oleh

Ibu Bukan Hanya Sekedar Panggilan

“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”

Oleh: Sulaiha Tahir (Karyawati Perusahaan Swasta)

Penggalan lagu karya SM Mochtar di atas memberi makna, ada sebuah kasih yang tak terhingga sepanjang masa. Ada sebuah pemberian yang tak mengharapkan balasan, serta ada sebuah sinar yang tak pernah lelah menyinari. Begitulah perumpamaan kasih yang diberikan seorang ibu pada anaknya.

Sejarah Peringatan Hari Ibu

Peringatan Hari Ibu Nasional pertama kali dicanangkan Presiden RI Ir. Soekarno pada Ultah ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Bertempat di Gedung Dalem Jayadipuran-Yogjakarta tahun 1959. Kongres tersebut dimaksudkan meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan sebagai jewantahan atas bentuk apresiasi semangat perempuan Indonesia dalam meningkatkan kesadaran bernegara dan berbangsa.

Semangat yang tentu saja terinspirasi oleh perjuangan para pahlawan perempuan Indonesia, seperti RA Kartini, Martha Tiahahu, Cut Nya Dien Nyai dan kawan kawannya.

Kongres yang pada akhirnya mengeluarkan beberapa tuntutan kepada pemerintah kolonial pada masa itu. Tuntutan tersebut adalah sebagai berikut: (1) Syarat menjelaskan arti talak saat akad nikah kepada mempelai wanita. (2) Penambahan sekolah untuk anak anak perempuan. Dan (3) Pemberian tunjangan kepada janda-janda dan anak yaitum piatu.

Kongres ini menjadi penanda keberadaan peran perempuan Indonesia yang sebelumnya hanya domestik, dalam artian anggapan perempuan tidak lebih dan tidak jauh dari dapur, sumur, dan kasur. Pendidikan pun tak dipandang penting karena beranggapan akan berakhir di dapur semata menjadi lebih luas untuk diartikan bahkan ke ranah sosial.

Selain hal tersebut, kongres ini juga menghasilkan organisasi Perikatakan Perempuan Indonesia (PPI) yang menghimpun organisasi perempuan lokal maupun organisasi perempuan dari berbagai golongan.
Hari dilaksanaannya kongres tersebut sekarang diperingati sebagai Hari Ibu, dan hingga kini dikenal masyarakat sebagai Hari Ibu. 22 Desember menjadi penanda Hari Ibu.

Ramai-ramai pada tanggal tersebut semua akan berbondong-bondong meluapkan rasa cintanya kepada ibunya. Ada yang memasang foto di sosial media, memberi bunga dan berbagai metode lainnya untuk meluapkan rasa cinta dan hormat pada ibu.

Meskipun kita semua menyadari, Hari Ibu tak mutlak hanya jatuh pada 22 Desember saja, Hari Ibu seyogyanya ada di setiap hari dan terwujud nyata dalam sikap hormat dan memuliakan ibu. Sebab darinyalah bersumber semua doa-doa yang utus menembus langit. Peranannya sungguh tak bisa digantikan atau ditukarkan dengan hal apapun, dan bahkan sangat tak seserhana pangilannya yaitu ibu.

Makna Panggilan Ibu

Sesunguhnya perihal ibu adalah tentang panutan, sosok yang memberi pengaruh kuat terhadap diri atau yang lainnya. Itu sebabnya panggilan ibu tidak hanya terbatas pada wanita yang telah memiliki anak atau panggilan pada orang tua perempun melainkan juga terhadap bentuk yang lain. Misalnya ibu dosen, Ibu jari serta ibukota.

Masing-masing merupakan pemberi pengaruh. Sehingga ibu menjadi sosok yang lebih luas untuk untuk didefenisikann. Ibu bukan sekedar panggilan kehormatan, bukan pula hanya sebagai panggilan untuk wanita berumur. Bukan pula sekedar wanita yang iklhas menghabiskan waktu membersarkan kita. Ibu adalah dia yang keberadaanya wajib kita perhitungkan.

Namun, mungkin kita semua akan bersepakat bahwa, interpretasi kata ibu sebagai sosok wanita yang mengandung, menyusui, melahirkan dan tak hanya berhenti pada ketiga awalan ‘m’ di atas. Tapi juga lanjut pada merawat dan mendidik, memiliki strata (baca: posisi) yang berbeda dalam hati setiap anaknya dibandingkan dengan bentuk ibu lainnya. Karena darinyalah bersumber segala kasih sayang dan doa. Doa yang utus menembus langit . Dermaga tempat berlabuh ketika lelah, tempat menumpahkan ketidaktahuan dan tempat berlindung setelah Sang Pencipta.

Terima kasih untuk Ibu

Kehadiran kita di dunia tak pernah lepas dari keikhlasan seorang ibu untuk mengandung, menerima semua perubahan hormon pada tubuhnya, perubahan volume tubuh karena mengandung anaknya.

Keikhlasan itupun berlanjut pada perjuangan bertaruh nyawa melahirkan kita ke dunia, memberi kasih sayang terbaik, dan pendidikan terbaik. Ibu adalah sumber dari generasi bangsa, darinyalah lahir generasi-generasi pelanjut bangsa.

Ibu adalah sosok wanita kuat, seseorang yang maju di garda terdepan untuk anaknya. Tangannya mampu merawat 10 orang anak sekaligus, namun terkadang 10 orang anak tak mampu mewawat seorang Ibu.
Ibu seorang yang akan selalu khawatir tentang anaknya, dan seseorang yang akan selalu memiliki telinga hangat untuk mendengar tanpa menghakimi.

Peringatan Hari Ibu tak tepat bila hanya diperingati untuk mengenang jasa ibu. Namun, Hari Ibu adalah titik kita akan sadar bahwa peran ibu meski seorang perempuan tak layak diresesifkan dengan seorang laki-laki yang mencari nafkah.

Peringatan Hari Ibu adalah momentum kesadaran untuk memahami hak antara laki-laki dan perempuan bahwa tak selayaknya hanya dipahami perempuan. Seorang laki-laki juga perlu memahami agar praktek patriarki tak terjadi dengan bebas di masyarakat. Berikan kebahagiaan pada ibu dengan mengucap terima kasih atas semua jasa-jasanya. (***)

Komentar

News Feed