oleh

Haji Meong

-Kolom-1.060 views

SETIAP hari raya Idul Adha. Yang bersamaan dengan puncak ibadah haji di Tanah Suci. Identik dengan pertambahan jumlah umat Islam. Yang telah menunaikan rukun Islam kelima. Identik pula dengan pertambahan umat Islam yang bergelar haji. Khususnya di Indonesia.

Sudah dua tahun pandemi Covid-19. Melanda hampir seluruh belahan dunia. Sudah dua tahun pula musim haji berlalu. Tanpa jamaah haji dari Indonesia. Yang setiap tahun mencapai ratusan ribu orang. Yang telah bertahun-tahun menanti. Bersabar antre menunggu. Untuk mewujudkan niat mengunjungi Baitullah di Makkah. Lalu kembali ke Tanah Air menyandang gelar haji. Yang menjadi kebanggaan tersendiri. Karena secara lahiriah telah tuntas melaksanakan semua rukun Islam.

Menunaikan ibadah haji adalah kerinduan setiap umat Islam. Lalu kembali dengan selamat ke Tanah Air. Selain membawa aneka macam oleh-oleh Tanah Suci. Sejatinya juga disertai perubahan sifat, karakter, dan perilaku menjadi lebih baik. Menjauhi perbuatan dosa. Merugikan orang lain. Menzalimi, mengambil yang bukan haknya karena keserakahan.

Sayangnya, gelar haji bagi sebagian orang tidak lebih dari sekedar formalitas. Tidak disadari sebagai beban yang bermakna tanggung jawab moral. Untuk selalu menjaga kesucian gelar haji. Dengan perilaku yang bermanfaat dan terukur. Agar tidak menodai predikat sebagai haji. Sebagai pribadi yang telah melengkapi rukun Islam. Bersimpuh di depan Ka’bah memohon pengampunan dosa.

Setiap kepulangan jamaah haji. Saya selalu teringat cerita kucing naik haji. Dongeng yang relevan menjadi refleksi setiap musim haji. Alkisah, seekor kucing baru pulang berhaji. Mengikrarkan dirinya sudah bertobat. Tidak akan mengganggu sesama hewan.

Komentar

News Feed