oleh

Indonesia Resmi Resesi

INDONESIA resmi menjadi negara yang mengalami resesi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga minus 3,49 persen.

Oleh: Muhammad Mitsaq Zamir (Statistisi Pertama BPS Kababupaten Mamasa)

Sebelumnya, di kuartal kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga bernilai negatif di angka minus 5,32 persen. Pertumbuhan ekonomi yang bernilai negatif atau terkontraksi selama dua kuartal berturut-turut membuat Indonesia resmi menyandang status resesi untuk pertama kali sejak tahun 1999 atau 21 tahun silam.

Selain Indonesia, sejumlah negara termasuk negara adidaya sekelas Amerika Serikat juga telah lebih dulu merasakan resesi.

Lalu apa bedanya resesi dengan krisis ekonomi? Menurut ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bima Yudhistira, konsep resesi berbeda dengan krisis. Resesi adalah keadaan dimana pertumbuhan ekonomi tumbuh negatif selama dua periode berturut-turut. Selain itu, resesi juga adalah sebuah indikasi turunnya daya beli masyarakat secara umum dan meningkatnya angka pengangguran.

Sementara, krisis ekonomi adalah situasi dimana terjadinya penurunan beberapa indikator ekonomi. Misalnya, krisis finansial berarti yang turun adalah sektor keuangan, nilai tukar rupiah, hingga kinerja perbankan. Sehingga tidak perlu menunggu pertumbuhan ekonomi tumbuh negatif di dua kuartal untuk menjadi krisis, karena satu kuartal negatif pun sudah bisa dikategorikan sebagai krisis.

Sehingga dampak yang dirasakan dari terjadinya resesi akan jauh lebih besar dan lebih luas dibandingkan krisis. Selain itu, dari sisi waktunya pun lebih panjang. Karena krisis hanya berdampak pada beberapa sektor ekonomi, namun resesi dampaknya dapat dirasakan lebih merata di seluruh sektor ekonomi baik sektor finansial maupun sektor riil. Oleh karena itu dapat dikatakan, resesi lebih berbahaya bagi perekonomian dibandingkan krisis.

Krisis yang terjadi biasanya hanya parsial, yaitu hanya berdampak ke beberapa sektor. Seperti krisis 2008. Namun saat itu dampaknya tidak begitu menyebar ke sektor lain, karena saat itu sektor UMKM masih cukup menopang ekonomi saat itu. Buktinya berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi saat itu masih tumbuh sebesar 6,1 persen.
Resesi yang terjadi saat ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah guncangan ekonomi yang terjadi karena pandemi Covid-19. Selain itu, terjadinya deflasi secara terus menurus juga berkontribusi besar terhadap terjadinya resesi.

Berdasarkan data BPS, selama tiga bulan berturut-turut (Juli, Agustus, September) Indonesia mengalami deflasi. Deflasi yang terjadi secara berturut-turut dan terus menerus mengindikasikan tingkat konsumsi rumah tangga sebagai penopang terbesar perekonomian Indonesia juga mengalami penurunan.

Hal ini juga berarti terjadi penurunan pada daya beli masyarakat secara umum. Menurunnya tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat akan berdampak pada menurunnya permintaan barang dan jasa. Sehingga produsen akan menurunkan tingkat produksi mereka. Pada akhirnya akan berdampak pada pengurangan jumlah karyawan yang dipekerjakan oleh perusahaan, sehingga akan meningkatkan angka pengangguran.

Berdasarkan hasil survei Angkatan kerja nasional (SAKERNAS) Agustus yang dilakukan oleh BPS, jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2020 adalah sebanyak 9,77 juta jiwa. Angka ini meningkat 37,61 persen jika dibandingkan jumlah pengangguran Agustus 2019 yaitu sebanyak 7,10 juta jiwa.

Selain meningkatnya angka pengangguran, hal lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya angka kemiskinan. Hal ini dikarenakan masih banyaknya penduduk yang tergolong kelompok rentan miskin dan hampir miskin.

Menurut direktur eksekutif Center Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, setidaknya ada 67 juta penduduk Indonesia yang terancam jatuh miskin bila wabah ini tak segera tertangani. Mereka adalah golongan masyarakat golongan hampir miskin dan rentan miskin. Jumlah tersebut sudah mencapai tiga kali lipat dari jumlah masyarakat miskin Indonesia yang sebanyak 26,42 juta jiwa. Artinya jika dampak ekonomi yang disebabkan oleh wabah ini semakin berlarut-larut dan tidak segera tertangani, maka otomatis jumlah penduduk miskin Indonesia akan bertambah sangat drastis.

Untuk itu, pemerintah perlu memberikan bantuan atau stimulus yang tepat sasaran. Adanya anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dianggarkan khusus untuk menghadapi dampak covid-19 diharapkan dapat menopang perekonomian yang terguncang akibat pandemi ini.

Bantuan usaha bagi sektor informal atau UMKM dan bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan tetap harus menjadi prioritas utama, demi mendorong kembali aktivitas masyarakat yang berdampak pada ekonomi. Harapannya, ekonomi dapat tumbuh positif di kuartal IV, wabah ini segera berakhir dan vaksin dapat segera ditemukan. (***)

Komentar

News Feed