oleh

Gempa Mamuju Tengah, Permulaan atau Susulan? Ini Penjelasan BMKG

MAMUJU – Gempa bumi berkekuatan 5.0 magnitudo mengguncang Kabupaten Mamuju Tengah, Minggu 26 September 2021, pukul 17.32 Wita. Gempa ini juga terasa hingga ke Mamuju.

Lalu seperti apa fakta mengenai gempa tersebut? Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono memberikan ulasan lengkap yang disampaikannya pada pukul 21.23 Wita, Minggu 26 September 2021.

Menurut Daryono, gempa terjadi pada sore hari, pukul 16.32 WIB atau 17.32 Wita dengan magnitudo 5,0. Selanjutnya dimutakhirkan menjadi magnitudo 4,9.

Episenter gempa terletak pada koordinat 2,29° LS dan 119,19° BT, tepatnya di darat pada jarak 39 kilometer arah baratdaya Mamuju Tengah, dengan kedalaman hiposenter 36 kilometer.

Ia menjelaskan, gempa ini merupakan jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang diduga kuat dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Mamuju (Mamuju thrust) dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Gempa ini dirasakan sangat kuat di Mamuju Tengah dengan guncangan mencapai skala intensitas III-IV MMI, menyebabkan pintu dan jendela rumah berbunyi hingga banyak warga ketakutan dan lari berhamburan keluar rumah. Sementara itu di Mamuju gempa juga dirasakan dalam skala intensitas III MMI, dimana guncangan dirasakan seakan akan ada truk berlalu.

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.
Gempa ini tidak berpotensi tsunami karena episenternya terletak di darat dengan kekuatan yang relatif kecil untuk menjadi gempa pemicu tsunami.

Hasil monitoring BMKG hingga malam ini pukul 19.43 WIB atau 20.43 Wita, belum terjadi aktivitas gempa susulan (aftershocks).

Episenter gempa ini terletak berdekatan dengan pusat gempa merusak yang terjadi pada 6 September 1972 dengan magnitudo 5,8 dan gempa merusak pada 8 Januari 1984 magnitudo 6,7.

Disebutkan Daryono, gempa ini sulit diprediksi, apakah merupakan gempa pendahuluan (foreshock) atau bukan, karena aktivitas gempa kuat memang belum dapat diprediksi.

Wilayah Sulbar memang dikenal sebagai kawasan seismik aktif dan kompleks, karena terdapat jalur lipatan dan sesar naik (fold and thrust belt) di lepas pantai dan wilayah pesisir.

Keberadaan Sesar Naik Mamuju (Mamuju Thrust) selama ini menjadi penyebab banyaknya aktivitas gempa signifikan dan merusak seperti yang pernah terjadi pada 23 Desember 1915, 11 April 1967 (Magnitudo 6,3), 23 Februari 1969 (Magnitudo 6,9), 6 September 1972 (Magnitudo 5,8), 8 Januari 1984 (Magnitudo 6,7), 7 November 2020 (Magnitudo 5,3), dan 15-16 Januari 2021.

Sejarah mencatat bahwa di pantai barat Sulbar, peristiwa tsunami sudah terjadi sebanyak tiga kali yaitu pada 8 Januari 1984 (Magnitudo 6,7), 23 Februari 1969 (Magnitudo 6,9), dan 8 Januari 1984 (Magnitudo 6,7).

Upaya mitigasi bencana gempa dan tsunami, baik struktural maupun non struktural secara konkret harus diwujudkan untuk menekan risiko bencana sekecil mungkin yang dapat terjadi di masa yang akan datang. (ham)

Komentar

News Feed