oleh

Irsyad Aras, Wujudkan Mimpi Demi Bahagiakan Orang Tua

Terpacu dengan keinginan menjadi pemain bola setelah melihat beberapa pendahulunya dari Polewali Mandar (Polman) sukses di berbagai klub profesional, Irsyad Aras mulai mengasah bakatnya sejak usia 12 tahun.

Oleh:
Yudi Sudirman
(Pemerhati/Pengamat Sepak Bola)

Sejak SMP, Irsyad sudah terbiasa dengan kehidupan yang disiplin. Karena orang tua seorang petani, setiap hari ia wajib membagi waktu membantu bapaknya di sawah. Setelah itu baru pergi latihan main bola. “Bapak cukup mendukung saya main bola, sayang sekali dia meninggal ketika saya masih SMP. Sehingga beliau tidak melihat saat saya sukses jadi pemain profesional,” ucap pria kelahiran Polman, 4 Maret 1979 ini.

Mewujudkan mimpi tidak semulus apa yang dia bayangkan. Tak jarang dia mendapat cemoohan, karena katanya pemain bola adalah aktivitas bagi orang yang tidak punya pekerjaan. Sampai ada yang mencela karena kondisi fisik Irsyad yang kecil yang menurut mereka tidak ideal untuk menjadi pesepakbola. “Saya tidak patah semangat, semua menjadi motivasi buat saya. Saya harus sukses. Olehnya itu menjadi seorang pemain persiapan mental paling utama,” terang pesepakbola dengan tinggi badan 1,75 meter ini.

Awal Karir Bersama PS. Polmas

Kelas satu SMA, sudah dipanggil Askab PSSI Polmas, untuk ikut diberbagai turnamen seperti: Piala Suratin, kejuaraan pertama kali yang diikutinya di Kabupaten Pinrang. Kemudian Pra Porda di Majene dan berhasil keluar sebagai Juara I, setelah membekuk tuan rumah Gasman Majene. Selanjutnya Porda Sulsel di Makassar, hanya mampu meraih medali Perunggu. Dari ajang itu, Irsyad Aras terpantau untuk mengisi skuad PS. Polmas.

Bersama ‘Tim Sandeq’, Julukan PS. Polmas, sebelum berdiri menjadi PS. Sandeq, Irsyad Aras semakin menunjukkan kemampuannya di beberapa turnamen yang diikuti tim besutan Ahmad Sukri tersebut. Diantaranya: Tiga kali Juara Habibie Cup (turnamen paling bergengsi di Sulawesi Selatan). Torehan juara itu diraih pada Habibie Cup V 1994 di Pare-Pare, Habibie Cup IX 1998 di Polmas, Habibie Cup XI 2000 di Pinrang (Juara bersama dengan Perspin Pinrang) ikut di Liga Sulsel (turnamen sepakbola yang diikuti oleh seluruh Kabupaten di wilayah Sulawesi Selatan kala itu).

Selain itu mengantar PS. Polmas ke Final Divisi II PSSI yang dilangsungkan di Stadion Lakidende Kendari. Sayang, di partai puncak tersebut ada insiden yang mengakibatkan pertandingan terhenti dan Persim Maros dinyatakan sebagai pemenang.

Panggilan Pertama ke PSM

Saat PS. Polmas juara setelah menaklukkan PS. Bosowa Makassar di final Habibie Cup yang dihelat di Stadion S. Mengga Polewali, Irsyad Aras langsung mendapat panggilan ke PSM Makassar untuk bergabung di musim 1998/1999.

Pada musim ini, Irsyad Aras yang merupakan pemain muda, tidak pernah mendapat menit bermain, karena beberapa pemain senior sulit digeser diposisinya. Kerap dibangkucadangkan, kemudian mendapat panggilan di Pra PON Sulsel Tahun 2000, membuat Irsyad Aras lebih memilih bergabung di tim Pra PON. Namun tim sepakbola Sulawesi Selatan pada saat itu tidak lolos dan Irsyad memilih untuk pulang kembali ke Polman.

Tarkam ke Luar Pulau

Setelah kembali ke Polewali, Irsyad mendapat panggilan main antar kampung (tarkam), namun tarkam-nya kali ini diselenggarakan di ibukota Jakarta. Macan Cup, turnamen yang disponsori oleh Alm. H. Usman (pengusaha asal Majene) di bilangan Kalijodo, Jakarta Utara.

Turnamen ini, diikuti oleh beberapa klub amatir yang dimanejeri beberapa orang Mandar, seperti Lontar United, Gastol dan Muara Karang. FC. Macan Cup, digelar setiap libur musim kompetisi kala itu, sehingga banyak nama-nama beken yang ikut bermain dalam turnamen ini. Seperti: Zaenal Arif, Yuniarto Budi, Marwal Iskandar, Ilham Jayakusuma, Ritham Madubun,Feri Sandria dan Adam Roy.

