semestinya kian tinggi pula kualitas kemanusiaannya.

Hal ini dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam Mi’rajnya ketika ‘beraudiensi’ langsung dengan Allah SWT. Baginya, “Mi’rajnya manusia ke angkasa luar bukanlah sebuah upaya pendakian spiritual untuk berpaling dari tanggung jawab kemanusiaan, melainkan justru dengan Mi’raj itu bisa terjalin kontak antara Kehendak Yang Suci yang berada di langit dan orientasi manusia yang berada di bumi”.

Dengan demikian, menurut konsepsi Islam, nilai kemanusiaan hanya bisa dipahami ketika semua perilaku lahir batinnya diorientasikan kepada tuhan. Dan pada saat bersamaan juga membawa implikasi konkrit terhadap upaya meningkatkan nilai kemanusiaan.

Untuk memelihara dan mengintensifkan jalinan organik ini, salah satu cara yang harus ditempuh seorang muslim adalah meningkatkan kesadaran spiritualitas dan religiusnya melalui salat.

Salat bisa dipandang sebagai institusi iman, di mana sebuah keyakinan dan orientasi keilahian diaktualisasikan dan dikaitkan dengan orientasi praksis untuk mewujudkan the human right. Sebagaimana yang kita pahami.Namun keduanya menyatu dalam sebuah kesadaran batin, sehingga bagi seorang muslim, dalam perilaku kemanusiaannya hendaklah sesuai norma Ilahi.

Dalam level ini, barangkali kita menamakannya sebagai satu kesatuan gerak. Gerakan keilahian dan sekaligus gerakan kemanusiaan. Jadi, mengingat posisi sentral yang diperankan manusia dalam jagad raya ini (khalifatullah fil ardl), keagungan sesungguhnya tak bisa dipahami tanpa ada keterkaitan dengan tuhannya.

Demikian juga, bila ridho Ilahi tak lagi menjadi pusat orientasi manusia, kualitas motivasi kehidupan akan menjadi rapuh, dan manusia bisa jadi terperangkap pada posisi bermusuhan melawan transformasi sosio kultural, dan pasti manusia dalam posisi yang kalah.

Keberhasilan dan kegagalannya akan diukur dengan, apakah semuanya itu akan menyuburkan nilai spiritualitas dalam kehidupan kemanusiaan atau malah sebaliknya. Di sinilah kebertuhanan dan kebermanusiaan menjadi semacam ‘poros tengah’ dan sekaligus tolok ukur dalam mengevaluasi proses reformasi bangsa ini.

Dalam konteks ini, patut dicamkan ‘teori cermin’ Imam al-Ghazali. Dalam karya magnum opus-nya, Ihya’ Ulum al-Din, beliau mengatakan: “Aktivitas kemanusiaan yang tidak diterangi cahaya Ilahi, bagaikan orang berjalan di atas lorong setan yang gelap, dan orang yang hanya sekedar percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menumbuhkan sifat-sifat atau nilai spiritual-religius di dalam dirinya”.

Dengan demikian, visi ketuhanan dan kemanusiaan yang berakar pada setiap individu harus terjelma dalam tata nilai perilaku kehidupan sehari-hari. Inilah yang diajarkan dalam ibadah shalat. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu akan mencegah (kamu) dari melakukan perbuatan keji dan mungkar” (QS.29:45).

Kalau saja dalam proses reformasi bangsa ini tak lagi memuat nilai spiritualitas dan religius, moralitas dan kehidupan manusia macam manakah yang akan muncul? Sebaliknya, kalau saja keberagamaan itu hanya dihayati sebagai urusan individu untuk mendapatkan ketenangan dan menjadi media penebus dosa setelah bergelimang kezaliman. Maka poin pentingnya yaitu Muhammad-kan lah dirimu. (***)

Komentar

News Feed