oleh

Implementasikan Rencana Tata Ruang Berbasis Mitigasi Bencana

GEMPA skala besar dari tahun 1800-2000, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulbar, terjadi sedikitnya empat kali di Sulbar.

Oleh: Ir. Rafid Mahful, S.T., M.Eng., IAP
-Ketua Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia Sulbar
-Dosen Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Unsulbar
-Magister of Urban Engineering and Economics, Kyushu University, Japan

Bahkan, dua diantaranya menimbulkan gelombang tinggi tsunami. Yakni pada 11 April 1976 dan 23 Februari 1969. Di awal tahun 2021, catatan gempa berskala besar ini bertambah, setelah menghancurkan sejumlah kawasan perkotaan Mamuju pada Januari lalu.

Implementasikan Rencana Tata Ruang Berbasis Mitigasi Bencana

Gempa berkekuatan magnitudo 6,2 yang mengguncang Kota Mamuju dan sekitarnya, merubuhkan sejumlah bangunan pemerintahan, pemukiman warga serta infrastruktur-infrastruktur publik lainnya.
Berdasarkan dari struktur kawasannya, Sulbar memiliki beberapa potensi bencana alam yang tinggi. Sebut saja gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, cuaca ekstrim, abrasi, serta kekeringan dan kebakaran hutan.

Sehingga, sudah sepantasnya upaya mitigasi bencana dilakukan secara maksimal di Sulbar demi mengurangi resiko bencana yang ditimbulkan. Seperti korban jiwa (kematian), kerusakan sarana dan prasarana umum dan private, perlambatan ekonomi, serta kerusakan sumber daya alam.
Dalam upaya mitigasi bencana siklus penanganan bencana dapat diklasifikasikan menjadi dua tahapan, yaitu pra-bencana dan pasca-bencana.

Pra-bencana adalah upaya yang bersifat pencegahan dan pengurangan resiko ketika bencana terjadi. Dari pembangunan kawasan mengikuti peruntukkan tata ruang provinsi/kabupaten, edukasi masyarakat tentang tanda-tanda bencana dan tanggap darurat, serta menyiapkan sarana dan prasarana tanggap darurat bencana.

Komentar

News Feed