oleh

Harga Anjlok, Petani Mengeluh

TOPOYO – Pada puncak panen jagung,di Mamuju Tengah (Mateng) harga malah anjlok. Petani merasa biaya produksi tak sebanding dengan nilai jual hasil panen.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi ini, harapan kami harga pembelian makin naik atau tetap di HPP Rp 3500. Tapi kenyataa harga berada di angaka Rp.2500 per kilogram. Tentu ini tak sebanding dengan biaya produksi kami,” KATA salah seorang petani jagung di Tobadak, Sabran, Kamis (16/1).

KATA SABRAN, Agustu 2019 lalu, harga jagung masih di atas Rp 4000 per kilogram, namun menjelang akhir tahun, harga makin mengalami penurunan.

“Sebelum menanam kami menghitung, sehingga kami bisa hitung untung ruginya disetiap pergeseran harga,” tutur Sabran.

Sementara petani jagung di Pangale, Ruslan, juga mengeluhkan rendahnya harga beli jagung kering oleh pedagang. Padahal sampai saat ini tak ada alasan yang disampaikan oleh pedagang, mengapa harga jagung anjlok.

“Kalau kami bertanya, mereka mengatakan, ada peningkatan biaya distribusi sehingge mempengaruhi harga beli. Namun, kami tak diberitahu, biaya distribusi yang naik, apanya” keluh Ruslan.

Untuk itu, Ruslan berharap kiranya harga jagung kembali normal, pada batas harga terendah yang ditetapkan dalam HPP Jagung, agar petani bisa merasakan hasil panen mereka dengan baik. (tur/jsm)

Komentar

News Feed