“Itu tarkam paling berkesan, karena saya bisa bermain dengan pemain yang sudah punya nama besar, saya lumayan lama disana, apalagi kawasan itu dihuni oleh mayoritas pendatang dari Sulawesi termasuk Mandar,” terang Irsyad.

Selesai Macan Cup, Irsyad melanjutkan petualangannya main tarkam. Kali ini kota tujuannya adalah Balikpapan, Kalimantan Timur. Di Balikpapan, Irsyad Aras bergabung dengan AJ Putra, klub binaan H. Rahmat Mas’ud (Walikota Balikpapan terpilih, pada Pilkada serentak 2020 ). Bersama AJ. Putra dia mengikuti kompetisi internal Persiba Balikpapan.

“Di Balikpapan juga saya lama, saya dan teman-teman tinggal di sebuah ruko yang lantai dasarnya ada Wartel (Warung Telkom) dan kami berada dilantai dua,” Imbuhnya.

Selain mengikuti kompetisi internal Persiba, Irsyad bersama dua rekan lainnya, Aco Bello dan Ismail, juga ikuti seleksi Persiba Balikpapan yang dipersiapkan untuk Divisi II. Irsyad dan rekannya sudah dinyatakan lolos pada tahap seleksi, namun diwaktu yang sama, Irsyad juga mendapat telepon dari Ayyub Khan (Pelatih PS. Sandeq).

“Saya diminta untuk pulang ke Polewali, karena saya dibutuhkan oleh PS. Sandeq, dan dijanji akan dipekerjakan sebagai pegawai di PDAM Polman,” Ujar Irsyad. Akhirnya Irsyad Aras pulang kampung. Sementara dua rekannya masih memilih untuk bertahan bersama tim ‘Selicin Minyak’ Persiba Balikpapan.

Kembali ke Sandeq dan Bekerja di PDAM

Pulang dari tarkam, Irsyad kembali bergabung dengan Tim Sandeq dan memulai aktivitas baru sebagai pegawai di PDAM Polman atas rekomendasi Hasyim Manggabarani, Bupati Polman kala itu. Selama di Polman, Irsyad semakin fokus dan meningkatkan porsi latihannya. Hal ini diungkapkan oleh rekan setim Irsyad Aras di PS. Polmas, Enso Tenggara.

“Irsyad memang beda dari pemain lain. Kalau kami latihan dua kali sehari, dia malah menambah jadi tiga kali sehari,” tutur Enso, senior Irsyad Aras di PS. Polmas.

Persim Maros dan PSM

Baru beberapa bulan jadi pegawai di PDAM Polman, Manajemen Persim Maros mendatangi rumah Irsyad Aras dan mengajaknya bergabung dengan tim yang bermarkas di Stadion Kassi Kebo tersebut. Tidak berselang lama, utusan dari Manajemen ‘Pasukan Ramang’ juga datang menemuinya.

“Saya ikut di Persim Maros, karena mereka yang pertama dan saya sudah iyakan sebelumnya,” jelas bapak lima anak ini. Irsyad Aras akhirnya pamit ke pengurus PS. Polmas sekaligus mengundurkan diri sebagai pegawai di PDAM Polman.

Hajikan Ibu

Musim 2002/2003, merupakan awal Irsyad Aras bergabung dengan Persim Maros. Dia menjadi bagian dari “Laskar Marusu’ bersama Syamsidar, Aslan, Deny Tarkas, dan Isdar Nasrun. Pada musim ini Irsyad mampu mengantar ‘The Butterfly’ di peringkat tujuh Divisi I.

Gaji dari klub yang disponsori Bosowa Group ini terbilang cukup dan lancar. Sehingga di musim pertama ini juga, Irsyad Aras menyisihkan sebagian penghasilannya untuk mewujudkan mimpi yang dipendamnya sejak lama yakni memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci, Mekah, untuk menjalankan ibadah haji. “Itu Impian besar saya, sejak awal memulai karir di sepakbola ” tutur kakak kandung Ardan Atas ini.

Musim 2003/2004, Irsyad kembali mendapat pinangan dari manajemen PSM Makassar. Namun dia sudah terlanjur nyaman bersama Persim Maros. “Enjoy disini, manajemen dan pemain lainnya sudah seperti keluarga,” tambahnya.

Sehingga untuk tidak membuat kecewa Manajemen PSM Makassar, Irsyad Aras berjanji akan bergabung setelah musim keduanya di Persim Maros telah selesai.

Enam Musim di PSM

Setelah musim keduanya di Persim Maros berakhir, Irsyad Aras langsung memenuhi janjinya bergabung dengan skuad Ayam Jantan dari Timur. Musim pertamanya, nyaris juara, meski mengantongi poin yang sama (61), hanya kalah selisih gol dari Persebaya ‘Bajul ijo’ Surabaya.

