oleh

Gen Z dan Fenomena Lost Generation

UNITED Nations Children’s Fund (Unicef) mengingatkan tentang ancaman lost generation (generasi yang hilang) karena pandemi virus corona yang terus membahayakan pendidikan, gizi dan kesehatan anak-anak.

Oleh: Adira, S.Si (Praktisi pendidikan dan Mahasiswa PPS UNM)

Gen Z dan Fenomena Lost Generation

Banyak ahli memprediksi terjadinya lost generation yang akan melanda negeri, jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini terus berlanjut. Sementara, sistem pendidikan nasional ditengarai tidak siap menghadapi situasi ini.

Sistem pendidikan nasional kita tak dibangun untuk menangani kejadian pandemi. Apalagi pandemi berkepanjangan dan tidak tahu kapan berakhir. Misalnya bagaimana model pembelajaran yang sesuai belum pernah ada atau ditemukan. Demikian pendapat guru besar ITS, Prof Iwan Vanany ST, MT, Ph.D, sekaligus sebagai wakil ketua dewan pendidikan I Jatim.

Berbagai polemik menghadang “Generasi Z” atau disingkat Gen Z. Generasi yang dibesarkan dengan kecanggihan teknologi ini, sebagian besar mengalami masalah kecanduan serius. Ada pula yang stres karena efek penggunaan gadget dalam durasi panjang. Bahkan, ada yang mengakhiri hidup dengan tragis karena kelelahan dengan tugas PJJ. Dampak buruk penggunaan gadget bagi kesehatan tubuh dan dampak psikososial menjadi ancaman nyata untuk masa depan generasi.

Arus informasi yang begitu deras, juga sangat sulit dibendung. Bahkan, masuk tanpa sekat dalam seluruh dimensi kehidupan. Bak menelan simalakama, para orang tua pun harus merelakan putra-putrinya menggunakan gadget sepanjang hari. Padahal, tayangan pornografi dan kekerasan seringkali menjadi menu utama yang dikemas menarik dalam berbagai tayangan youtube dan game online.

Di sisi lain, sebagian masyarakat kecil tak mampu mengakses pendidikan daring karena keterbatasan fasilitas. Apalagi dengan menurunnya pendapatan masyarakat akibat pukulan wabah. Mereka terseok untuk kebutuhan lambung tengah. Alih-alih memikirkan kuota internet, tetap berdiri tegak dalam bayang-bayang PHK itu sudah sangat cukup.

Ancaman Lost Generation

Lost generation atau generasi hilang adalah istilah yang muncul setelah perang dunia I. “Hilang dalam konteks ini mengacu pada semangat, bingung, mengembara, tanpa arah” dari banyak orang yang selamat pada periode pasca perang.

Saat disematkan pada kondisi pandemi ini, makna kata “hilang” bisa diartikan sebagai generasi yang bingung dan kehilangan arah.

Terjadinya lost generastion karena pandemi, memang tidak mustahil. Namun, kondisi pandemi sebenarnya hanya pemantik. Sebelumnya, kondisi generasi kita memang sudah terbelit dengan beragam masalah karena penerapan sistem pendidikan sekuler.

Sistem pendidikan sekuler memisahkan pelajaran umum dari pelajaran agama. Padahal, dari pelajaran agama akan terbentuk aqidah atau pandangan hidup yang benar sekaligus menjadi landasan berpikir dan bertindak.

Tujuan pendidikan sekuler juga lebih berorientasi pada lulusan siap kerja. Sikap atau karakter hanya sebagai pelengkap tuntutan penilaian kurikulum. Tidak mengherankan jika pelajar hari ini rata-rata berpikir pendek, sekedar mendapat nilai bagus agar dapat diterima di jurusan bergengsi yang dibutuhkan pasar tenaga kerja.

Paradigma Pendidikan Islam

Islam memiliki pandangan khas tentang pendidikan. Pendidikan dikategorikan sebagai kebutuhan dasar rakyat. Setiap individu memiliki kesadaran yang benar tentang kewajiban menuntut ilmu.

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap mulim”.(HR. Ibnu Majah)
Menuntut ilmu dipandang sebagai ibadah kepada Allah SWT. Para penuntut ilmu dalam masa kekhilafaan Islam larut dalam aktivitas menuntut ilmu. Mereka meyakini janji Allah SWT, bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.

Dengan motivasi itu, dari peradaban Islam telah terlahir para ilmuwan berkepribadian Islam yang andal dalam berbagai bidang ilmu. Motivasi ini pula yang menjadikan peradaban Islam sebagai peradaban tertinggi di dunia.

Negara menerapkan pendidikan berlandaskan aqidah Islam. Tujuan utama pendidikan adalah mewujudkan kepribadian Islam pada diri anak. Bersamaan dengan itu terbentuk individu yang menguasai tsaqafah Islam dan sains untuk digunakan mengarungi kehidupan. Dengan bekal itu setiap individu akan memakmurkan bumi dengan penuh tanggung jawab.

Kurikulum pendidikan Islam dirancang sistematis berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Metode pendidikan dibuat dengan metode talqian fikriyan, yang mengajak berpikir, tidak sekedar transfer ilmu yang tidak memberi efek pada perbuatan. Model pembelajaran bisa dikreasikan semenarik mungkin karena didukung oleh fasilitas lengkap yang disediakan negara serta keseriusan guru-guru yang ahli dan amanah.

Selain negara, keluarga dan masyarakat juga aktif menopang proses pendidikan. Orang tua tidak berlepas tangan dalam proses pendikan. Bahkan sebaliknya, menjadi madrasah pertama dan utama.

Demikian pula masyarakat akan ikut andil mendukung terwujudnya suasana pendidikan yang baik. Sinergi ketiga pilar tersebut menjadi penyokong terselenggaranya pendidikan yang terarah dan simultan. (***)

Komentar

News Feed