oleh

Hijrah; Bertekad Lebih Baik

SECARA bahasa, Hijrah bermakna meninggalkan hal yang buruk kepada hal baik. Setiap kali seseorang meninggalkan hal-hal yang akan berdampak buruk baginya dan bagi orang lain, maka saat itu dia tengah berhijrah.

Sejatinya, hijrah tidak harus menunggu sampai datangnya 1 Muharram. Tapi hijrah dapat dilakukan tiap hari, tiap pekan, dan tiap bulan. Bahkan, tiap saat. Sabda Nabi Muhammad SAW bahwa manusia dinamai insan karena kesalahan dan kekhilafan tak pernah lepas dari dirinya.

Kendatipun tabiat dasar manusia selalu khilaf dan salah, tapi manusia punya akal dan hati yang punya peran besar memantapkan komitmen menjadi manusia lebih baik. Oleh karena itu, setiap hijrah semestinya ada tekad kuat untuk menjadi lebih baik.

Ada beberapa aspek dalam hidup yang segera dilakukan hijrah atasnya, Yaitu, pertama, berpindah dari tempat yang sulit melaksanakan ajaran agama ke tempat yang mudah melaksanakan ajaran agama.

Seseorang yang baru membangun rumah, maka yang utama menjadi pertimbangan adalah dengan siapa kita bertetangga. Tetangga merupakan bagian dari masyarakat yang akan hidup dan selalu berinteraksi dengan kita setiap saat.

Tetangga bisa membentuk suatu masyarakat menjadi baik, atau sebaliknya malah lebih buruk. Kalau ternyata kita berada di suatu tempat yang sulit melaksanakan ajaran agama dengan baik, maka saat itulah waktu yang tepat untuk berhijrah mencari tempat yang lebih baik dan memungkinkan melaksanakan ajaran agama dengan lebih baik.

Kedua, berpindah dari kondisi buruk ke kondisi lebih baik. Boleh jadi seseorang berada pada kondisi lingkungan yang buruk. Keadaan di wilayahnya sangat rentan merusak agama dan tatanan sosial. Pergaulan di masyarakat nyaris tidak ada lagi batas-batas ajaran agama, orang berbuat semaunya saja tanpa mengindahkan norma susila dan etika agama.

Pada kondisi seperti itu, hijrah ke tempat yang kondisinya lebih baik merupakan pilihan tepat. Tentu setelah mempertimbangkan dampak buruknya bagi diri dan keluarga bila tetap bertahan di tempat tersebut.

Kata orang bijak, berada di tempat para perampok, walaupun tidak ikut merampok setidaknya tertuduh bagian dari mereka. Sebaliknya, berada di kampung para ulama, kendatipun bukan ulama, tetapi setidaknya kita dikategorikan bagian dari ulama.

Ketiga, berpindah dari kebiasaan buruk kepada kebiasaan baik. Setiap bulan hijrah tiba, kita berkomitmen lebih banyak berguna kepada sesama manusia, berkomitmen meninggalkan sifat malas ke sifat rajin, berkomitmen menjadi ahlu masjid (hati selalu tertambat untuk sujud di karpet adem masjid) dan berkomitmen menjadi ahlu sedekah (membudayakan bersedekah kapan dan dimana saja serta dalam keadaan lapang atau sempit). Walhasil, setiap bulan Muharram tiba, tekad berhijrah untuk lebih baik terus dirawat dan tingkatkan. (***)

Komentar

News Feed