Selama di PSM Makassar, dia kerap jadi starter, dia selalu mendapat kepercayaan dari Miroslav Janu, pelatih PSM. Rekan setimnya pun suka dengannya. Selain hebat di lapangan, dia pribadi yang baik di luar lapangan. Hal itu diungkapkan Ronny Ririn, rekan setim Irsyad selama di PSM.

“Irsyad Aras punya bakat alami, dribbling-nya bagus, dan stamina yang prima, dia juga tidak terpengaruh dengan senior-seniornya, ramah dan rajin salat,” ujar Ronny Ririn kepada penulis.

Enam musim di PSM, bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula wajahnya kerap terpampang di beberapa media cetak di Makassar. Setiap Matchday, belasan ribu pasang mata melihatnya di bawah sorotan lampu stadion, gocekan kakinya kala melewati pemain lawan mengundang decak kagum suporter yang dikenal fanatik.

Selain pujian dari suporter PSM, tak jarang Irsyad mendapat teror dan makian dari suporter lawan. Seperti yang dialaminya kala bermain di Copa Dji Sam Soe. Waktu itu bertandang ke Persekaba Badung, teror sudah terlihat sejak awal masuk stadion dengan adanya rekannya mendapat pukulan. Meski mereka sudah unggul duluan, namun suporter semakin beringas.

“Anak-anak sudah tidak mau ke pinggir lapangan, saya yang saat itu mau lakukan tendangan sudut, tiba-tiba mendapat lemparan dari arah tribun, dan pas mendarat di kepalaku yang mengakibatkan bocor dan berlumuran darah,” papar Irsyad mengenang insiden di Stadion Gelora Samudera Kuta, Bali.

Itulah yang dialami Irsyad Aras, anak desa dari Polmn yang menjadi bintang lapangan hijau bersama PSM Makassar.

Timnas dan Liga Champions Asia

Bersama PSM Makassar, Irsyad Aras dua kali ikut Liga Champions Asia (LCA). Pertama tahun 2004, saat PSM mendampingi Persik Kediri dengan kapasitas Runner-up 2003. Dan kedua, tahun 2005 bersama Persebaya Surabaya, juga sebagai Runner-up 2004.

Namun di dua laga LCA tersebut, PSM Makassar tak bisa berbuat banyak dan hanya sampai di penyisihan grup. Menonjol di Liga Indonesia dan LCA membuat pelatih timnas Indonesia memanggilnya bergabung pada pelatnas Piala Asia 2007, yang dipusatkan di Samarinda.

Namun pada saat itu orang tuanya sakit membuatnya tidak terlalu konsentrasi menjalani pelatnas. Sehingga namanya tidak tercantum dalam 23 orang yang dipersiapkan untuk Final Piala Asia di Jakarta.

Nanti pada Piala AFF Suzuki 2008, Irsyad kembali mendapat panggilan dari Benny Dollo, pelatih PSSI, untuk memperkuat Timnas Merah Putih bersama rekannya dari PSM Makassar Syamsul Chaeruddin.

Hengkang ke Tiga Klub

Musim 2010/2011, Irsyad Aras akhirnya meninggalkan PSM Makassar. Klub yang membesarkan namanya, dan bergabung dengan Persisam Putra Samarinda.

Satu musim di Tim ‘Pesut Mahakam’, Irsyad mendapat panggilan dari Persela Lamongan. Bersama ‘Laskar Joko Tingkir’, dia juga semusim disana dan mengakhiri petualangannya di kompetisi IPL bersama Arema Malang.

Pulang Kampung

Dualisme kompetisi antara IPL dan ISL membuat industri sepakbola Indonesia kala itu jadi lesu. Irsyad Aras yang di akhir karirnya bermain di IPL bersama Arema Malang, memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Kelurahan Darma, Polman.

Bersama istrinya, Hj. Hasdiana dan lima orang anaknya: Nayla Azzahra, Vilsa Zahrani, Qalisah Atifa, Muhammad Afzal dan Hadijah Latis, pesepakbola yang baru saja menunaikan ibadah haji bersama istrinya di tahun 2019 itu, memilih berwirausaha dengan mendirikan sarang burung walet setelah usaha ayam petelurnya tidak produktif lagi.

“Di masa pensiun, saatnya bersama keluarga dinda, saya sudah merasa nyaman begini,” ungkap pemain yang di masa emasnya banyak berinvestasi seperti membeli area persawahan dan lokasi perkebunan.

“Buat adik-adik yang ingin menjadi pemain sepakbola, latihanlah dengan serius, jangan asal-asalan. Fokus dan disiplin, karena kunci kesuksesan menjadi pemain tergantung dari latihan kita,” kuncinya. (***)

Komentar

News Feed