oleh

Gempuran PHK Pascabencana

MAMUJU – Gejolak ekonomi pasca gempa bumi diprediksi memicu terjadinya gempuran Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor.

Gempuran PHK itu akibat lesunya dunia usaha karena pandemi Covid-19 dan ditambah bencana gempa bumi yang terjadi dua bulan lalu.

Meski belum ada data soal berapa jumlah karyawan yang di PHK pasca gempa. Namun hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya minimarket, toko dan usaha-usaha lain di Mamuju yang tutup karena bangunannya rusak parah.

Beberapa perusahaan yang tetap beroperasi pun juga tetap mengurangi jumlah karyawan dengan alasan efisiensi.

“Jelaslah ada dampak yang di PHK banyak. Karena banyak kegiatan perusahaan yang bergerak seperti biasanya,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sulbar Bahtiar, Minggu 21 Maret 2021.

Kepala Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Disnaker Sulbar Syahid mengungkapkan, tahun 2020 ada delapan orang yang terkena PHK akibat pandemi Covid-19. Tujuh orang di Mamuju dan satu orang di Polman.

“Kalau pascagempa 15 Januari 2021 sampai saat ini, belum ada perusahaan atau karyawan yang melapor jika terkena PHK,” sebut Syahid.

Meski demikian, Syahid mengaku jika potensi PHK atau dirumahkan pasti ada pasca gempa. Namun, jumlahnya tidak bisa diprediksi. “Kondisi perusahaan dan kesepakatan antara perusahaan atau pemberi kerja dengan pekerja juga menjadi faktor yang berpengaruh,” jelas Syahid.

Saat ini, lanjut Syahid, belum ada instruksi melakukan pendataan usaha terdampak gempa. Kalau pun ada, yang berkompeten di disnaker adalah bidang Hubungan Industrial dan dinas perdagangan dan koperasi.

“Sebetulnya kami berharap sudah ada aksi dan data dari Pemkab Mamuju dan Majene sebagai daerah terdampak gempa,” tandasnya. (ade)

Komentar

News Feed