oleh

Harga BBM Pertamax Turun Lagi

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax series mulai kemarin, Sabtu (1/2) pukul 01.00 Wita. Penurunan itu sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah dunia.

Dikutip dari situs resmi PT Pertamina (Persero), harga Pertamax untuk wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara turun Rp200. Dengan demikian, harga semula dari Rp 9.200/liter menjadi Rp 9.000/liter.

Selain DKI Jakarta, harga Pertamax seebsar Rp9.000 per liter juga berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Bali, NTB dan NTT.

Sedangkan penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp9.200 per liter terjadi di Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Pulau Kalimantan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Untuk Provinsi Riau, Kepulauan Riau dan Batam harga BBM jenis Pertamax menjadi Rp9.400 per liter. Kemudian wilayah DKI Jakarta, Pertamax Turbo juga mengalami penyesuaian dari harga semula Rp9.900 menjadi Rp9.850 per liter.

Pertamina Dex tetap Rp 10.200 per liter, kemudian jenis Dexlite tetap Rp9.500 per liter dan Pertalite tetap Rp7.650 per liter.

“PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) Umum dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM 187K/10/MEM/2019,” tulis Pertamina dalam situs resminya, dikutip, Sabtu (1/2).

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, harga baru BBM yang berlaku di beberapa daerah bisa berbeda karena dipengaruhi perbedaan besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) di masing-masing daerah.

Fajriyah mencontohkan untuk wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, harga BBM umum jenis Pertamax mengalami penyesuaian dari sebelumnya Rp 9.200 menjadi Rp 9.000 per liter.

“Untuk Pertamax Turbo disesuaikan harganya dari sebelumnya Rp 9.900 menjadi Rp 9.850 per liter.Adapun harga BBM lainnya seperti pertalite dan solar tidak mengalami perubahan,” terangnya.

Fajriyah menambahkan, bahwa penyesuaian harga BBM umum tersebut dilakukan Pertamina dengan tetap mengacu pada formula yang tercantum pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM 187K/10/MEM/2019, tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar, yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.

“Penyesuaian harga BBM dapat dilakukan secara berkala dan tergantung faktor-faktor penentu harga, salah satu faktornya adalah harga minyak dunia,” ujarnya.?

Selain itu, PT Pertamina (Persero) juga akan mengubah mekanisme transaksi pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini untuk menghindari kebakaran akibat radiasi telepon seluler saat transa?ksi nontunai diterapkan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Direktur Pemasaran dan Retail Pertamina Mas’ud Khamid mengatakan, Pertamina sudah mengarah pada transaksi nontunai untuk pengisian BBM yang menggunakan media telepon pintar (smart phone) dengan aplikasi MyPertamina.

“Kenapa pakai MyPertamina karena ini jadi payung interaksi dengan pelanggan,” kata Mas’ud.

Menurut Mas’ud, Pertamina telah mengantisipasi ?keselamatan penggunaan smartphone yang berisiko memicu kebakaran akibat radiasi sinyal saat melakukan transaksi nontunai pengisian BBM di SPBU.

”Jadi kalau di luar negeri itu bayar dulu baru isi BBM, bayarnya masuk ke toko,” ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Mas’ud, cara tersebut dengan mengubah mekanisme transaksi pada SPBU, yaitu memberikan tempat khusus untuk transaksi pembelian BBM. Sehingga, transaksi tidak lagi dilakukan di area pengisian BBM.

“Setelah melakukan transaksi kendaraan baru bisa melakukan pengisian BBM. Jadi enggak ada cerita saya beli isi BBM full tank itu enggak ada. Jadi harus sebut angka, saya beli BBM sekian liter. Bayar dulu baru isi,” pungkasnya. (der/fin)

Komentar

News Feed